Selasa, 22 April 2014

BAB 7


MELEPAS KEHENDAK SENDIRI MENGIKUTI KEHENDAK TUHAN

        Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan kemana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.
       Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: “Ikutlah Aku.” Yoh 21:18-19. (Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).

       Inilah tahapan berikutnya dalam kehidupan Petrus yang satu tahap lagi meningkat menuju kedewasaan dan kesempurnaan- yaitu; berani melepaskan apa yang ia kehendaki, dan mengikuti apa yang Tuhan kehendaki!

       Sebenarnya tidak mudah bagi Petrus untuk dapat melepaskan kehendaknya dan menggantinya dengan mengikuti kehendak Tuhan. Karena Petrus sebelumnya adalah seorang yang memiliki karakter dan kehendak yang sangat kuat. Jadi ini adalah merupakan tantangan tersendiri bagi Petrus. Itulah tahapan yang harus dilalui oleh Petrus untuk menuju kepada kedewasaan dan kesempurnaan dan….. Petrus menurut!

       Itulah pilihan yang terbaik! Kehendak Petrus selama ini sudah banyak menimbulkan masalah. Kini dia mendapatkan yang terbaik, kehendak Tuhan adalah yang terbaik dan tidak mungkin salah, dan yang pasti membawa kepada kedewasaan dan kesempurnaan!

       Jika anda juga rindu meningkat menuju kedewasaan dan kesempurnaan, tidak ada hal lain yang dapat anda perbuat dan tidak ada pilihan yang lain, selain anda melepaskan kehendak anda sendiri dan menggantinya menurut kehendak Tuhan! Dan yakinlah karena anda akan mengalami pengalaman-pengalaman yang menakjubkan bersama Tuhan!

       Dengan melepaskan kehendaknya sendiri Petrus berhasil mengalahkan “keakuannya.” Dia menjadi seorang yang merdeka sekarang. Dia tidak lagi memikirkan masa depannya, dia juga tidak memikirkan apa yang akan terjadi nanti, dia juga tidak memikirkan bagaimana caranya dia akan mati, tetapi yang dia tahu kehendak Tuhan pasti yang terbaik baginya! (2 Tim 2:4).

       Menurut kehendak Tuhan, itulah sekarang yang menjadi tujuan hidup Petrus. Hal itu ia nyatakan melalui tulisan suratnya.

       Supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah. 1 Pet 4:2.

       Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia. 1 Pet 4:19.

       Yesus tahu hati Petrus sudah bulat mengikuti kehendak-Nya, lalu Ia berkata kepada Petrus: “Ikutlah Aku,”

       Ini bukan untuk pertama kalinya Yesus berkata kepada Petrus: “Ikutlah Aku.” Karena ketika pertama kali bertemu dengan Petrus yang saat itu bersama saudaranya Andreas, Yesus sudah langsung berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” (Mat 4:18-19).

       Mengapa Yesus mengulangi berkata kepada Petrus: “Ikutlah Aku” justru pada saat sekarang Petrus dalam keadaan yang benar-benar sudah mantap dan bulat hatinya?

       Mengapa pula Yesus mengulangi berkata kepada Petrus: “Ikutlah Aku” setelah Ia bangkit dari kematian?

       Ini adalah sebuah peneguhan bagi Petrus! Yesus ingin Petrus mengikuti jejak-Nya, dan memang Petrus mengikuti jejak-Nya! Untuk hal itu Petrus meneruskan sebagai ajaran melalui surat yang ditulisnya.

       Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. 1 Pet 2:21. (Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).

       Yesus ingin Petrus mengikuti jejak-Nya, dan Petrus pun mengikuti jejak-Nya yaitu:

       Jejak penderitaan-Nya! Jejak teladan-Nya! Jejak kematian-Nya! Jejak kebangkitan-Nya! Jejak kemenangan-Nya! Jejak keajaiban-Nya! Jejak kemuliaan-Nya!!!

       Mari kita pun mengikuti jejak-Nya!

       Yesus mendidik dan membentuk Petrus melalui tahapan yang tepat. Setelah Petrus tunduk dan mengikuti kehendak-Nya, selanjutnya Petrus perlu di asah agar pribadinya menjadi lembut.

       Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan berkata: “Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?”
       Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: “Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?”
        Jawab Yesus: “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.” Yoh 21:20-22.
      
       Ketika Petrus melihat murid yang dikasihi Yesus yaitu Yohanes sedang mengikuti mereka, ia berkata kepada Yesus: “Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?”

       Melalui perkataan Petrus tersebut, inilah tahapan bagi Yesus lebih lanjut untuk membentuk dan mengasah Petrus agar menjadi pribadi yang lembut dan tenang. Lihatlah bagaimana jawaban Yesus: “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Titik.
      
       Itu bukan urusanmu, artinya; jangan mencampuri urusan orang lain! Kenapa kamu ribut dengan urusan orang lain, uruslah dirimu sendiri! Itulah pesan yang ingin Tuhan sampaikan, karena pada dasarnya sifat manusia sama seperti yang dilakukan oleh Petrus, ingin tahu dan ingin mencampuri urusan orang lain, dan hasilnya? Timbul masalah! Apalagi jika sikap ingin tahu dan sikap ingin mencampuri urusan orang lain itu dilakukan oleh seorang pemimpin, sungguh tidak pantas!

       Yesus sedang mengajar Petrus agar ia memiliki etika bergaul yang pantas. Bukankah jika ia mempunyai urusan dan dicampuri oleh orang lain, ia pun tidak akan senang?

       Memiliki sikap etika bergaul yang pantas dan benar adalah ciri-ciri seseorang yang menuju kedewasaan dan kesempurnaan.

       Yesus telah pernah memberi contoh yang benar dalam peristiwa seorang perempuan yang kedapatan tertangkap basah berbuat zinah, yang dihadapkan kepada-Nya oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah dan hendak menghakiminya. Dengan alasan, Musa menurut hukum Taurat memerintahkan untuk melempari dengan batu kepada perempuan-perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Yesus diminta pendapat-Nya, tetapi yang sebenarnya mereka hendak mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. (Yoh 8:3-6).

       Ketika Yesus didesak terus, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”
       Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.
       Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggalah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. (Yoh 8:7-9).

       Itulah contoh peristiwa bagaimana sikap ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Kecenderungan suka mencampuri urusan orang lain, akan melahirkan sikap suka mencari kesalahan orang lain. Dan bila sudah mendapati kesalahan orang lain, maka muncul sikap menghakimi! Mereka itu adalah orang-orang munafik, mereka seperti kubur dilabur putih yang bagian luarnya tampak bersih, tapi bagian dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai kotoran. (Mat 23:27).

       Tapi Yesus tahu kebusukan hati mereka. Dengan perkataan: Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu. Membuat mereka tidak berkutik.

       Kemudian Yesus menunjukkan cara bersikap yang benar.

       Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan,  di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”
       Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” Yoh 8:10-11.

       Alasan Yesus berkata kepada Petrus: Itu bukan urusanmu.- Supaya Petrus terhindar dari gaya hidup dan sikap munafik seperti ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, yang suka mencampuri urusan orang lain, suka mencari kesalahan orang lain, suka menghakimi orang lain! (Ingatlah Mat 7:1).

       Setelah Petrus di asah dan dibentuk, Yesus melanjutkan perkataan-Nya; Tetapi engkau: ikutlah Aku.

       Petrus pun mengikut Yesus, sampai akhirnya bersama murid-murid yang lain mereka melihat Yesus terangkat ke sorga. (Luk 24:51).

       Babak baru kehidupan Petrus semakin berlanjut, ia di asah, dibentuk menjadi semakin halus, semakin lembut, tetapi sekaligus juga menjadi semakin tajam dalam melakukan maksud dan kehendak Tuhan.

       Kita semua telah mengetahui dalam peristiwa Pentakosta, Petrus menjadi alat yang begitu efektif dan begitu tajam dalam melaksanakan maksud dan kehendak Tuhan. Perkataan melalui khotbahnya dipenuhi urapan Roh Kudus, begitu tajam menyentuh hati setiap orang yang mendengarnya sehingga hasilnya kira-kira tiga ribu orang bertobat. (Kis 2:41).

       Kemudian ketajamannya semakin di asah sehingga semakin bertambah tajam. Khotbahnya di Serambi Salomo membuat jumlah orang yang percaya menjadi dua kali lipat- bahkan mungkin lebih, karena disebutkan jumlah orang yang percaya kira-kira menjadi lima ribu orang laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak-anak. (Kis 4:4).

       Ketajaman Petrus bukan saja dalam hal berkhotbah, tetapi juga ketajaman dalam membedakan bermacam-macam roh, apakah dalam diri jemaat itu memiliki roh yang tulus dan benar atau roh pendusta.

       Pada waktu itu jumlah orang percaya semakin bertambah dan banyak di antara mereka yang memberi persembahan dan meletakkannya di bawah kaki para rasul. Semua persembahan yang diberikan dengan hati yang tulus dan dengan motivasi yang benar itu diterima dan dibagi-bagikan kembali kepada semua orang menurut keperluan masing-masing. (Kis 4:35).

       Tetapi ada sepasang suami istri yang bernama Ananias dan Safira, mereka juga hendak memberi persembahan namun hati mereka dikuasai oleh roh pendusta. Di sini ketajaman Petrus dalam membedakan bermacam-macam roh diuji, dan digunakan dengan sangat tepat.

       Tidak sia-sia Yesus membentuk Petrus. Sosok Petrus sekarang adalah sosok seorang hamba Tuhan yang jujur dan lurus. Yesus membentuk pengikut-Nya dengan cara yang indah. Yesus menjauhkan pengikut-Nya dari sikap dan gaya hidup seperti orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Yesus mengajarkan kepada para pengikut-Nya agar jangan terkena ragi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yaitu kemunafikkan (Mat 16:6, Mat 23:13). Yesus menjadikan pengikut-Nya sebagai hamba kebenaran, bukan sebagai hamba uang seperti orang-orang Farisi (Luk 16:13-14).

       Ketajaman Petrus dalam membedakan bermacam-macam roh karena ia hidup benar, maka ia memiliki hati yang dapat melihat roh yang benar atau roh pendusta. Petrus memiliki karunia untuk membedakan bermacam-macam roh (1 Kor 12:10).

       Ketika Ananias datang memberikan persembahan, Petrus maupun rasul-rasul yang lain tidak menerimanya.

       Tetapi Petrus berkata: “Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu?
       Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.”
       Ketika mendengar perkataan itu rebahlah Ananias dan putuslah nyawanya. Maka sangatlah ketakutan semua orang yang mendengar hal itu. Kis 5:1-5.

       Demikian juga yang terjadi kepada Safira istri Ananias. Ia pun juga putus nyawanya karena mereka berdua bersepakat dalam hal yang jahat yaitu mencobai Roh Tuhan dengan berdusta. (Kis 5:7-11).

       Mungkin jika Ananias dan Safira berdusta kepada manusia, akibatnya tidak akan sefatal itu! Tetapi dalam hal ini mereka sedang memberi persembahan, berarti mereka sedang berurusan dengan Tuhan, maka akibatnya nyawa mereka putus melayang!

       Tidak banyak hamba Tuhan yang seperti Petrus, yang tidak tergiur melihat persembahan yang diberikan. Yang tidak silau dengan harta yang ada di depan matanya.

       Kebanyakan sekarang justru sebaliknya, banyak hamba-hamba Tuhan yang berlaku seperti orang-orang Farisi- yaitu menjadi hamba uang. Yang matanya menjadi silau jika sudah melihat harta di depan matanya. Yang tidak dapat membedakan harta yang dipersembahkan, entah datangnya dari mana atau orang yang memberi persembahan itu sedang berdusta atau tidak. Pokoknya asal ada orang memberi persembahan dianggap (bahasa rohaninya) berkat Tuhan!

       Hamba-hamba Tuhan yang seperti ini sudah menjadi seperti orang-orang Farisi yang adalah hamba uang. Hamba-hamba Tuhan yang sudah menjadi hamba uang itu, mata hatinya sudah tertutup, sehingga tidak dapat melihat atau membedakan bermacam-macam roh. Hamba-hamba Tuhan yang menjadi hamba uang itu seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, yaitu hamba yang mengabdi kepada dua tuan, mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon (Luk 16:13). Yang kelihatannya melayani Tuhan tetapi hatinya sudah kepincut condong kepada Mamon, kepada harta.

       Hamba-hamba Tuhan yang seperti itu biasanya pandai berdalih untuk menutupi perbuatannya dengan berkata, bahwa hamba-hamba Tuhan yang pelayanannya berhasil seperti mereka itu, buktinya hidupnya diberkati sampai berkelimpahan.

       Hamba-hamba Tuhan seperti mereka itulah yang menyebarkan doktrin kemakmuran. Mereka berusaha meyakinkan orang dengan pengajarannya yang seolah menggunakan firman Tuhan yang ayatnya diambil sepotong-sepotong, seperti, Tuhan Yesus berkata: Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yoh 10:10). Dan ternyata memang banyak orang yang berhasil mereka yakinkan. Nanti penjelasan mengenai ayat sepotong-sepotong yang digunakan sebagai doktrin kemakmuran tersebut, berikutnya di Bab 8 (Delapan) akan dijelaskan.

       Mari kita buka mata lebar-lebar, apakah para rasul itu mereka adalah orang-orang yang berhasil dalam pelayanannya?

       Jawabnya, ya mereka adalah orang-orang yang berhasil, bahkan sangat berhasil dalam pelayanannya!

       Apakah mereka hidup dalam segala kelimpahan?

       Jawabnya, juga ya mereka hidup dalam segala kelimpahan! Tetapi bukan kelimpahan dalam hal materi!! Apakah kita pernah melihat dan membaca bahwa para rasul menjadi kaya berkelimpahan harta benda? Tidak!

       Mereka bukan berkelimpahan harta benda, melainkan; mereka berkelimpahan dalam segala kasih karunia, berkelebihan dalam pelbagai kebajikan, kaya dalam kemurahan hati, kaya dalam iman, dan diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik!!! (2 Kor 9:8,11, Yak 2:5 2 Tim 3:17) Pendek kata mereka berkelimpahan seperti contoh perbuatan kelimpahan yang diberikan Tuhan Yesus kepada banyak orang!

       Tidak banyak hamba-hamba Tuhan yang ketika sudah mencapai sukses dapat “meletakkan” kesuksesannya dan berkata: “Ini semua hanya karena Tuhan.” Sikap hamba Tuhan yang dapat melakukan hal yang demikian itu sama seperti sikap Yohanes Pembaptis yang justru menyembunyikan dirinya agar tidak kelihatan, dengan menunjuk kepada pribadi yang lebih pantas untuk ditinggikan yaitu Yesus, dengan berkata:

       Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. Yoh 3:30. (Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).

       Tentang Yohanes Pembaptis, Tuhan Yesus mengungkapkan;

       Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya. Mat 11:11.

       Lihat sesungguhnya, betapa besarnya Yohanes Pembaptis.

       Yohanes Pembaptis adalah satu-satunya manusia yang paling besar yang pernah dilahirkan oleh perempuan, hasil hubungan secara biologis antara laki-laki dan perempuan. Dan ia dipuji oleh Tuhan Yesus karena sikapnya yang benar dengan meletakkan kepentingannya sendiri, sebaliknya mengedepankan kepentingan tugasnya sebagai seorang utusan.

        Dan itu adalah sikap yang benar!!!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar