Selasa, 22 April 2014

BAB 9


AWAS! KEKAYAAN SEBAGAI SUATU JERAT

       Kekayaan sebagai suatu jerat tergambar dalam peristiwa; Orang muda yang kaya.

       Orang muda yang kaya itu sebenarnya mempunyai keinginan yang baik, saat datang kepada Yesus ia meminta petunjuk bagaimana caranya memperoleh hidup yang kekal melalui pertanyaan: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Mat 19:16).

       Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Mat 19:17.

       Pertanyaan; perbuatan baik apakah yang harus kulakukan untuk memperoleh hidup yang kekal? Adalah pertanyaan yang serius, maka jawaban Yesus juga serius; turutilah segala perintah Allah.

       Orang muda yang kaya itu ingin mempertegas jawaban Yesus dengan kembali bertanya: “Perintah yang mana?” (Mat 19:18).

       Kata Yesus: “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
       Kata orang muda itu kepada-Nya: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Mat 19:19-20.

       Wow betapa mengagumkan! Orang muda yang kaya itu benar-benar patut diacungi dua jempol. Ia bukan saja serius dalam perkataan, tetapi ternyata ia juga serius dalam perbuatan. Untuk ukuran pelaku firman, ia hampir sempurna dan hampir  tidak ada yang kurang. Itu sebabnya dengan keyakinan yang tinggi ia berani berkata; apa lagi yang masih kurang?

       Kata Yesus kepada-Nya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.”
       Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. Mat 19:21-22.

       Ternyata orang muda yang kaya itu tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang menguasai dan menjadi jerat dalam hidupnya, yaitu jerat kekayaan. Itulah penghalang baginya untuk memperoleh hidup yang kekal!

       Sadarkah anda, bahwa jerat kekayaan itu bagian yang sangat menggoda dalam keinginan manusia? Oleh jerat kekayaan banyak orang yang akhirnya binasa!

       Masih ingatkah anda kisah tentang; Orang kaya dan Lazarus yang miskin? (Luk 16:19-31).

       Orang kaya yang sudah dijerat oleh kekayaannya itu, prinsip hidupnya adalah menikmati “segala yang baik”, selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.

       Gaya hidup orang yang dikuasai jerat kekayaan itu sudah tidak peduli dengan keadaan sekelilingnya. Walaupun setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan, tidak terpikirkan olehnya untuk berbagi, walau hanya sepiring nasi saja kepada Lazarus yang miskin. Sampai-sampai untuk menghilangkan laparnya Lazarus mencari barangkali ada makanan yang jatuh dari meja orang kaya itu. Bukannya mendapat makanan, malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Uih mengenaskan!

       Lalu keduanya mati. Lazarus dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan bapa Abraham. Sedangkan orang kaya itu setelah dikubur, ia menderita sengsara di alam maut. Dalam penderitaannya ia minta belas kasihan, tapi sudah terlambat! Ia sangat kesakitan dalam nyala api yang tak terpadamkan! Setetes air pun yang ia minta sudah tidak bisa lagi ia dapatkan, karena antara orang kaya itu dan Lazarus yang bersama bapa Abraham ada jurang yang tidak terseberangi.

       Ia menyesal tapi sudah terlambat, namun dia teringat masih mempunyai lima saudara yang tinggal di rumah ayahnya. Ia meminta supaya mereka diperingatkan dengan sungguh-sungguh agar jangan sampai mereka nanti masuk ke tempat penderitaan seperti yang ia alami sekarang di neraka!

       Mungkin anda yang sedang membaca buku ini, mengenal salah satu dari lima saudara dari orang kaya yang sedang menderita kesakitan dalam nyala panas api yang tak terpadamkan di neraka tersebut! Peringatkanlah mereka!!!

       Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu! Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat!
       Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir. Yak 5:1-3.

       Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.
       Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya. 1 Tim 6: 17-19.

       Bagi hamba-hamba Tuhan yang lurus hidupnya, maka mereka akan berani memperingatkan orang-orang yang kaya agar mereka tidak sombong- tidak tinggi hati, tidak berharap pada kekayaannya- melainkan kepada Allah. Hamba-hamba Tuhan yang lurus hidupnya berani memperingatkan kepada orang-orang yang kaya, supaya mereka suka berbuat baik dan seterusnya.

       Tetapi bagi hamba-hamba Tuhan yang sudah menjadi hamba uang, mereka tidak berani memperingatkan orang-orang kaya yang tinggi hati dengan tegas, mereka tidak berani menegor, karena mereka takut kehilangan “domba-domba gemuk” tersebut keluar dan pindah kandang! Apalagi mereka sendiri juga sudah mencanangkan, bahwa mereka telah sukses dalam pelayanan dan juga telah menjadi kaya!!!

       Doktrin kemakmuran membuat mata hati mereka menjadi gelap bahkan buta sehingga tidak dapat melihat. Mata hati yang sudah menjadi gelap karena uang atau harta itu seperti yang telah dilakukan oleh Yudas Iskariot, ia memilih menjual Yesus hanya untuk mendapat tiga puluh uang perak, sehingga ia akhirnya harus binasa karena ketamakannya itu! (Mat 26:14-16, Mat 27:3-5).

       Sebenarnya orang-orang kaya pun juga mendapat kesempatan yang sama untuk beroleh keselamatan. Asal mereka diperingatkan dengan benar; mereka berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya. (1 Tim 6:19).

       Jangan lupa, Tuhan itu adil, setiap orang baik kaya maupun miskin diberi hak dan kesempatan yang sama oleh Tuhan untuk beroleh keselamatan. Hanya, seperti contoh orang muda yang kaya itu, kebanyakan orang kaya itu hatinya sudah terjerat oleh kekayaannya sehingga sukar untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

       Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
       Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.” Mat 19:23-26.

       Tentang kekayaan, sesungguhnya sudah sejak dari zaman dahulu firman Tuhan sudah memperingatkan agar manusia jangan bersusah payah untuk menjadi kaya.

       Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini. Kalau engkau mengamat-amatinya, lenyaplah ia, karena tiba-tiba ia bersayap, lalu terbang seperti rajawali. Ams 23:4.

       Firman Tuhan selalu selaras. Bukan kebetulan KHOTBAH DI BUKIT dengan judul perikop “Ucapan bahagia” seperti yang tertulis di dalam Injil Mat5:1-12. Atau sebagai persamaannya yang tertulis di dalam Injil Luk6:20-26 dengan judul perikop “Ucapan bahagia dan peringatan.”

       Di awali dengan kalimat yang dapat menjelaskan; bahwa doktrin kemakmuran yang mengajarkan kekayaan itu langsung terbantahkan!

       Lihatlah kalimat PERTAMA dari ucapan bahagia ini:

       Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Mat 5:2-3.

       Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.” Luk 6:20.

       Itulah ucapan bahagia, kalimat yang pertama, bukan kebetulan, tetapi merupakan disain rancangan Tuhan yang sempurna, dimulai dengan perkataan: Berbahagialah, hai kamu yang miskin, kebalikan dari doktrin kemakmuran yang mengajarkan kekayaan, semakin membuka mata kita bahwa;

       Doktrin kemakmuran itu; Kemunduran, bukan kemajuan!!!

       Doktrin kemakmuran itu; Kesalahan, bukan kebenaran!!!

       Diperjelas lagi dengan doa kepada Bapa di sorga yang diajarkan Yesus kepada murid-murid-Nya, yang kita kenal dengan sebutan “Doa Bapa Kami”, bagaimana cara hidup yang benar dalam berkat pemeliharaan Tuhan.

       Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. Mat 6:11.

       Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya. Luk 11:3.

       Menunjukkan kepada kita bagaimana ajaran yang benar dari Tuhan Yesus, yaitu berdoa untuk setiap hari meminta yang secukupnya saja.

       Jika kemudian apabila kita diberi lebih, itu tentu supaya kita menjadi orang yang murah hati.

       Bandingkan dengan 1 Tim 6:7-8;

       Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.
       Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.

       Sebaliknya, selain ucapan bahagia, Tuhan Yesus juga memberi peringatan:

       Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.
       Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. Luk 6:24-25.

       Nasib orang yang menganggap dirinya kaya dituliskan dalam kitab Wahyu.

       Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas!
       Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. Why 3:15-16.

       Tuhan Yesus tahu segala pekerjaan setiap orang.

       Siapakah mereka yang dimaksud oleh Tuhan Yesus dengan tidak dingin atau tidak panas, alias suam-suam kuku tersebut? Sehingga Tuhan Yesus akan memuntahkannya dari mulut-Nya?

       Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang , miskin, buta dan telanjang. Why 3:17.

       Ternyata mereka yang tidak dingin atau tidak panas, alias suam-suam kuku tersebut adalah orang-orang yang mengaku dirinya kaya, bahkan yang telah memperkaya diri, sehingga tidak kekurangan apa-apa.

       Namun bagaimanakah keadaan mereka yang sebenarnya dihadapan Tuhan?

       Sungguh kasihan, karena mereka tidak tahu, bahwa mereka melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang!

       Selanjutnya Tuhan Yesus menawarkan:

       Maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat. Why 3:18.

       Inilah yang penulis maksudkan dengan menjadi kaya seperti menurut Alkitab, yaitu membeli emas dari Tuhan Yesus, emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya. Hal ini berbicara tentang hidup yang diproses- dimurnikan, seperti emas yang telah dimurnikan dalam api. Demikian juga hidup kita dimurnikan, sehingga kita menjadi kaya.

       Seperti Petrus dan rasul-rasul yang lain, mereka telah dimurnikan dan seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa mereka kaya; mereka menjadi orang-orang yang berkelimpahan dalam segala kasih karunia, berkelebihan dalam pelbagai kebajikan, kaya dalam kemurahan hati, kaya dalam iman, diperlengkapi dengan setiap perbuatan baik. (2 Kor 9:8,11, Yak 2:5, 2 Tim 3:17).

       Pendek kata mereka kaya dalam segala hal yang baik, seperti segala perbuatan baik yang dilakukan Tuhan Yesus kepada banyak orang, demikian pula para rasul kaya dalam segala hal yang baik mengikuti teladan Tuhan Yesus!

      Menjadi kaya saja masih belum cukup, Tuhan Yesus juga menawarkan pakaian putih atau jubah putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan.

       Pakaian putih atau jubah putih itu adalah orang-orang yang sudah melalui proses dimurnikan, yang keluar dari kesusahan yang besar, dan yang telah mencuci jubahnya dalam darah Anak Domba.

       Dan seorang dari antara tua-tua itu berkata kepadaku: “Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka datang?”
       Maka kataku kepadanya: “Tuanku, tuan mengetahuinya.” Lalu ia berkata kepadaku: “Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.” Why 7:13-14.

       Kenakanlah pakaian putih agar jangan tampak ketelanjanganmu yang memalukan, jalanilah proses dimurnikan sekalipun itu harus melewati kesusahan besar. Keluar dari kesusahan yang besar, itu berarti tetap bertahan hidup benar, dan itu sama saja dengan telah mencuci jubah kita dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.

       Selain menjadi kaya, memakai pakaian putih, Tuhan Yesus juga menawarkan agar engkau melumas matamu dengan minyak agar engkau dapat melihat. Yaitu melihat dengan mata hati. Hal itu identik seperti ayat berikut ini:

       Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus. Ef 1:18.

       Kekayaan kemuliaan itu adalah bagian yang ditentukan Tuhan Yesus bagi anda dan saya yang mau terus hidup kudus.

       Semua hal yang ditawarkan oleh Tuhan Yesus tersebut dengan suatu maksud dan tujuan, seperti di ayat selanjutnya;

       Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! Why 3:19.

       Sebagai orang-orang pilihan, tidak ada alasan untuk menolak tegoran dan hajaran yang mendatangkan kebaikan. Sikap hati yang terbuka, akan merelakan diri untuk bertobat.

       Petrus dan rasul-rasul yang lain mereka semua telah melewati proses dimurnikan yang sedemikian rupa, sehingga semakin menuju pada kedewasaan dan kesempurnaan.

       Menuju pada kedewasaan dan kesempurnaan adalah menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, yaitu serupa seperti Yesus.

       Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Rm 8:29. (Penekanan dengan huruf italic dalam ayat tersebut oleh penulis).

       Buku ini semakin mendekati ujungnya tentang penggalian pembelajaran dari kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan oleh Petrus, dan- nilai-nilai berharga yang dapat kita petik dari Petrus sebagai manusia biasa  yang patut untuk diteladani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar