MELEPAS KEHENDAK SENDIRI MENGIKUTI KEHENDAK
TUHAN
Aku berkata kepadamu:
Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan
engkau berjalan kemana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau menjadi tua, engkau
akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa
engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.
Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati
dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus:
“Ikutlah Aku.” Yoh 21:18-19. (Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh
penulis).
Inilah tahapan berikutnya dalam kehidupan Petrus yang satu tahap lagi
meningkat menuju kedewasaan dan kesempurnaan- yaitu; berani melepaskan apa yang ia kehendaki, dan mengikuti apa yang Tuhan
kehendaki!
Sebenarnya tidak mudah bagi Petrus untuk dapat melepaskan
kehendaknya dan menggantinya dengan mengikuti kehendak Tuhan. Karena Petrus
sebelumnya adalah seorang yang memiliki karakter dan kehendak yang sangat kuat.
Jadi ini adalah merupakan tantangan tersendiri bagi Petrus. Itulah tahapan yang
harus dilalui oleh Petrus untuk menuju kepada kedewasaan dan kesempurnaan
dan….. Petrus menurut!
Itulah pilihan yang terbaik! Kehendak Petrus selama ini sudah banyak
menimbulkan masalah. Kini dia mendapatkan yang terbaik, kehendak Tuhan adalah
yang terbaik dan tidak mungkin salah, dan yang pasti membawa kepada kedewasaan
dan kesempurnaan!
Jika anda juga rindu
meningkat menuju kedewasaan dan kesempurnaan, tidak ada hal lain yang dapat
anda perbuat dan tidak ada pilihan yang lain, selain anda melepaskan kehendak
anda sendiri dan menggantinya menurut kehendak Tuhan! Dan yakinlah karena anda
akan mengalami pengalaman-pengalaman yang menakjubkan bersama Tuhan!
Dengan melepaskan kehendaknya
sendiri Petrus berhasil mengalahkan “keakuannya.” Dia menjadi seorang yang
merdeka sekarang. Dia tidak lagi memikirkan masa depannya, dia juga tidak
memikirkan apa yang akan terjadi nanti, dia juga tidak memikirkan bagaimana
caranya dia akan mati, tetapi yang dia tahu kehendak Tuhan pasti yang terbaik
baginya! (2 Tim 2:4).
Menurut kehendak Tuhan,
itulah sekarang yang menjadi tujuan hidup Petrus. Hal itu ia nyatakan melalui
tulisan suratnya.
Supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia,
tetapi menurut kehendak Allah. 1 Pet 4:2.
Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak
Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang
setia. 1 Pet 4:19.
Yesus tahu hati Petrus sudah
bulat mengikuti kehendak-Nya, lalu Ia berkata kepada Petrus: “Ikutlah Aku,”
Ini bukan untuk pertama kalinya Yesus berkata kepada Petrus: “Ikutlah
Aku.” Karena ketika pertama kali bertemu dengan Petrus yang saat itu bersama
saudaranya Andreas, Yesus sudah langsung berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah
Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” (Mat 4:18-19).
Mengapa Yesus mengulangi berkata kepada Petrus: “Ikutlah Aku” justru
pada saat sekarang Petrus dalam keadaan yang benar-benar sudah mantap dan bulat
hatinya?
Mengapa pula Yesus mengulangi berkata kepada Petrus: “Ikutlah Aku”
setelah Ia bangkit dari kematian?
Ini adalah sebuah peneguhan
bagi Petrus! Yesus ingin Petrus mengikuti jejak-Nya, dan memang Petrus
mengikuti jejak-Nya! Untuk hal itu Petrus meneruskan sebagai ajaran melalui surat yang ditulisnya.
Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita
untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti
jejak-Nya. 1 Pet
2:21. (Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).
Yesus ingin Petrus mengikuti jejak-Nya, dan Petrus pun mengikuti
jejak-Nya yaitu:
Jejak penderitaan-Nya! Jejak
teladan-Nya! Jejak kematian-Nya! Jejak kebangkitan-Nya! Jejak kemenangan-Nya!
Jejak keajaiban-Nya! Jejak kemuliaan-Nya!!!
Mari kita pun mengikuti
jejak-Nya!
Yesus mendidik dan membentuk
Petrus melalui tahapan yang tepat. Setelah Petrus tunduk dan mengikuti
kehendak-Nya, selanjutnya Petrus perlu di asah agar pribadinya menjadi lembut.
Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus
sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan
bersama duduk dekat Yesus dan berkata: “Tuhan, siapakah dia yang akan
menyerahkan Engkau?”
Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: “Tuhan, apakah
yang akan terjadi dengan dia ini?”
Jawab Yesus: “Jikalau Aku menghendaki,
supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau:
ikutlah Aku.” Yoh 21:20-22.
Ketika Petrus melihat murid yang dikasihi Yesus yaitu Yohanes sedang
mengikuti mereka, ia berkata kepada Yesus: “Tuhan, apakah yang akan terjadi
dengan dia ini?”
Melalui perkataan Petrus tersebut, inilah tahapan bagi Yesus lebih
lanjut untuk membentuk dan mengasah Petrus agar menjadi pribadi yang lembut dan
tenang. Lihatlah bagaimana jawaban Yesus: “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia
tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Titik.
Itu bukan urusanmu, artinya; jangan mencampuri urusan orang lain! Kenapa
kamu ribut dengan urusan orang lain, uruslah dirimu sendiri! Itulah pesan yang
ingin Tuhan sampaikan, karena pada dasarnya sifat manusia sama seperti yang
dilakukan oleh Petrus, ingin tahu dan ingin mencampuri urusan orang lain, dan
hasilnya? Timbul masalah! Apalagi jika sikap ingin tahu dan sikap ingin
mencampuri urusan orang lain itu dilakukan oleh seorang pemimpin, sungguh tidak
pantas!
Yesus sedang mengajar Petrus agar ia memiliki etika bergaul yang pantas.
Bukankah jika ia mempunyai urusan dan dicampuri oleh orang lain, ia pun tidak
akan senang?
Memiliki sikap etika bergaul yang pantas dan benar adalah ciri-ciri seseorang
yang menuju kedewasaan dan kesempurnaan.
Yesus telah pernah memberi contoh
yang benar dalam peristiwa seorang perempuan yang kedapatan tertangkap basah
berbuat zinah, yang dihadapkan kepada-Nya oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang
Farisi. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah dan hendak
menghakiminya. Dengan alasan, Musa menurut hukum Taurat memerintahkan untuk
melempari dengan batu kepada perempuan-perempuan yang kedapatan berbuat zinah.
Yesus diminta pendapat-Nya, tetapi yang sebenarnya mereka hendak mencobai Dia,
supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk
lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. (Yoh 8:3-6).
Ketika Yesus didesak terus, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata:
“Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama
melemparkan batu kepada perempuan itu.”
Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.
Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang
demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggalah Yesus seorang diri
dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. (Yoh 8:7-9).
Itulah contoh peristiwa bagaimana sikap ahli-ahli Taurat dan orang-orang
Farisi. Kecenderungan suka mencampuri urusan orang lain, akan melahirkan sikap
suka mencari kesalahan orang lain. Dan bila sudah mendapati kesalahan orang
lain, maka muncul sikap menghakimi! Mereka itu adalah orang-orang munafik,
mereka seperti kubur dilabur putih yang bagian luarnya tampak bersih, tapi
bagian dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai kotoran. (Mat 23:27).
Tapi Yesus tahu kebusukan hati mereka. Dengan perkataan: Barangsiapa di
antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada
perempuan itu. Membuat mereka tidak berkutik.
Kemudian Yesus menunjukkan
cara bersikap yang benar.
Lalu Yesus bangkit berdiri dan
berkata kepadanya: “Hai perempuan, di
manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”
Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Aku pun tidak menghukum
engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” Yoh 8:10-11.
Alasan Yesus berkata kepada Petrus: Itu bukan urusanmu.- Supaya Petrus
terhindar dari gaya
hidup dan sikap munafik seperti ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, yang
suka mencampuri urusan orang lain, suka mencari kesalahan orang lain, suka
menghakimi orang lain! (Ingatlah Mat 7:1).
Setelah Petrus di asah dan dibentuk, Yesus melanjutkan perkataan-Nya; Tetapi
engkau: ikutlah Aku.
Petrus pun mengikut Yesus,
sampai akhirnya bersama murid-murid yang lain mereka melihat Yesus terangkat ke
sorga. (Luk 24:51).
Babak baru kehidupan Petrus semakin berlanjut, ia di asah, dibentuk
menjadi semakin halus, semakin lembut, tetapi sekaligus juga menjadi semakin
tajam dalam melakukan maksud dan kehendak Tuhan.
Kita semua telah mengetahui dalam
peristiwa Pentakosta, Petrus menjadi alat yang begitu efektif dan begitu tajam
dalam melaksanakan maksud dan kehendak Tuhan. Perkataan melalui khotbahnya
dipenuhi urapan Roh Kudus, begitu tajam menyentuh hati setiap orang yang
mendengarnya sehingga hasilnya kira-kira tiga ribu orang bertobat. (Kis 2:41).
Kemudian ketajamannya semakin di asah sehingga semakin bertambah tajam.
Khotbahnya di Serambi Salomo membuat jumlah orang yang percaya menjadi dua kali
lipat- bahkan mungkin lebih, karena disebutkan jumlah orang yang percaya
kira-kira menjadi lima
ribu orang laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak-anak. (Kis 4:4).
Ketajaman Petrus bukan saja dalam hal berkhotbah, tetapi juga ketajaman
dalam membedakan bermacam-macam roh, apakah dalam diri jemaat itu memiliki roh
yang tulus dan benar atau roh pendusta.
Pada waktu itu jumlah orang percaya semakin bertambah dan banyak di
antara mereka yang memberi persembahan dan meletakkannya di bawah kaki para
rasul. Semua persembahan yang diberikan dengan hati yang tulus dan dengan
motivasi yang benar itu diterima dan dibagi-bagikan kembali kepada semua orang
menurut keperluan masing-masing. (Kis 4:35).
Tetapi ada sepasang suami istri yang bernama Ananias dan Safira, mereka
juga hendak memberi persembahan namun hati mereka dikuasai oleh roh pendusta.
Di sini ketajaman Petrus dalam membedakan bermacam-macam roh diuji, dan digunakan
dengan sangat tepat.
Tidak sia-sia Yesus membentuk Petrus. Sosok Petrus sekarang adalah sosok
seorang hamba Tuhan yang jujur dan lurus. Yesus membentuk pengikut-Nya dengan
cara yang indah. Yesus menjauhkan pengikut-Nya dari sikap dan gaya hidup seperti orang-orang Farisi dan
ahli-ahli Taurat. Yesus mengajarkan kepada para pengikut-Nya agar jangan
terkena ragi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yaitu kemunafikkan (Mat 16:6,
Mat 23:13). Yesus menjadikan pengikut-Nya sebagai hamba kebenaran, bukan
sebagai hamba uang seperti orang-orang Farisi (Luk 16:13-14).
Ketajaman Petrus dalam
membedakan bermacam-macam roh karena ia hidup benar, maka ia memiliki hati yang
dapat melihat roh yang benar atau roh pendusta. Petrus memiliki karunia untuk
membedakan bermacam-macam roh (1 Kor 12:10).
Ketika Ananias datang memberikan persembahan, Petrus maupun rasul-rasul
yang lain tidak menerimanya.
Tetapi Petrus berkata: “Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga
engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu?
Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan
setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau
merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi
mendustai Allah.”
Ketika mendengar perkataan itu rebahlah Ananias dan putuslah nyawanya.
Maka sangatlah ketakutan semua orang yang mendengar hal itu. Kis 5:1-5.
Demikian juga yang terjadi kepada Safira istri Ananias. Ia pun juga
putus nyawanya karena mereka berdua bersepakat dalam hal yang jahat yaitu
mencobai Roh Tuhan dengan berdusta. (Kis 5:7-11).
Mungkin jika Ananias dan Safira
berdusta kepada manusia, akibatnya tidak akan sefatal itu! Tetapi dalam hal ini
mereka sedang memberi persembahan, berarti mereka sedang berurusan dengan
Tuhan, maka akibatnya nyawa mereka putus melayang!
Tidak banyak hamba Tuhan yang seperti Petrus, yang tidak tergiur melihat
persembahan yang diberikan. Yang tidak silau dengan harta yang ada di depan
matanya.
Kebanyakan sekarang justru sebaliknya, banyak hamba-hamba Tuhan yang
berlaku seperti orang-orang Farisi- yaitu menjadi hamba uang. Yang matanya
menjadi silau jika sudah melihat harta di depan matanya. Yang tidak dapat
membedakan harta yang dipersembahkan, entah datangnya dari mana atau orang yang
memberi persembahan itu sedang berdusta atau tidak. Pokoknya asal ada orang
memberi persembahan dianggap (bahasa rohaninya) berkat Tuhan!
Hamba-hamba Tuhan yang
seperti ini sudah menjadi seperti orang-orang Farisi yang adalah hamba uang.
Hamba-hamba Tuhan yang sudah menjadi hamba uang itu, mata hatinya sudah
tertutup, sehingga tidak dapat melihat atau membedakan bermacam-macam roh.
Hamba-hamba Tuhan yang menjadi hamba uang itu seperti yang dikatakan oleh Tuhan
Yesus, yaitu hamba yang mengabdi kepada dua tuan, mengabdi kepada Allah dan
kepada Mamon (Luk 16:13). Yang kelihatannya melayani Tuhan tetapi hatinya sudah
kepincut condong kepada Mamon, kepada harta.
Hamba-hamba Tuhan yang seperti itu biasanya pandai berdalih untuk
menutupi perbuatannya dengan berkata, bahwa hamba-hamba Tuhan yang pelayanannya
berhasil seperti mereka itu, buktinya hidupnya diberkati sampai berkelimpahan.
Hamba-hamba Tuhan seperti mereka itulah yang menyebarkan doktrin
kemakmuran. Mereka berusaha meyakinkan orang dengan pengajarannya yang seolah
menggunakan firman Tuhan yang ayatnya diambil sepotong-sepotong, seperti, Tuhan
Yesus berkata: Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan
membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam
segala kelimpahan (Yoh 10:10). Dan ternyata memang banyak orang yang berhasil
mereka yakinkan. Nanti penjelasan mengenai ayat sepotong-sepotong yang digunakan
sebagai doktrin kemakmuran tersebut, berikutnya di Bab 8 (Delapan) akan
dijelaskan.
Mari kita buka mata
lebar-lebar, apakah para rasul itu mereka adalah orang-orang yang berhasil
dalam pelayanannya?
Jawabnya, ya mereka adalah
orang-orang yang berhasil, bahkan sangat berhasil dalam pelayanannya!
Apakah mereka hidup dalam
segala kelimpahan?
Jawabnya, juga ya mereka
hidup dalam segala kelimpahan! Tetapi bukan kelimpahan dalam hal materi!!
Apakah kita pernah melihat dan membaca bahwa para rasul menjadi kaya
berkelimpahan harta benda? Tidak!
Mereka bukan berkelimpahan
harta benda, melainkan; mereka berkelimpahan dalam segala kasih karunia,
berkelebihan dalam pelbagai kebajikan, kaya dalam kemurahan hati, kaya dalam
iman, dan diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik!!! (2 Kor 9:8,11, Yak 2:5 2
Tim 3:17) Pendek kata mereka berkelimpahan seperti contoh perbuatan kelimpahan
yang diberikan Tuhan Yesus kepada banyak orang!
Tidak banyak hamba-hamba Tuhan yang ketika sudah mencapai sukses dapat
“meletakkan” kesuksesannya dan berkata: “Ini semua hanya karena Tuhan.” Sikap
hamba Tuhan yang dapat melakukan hal yang demikian itu sama seperti sikap
Yohanes Pembaptis yang justru menyembunyikan dirinya agar tidak kelihatan,
dengan menunjuk kepada pribadi yang lebih pantas untuk ditinggikan yaitu Yesus,
dengan berkata:
Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. Yoh 3:30. (Penekanan pada huruf
dalam ayat tersebut oleh penulis).
Tentang Yohanes Pembaptis, Tuhan Yesus mengungkapkan;
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya
di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang
yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam
Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya. Mat 11:11.
Lihat sesungguhnya, betapa
besarnya Yohanes Pembaptis.
Yohanes Pembaptis adalah satu-satunya manusia yang paling besar yang pernah
dilahirkan oleh perempuan, hasil hubungan secara biologis antara laki-laki dan
perempuan. Dan ia dipuji oleh Tuhan Yesus karena sikapnya yang benar dengan
meletakkan kepentingannya sendiri, sebaliknya mengedepankan kepentingan
tugasnya sebagai seorang utusan.
Dan itu adalah sikap yang benar!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar