Selasa, 22 April 2014

BAB 8


JADILAH ORANG PILIHAN

       Mari kita tetap membuka mata lebar-lebar, lihatlah; walaupun tidak banyak tetapi masih ada hamba-hamba Tuhan yang telah sukses dalam pelayanannya dan bersikap sama seperti Petrus dan rasul-rasul yang lain, yaitu tetap  rendah hati dan hidup bersahaja, mereka itulah yang disebut sebagai orang-orang pilihan! (Mat 22:14).

       Mereka itulah orang-orang yang menyadari bahwa hidup itu singkat, hidup hanya seperti rumput.

       Sebab: Semua yang hidup adalah seperti rumput dan kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur. 1 Pet 1:24.

       Orang-orang pilihan memilih untuk tetap hidup benar dengan bersedia menyangkal diri, memikul salib setiap hari dan setia mengikut Yesus. (Luk 9:23).

       Orang-orang pilihan itu adalah milik Kristus dan berani menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. (Gal 5:24).

       Orang-orang pilihan sebagai milik Kristus itu sudah menjadi warga Kerajaan Allah dan rela menderita karena Kerajaan itu. (2 Tes 1:5).

       Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Rm 8:18.

       Orang-orang pilihan itu tetap teguh menjaga hidupnya agar apa yang telah dilakukan tidak sampai menjadi sia-sia!

       Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak. 1 Kor 9:27.

       Orang-orang pilihan selalu dapat menempatkan diri dalam posisi yang benar ketika mereka sudah melakukan tugasnya yaitu; sebagai hamba, bahkan menganggap dirinya sebagai hamba yang tidak berguna. Tidak ada kebanggaan apa pun dari hasil sukses yang diraihnya, karena sebagai hamba- itu merupakan tugas yang harus mereka lakukan! Itulah tugas yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus, sehingga mereka tetap sadar dan berlaku rendah hati!

       Demikianlah juga kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.” Luk 17:10.

       Pandangan dan tujuan hidup orang-orang pilihan itu bukan untuk masa sekarang ini saja, tetapi untuk masa yang tidak terbatas yaitu masa dalam kemuliaan kekal. Walaupun untuk itu harus melewati penderitaan badani, yang menurut Paulus sebagai penderitaan ringan, untuk mencapai kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya! Pandangan mereka bukan kepada apa yang kelihatan tetapi kepada apa yang tidak kelihatan, karena apa yang kelihatan adalah sementara sedangkan yang tidak kelihatan adalah kekal.

       Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tidak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. 2 Kor 4:17-18.

       Penulis mengajak anda untuk masuk dalam kehendak Tuhan, yaitu mari kita bersama-sama menjadi menjadi orang-orang pilihan. Tidak penting siapa diri kita, yang penting adalah apa yang kita lakukan. Semakin kita menempatkan diri sebagai hamba yang tak berguna, penulis yakin, maka akan semakin efektif dan semakin tajam dalam melakukan kehendak Tuhan!

       Langkah dan pribadi Petrus semakin hari semakin menunjukkan kedewasaan dan mendekati kesempurnaan. Sangat berbeda dengan kehidupan Petrus di masa yang lalu, di mana ia dengan begitu mudahnya dapat berbuat kesalahan. Mengikuti teladan Petrus sebagai manusia yang menuju kedewasaan dan kesempurnaan, berarti kita sedang mengikuti langkah Petrus yang membawa kunci Kerajaan Sorga, tinggal membuka saja!

       Mengikuti teladan Petrus sebagai manusia, memberi pelajaran bagi kita bahwa ia adalah manusia biasa sama seperti kita yang penuh dengan kelemahan. Suatu pelajaran yang menyadarkan kita bahwa seorang manusia yang lemah sekalipun- asal mau dibentuk oleh Tuhan, dapat diproses berjalan menuju kedewasaan dan kesempurnaan.

       Mungkin ada di antara anda ada yang berkata: “Tapi Petrus yang sekarang kan berbeda. Dulu ia banyak melakukan kesalahan karena belum dipenuhi Roh Kudus, sedangkan sekarang  berbeda karena Petrus sudah penuh Roh Kudus!”

       Tepat! Petrus yang dulu dan yang sekarang memang berbeda. Sekarang Petrus sudah penuh Roh Kudus! Inilah hal yang indah untuk kita pelajari, setelah Petrus penuh Roh Kudus ia berubah. Dulu sebelum Petrus dipenuhi Roh Kudus ia belum berbuat hal-hal yang besar untuk Tuhan. Tetapi sekarang sesudah ia dipenuhi Roh Kudus, Petrus dapat melakukan hal-hal yang besar untuk Tuhan!

       Tetapi inilah pelajaran yang indah untuk kita pelajari, bukan berarti jika Petrus sudah penuh Roh Kudus maka ia tidak dapat berbuat kesalahan, sekalipun Petrus dan rasul-rasul yang lain sudah penuh Roh Kudus ternyata mereka masih bisa berbuat kesalahan!

       Lihatlah kisah peristiwa di bawah ini.

       Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari. Kis 6:1.

       Petrus dan rasul-rasul yang lain dalam pelayanannya semakin hari semakin sukses. Tanda-tanda ajaib dan mujizat terus mereka lakukan. Jumlah murid semakin bertambah. Tetapi dengan semakin sukses dan semakin bertambahnya jumlah orang percaya, mulailah muncul persoalan baru yaitu persoalan mengenai kebutuhan perut.

       Timbullah sungut-sungut di antara jemaat karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari. Dan sungut-sungut itu sampai ke telinga rasul-rasul.

       Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: “Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan firman Allah untuk melayani meja. Kis 6:2.

       Di sinilah kunci pelajaran berharga yang dapat kita petik dari kehidupan Petrus dan rasul-rasul lainnya. Inilah letak rahasia bagaimana suatu kehidupan yang menuju kedewasaan dan kesempurnaan menjalani proses yang sebenarnya.

       Kita semua sudah tidak perlu menyangsikan lagi kehebatan dan kesuksesan para rasul ini, baik dalam pelayanan maupun dalam kepemimpinan mereka! Sebagai pemimpin mereka sangat disegani dan dihormati oleh semua orang percaya. Mereka adalah sosok-sosok pemimpin besar dan patut diacungi jempol. Sebagai pemimpin-pemimpin yang besar mereka ini sebenarnya bisa saja berlagak seperti orang-orang yang penting. Jadi ketika mereka mendengar timbul sungut-sungut di antara jemaat, bisa saja dengan lagak berwibawa mereka menegor: “Kalian ini jangan suka bikin masalah. Urusan perut saja kalian ributkan. Tidakkah kalian bisa hidup lebih tertib?!”

       Seandainya mereka berkata demikian pun, kira-kira semua orang yang lain pun akan memaklumi, karena para rasul ini sudah terlalu sibuk dengan segala macam kesibukan dalam pelayanan. Karena tiap-tiap hari mereka mengajar orang-orang percaya dari rumah yang satu ke rumah yang lain, belum lagi ditambah mereka juga mengajar di Bait Allah. (Kis 2:46, Kis 5:25).

       Tetapi mereka adalah hamba-hamba Tuhan yang rendah hati, cara mereka menghadapi orang lain yang menghadapi kesulitan ialah dengan kepedulian. Sikap yang bijaksana itulah cermin tingkat kedewasaan dan kesempurnaan yang mereka miliki.

        Kedua belas rasul itu memanggil semua murid dan berkata: “Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan firman Allah untuk melayani meja.”

       Dengan sungut-sungut jemaat, bukannya para rasul menegor menyalahkan jemaat, tetapi malah mereka mengakui bahwa merekalah yang bersalah! Dengan jujur dihadapan jemaat mereka mengakui bahwa itu karena kesalahan mereka;

       “Kami tidak merasa puas,- pengakuan mereka- karena kami melalaikan firman Allah untuk melayani meja.”

       Hebat bukan? Mereka adalah orang-orang besar, mereka adalah pemimpin-pemimpin hebat, mereka adalah orang-orang yang dipakai Tuhan secara luar biasa, mereka adalah rasul-rasul yang dipilih oleh Tuhan Yesus sendiri tetapi ketika mereka melalaikan firman Allah untuk melayani meja, mereka berani mengakui kesalahannya!

       Berbeda dengan pemimpin-pemimpin palsu penyebar doktrin kemakmuran, mereka dengan suara lantang mendeklarasikan sukses yang diraihnya supaya terlihat hebat. Mereka seperti nabi-nabi palsu yang suka dipuji-puji banyak orang. Pemimpin-pemimpin seperti itu pandai berdiplomasi, apabila mereka terpeleset jatuh dalam kesalahan!

       Pernahkah anda mendengar  ucapan dari mereka yang mengaku sebagai hamba Tuhan, keluar kata-kata dari mulutnya ucapan seperti ini: “Jangan mengusik orang yang diurapi Tuhan. (1 Taw 16:22). Tanggung jawab kami langsung kepada Tuhan!”

       Sebaliknya kalau mereka mendengar orang berkeluh kesah soal urusan perut, bukannya dibantu malah ditekan dengan ucapan: coba koreksi diri sendiri kenapa hidupmu susah?!

       Tuduhan semacam itu- tanpa disadari telah menjalar luas, dan tanpa disadari pula telah melekat pada pikiran kebanyakan jemaat, sehingga seringkali bila ada orang percaya yang sedang mengalami pergumulan dalam kesusahan dan kesulitan soal ekonomi, maka mereka itu dianggap tidak diberkati oleh Tuhan, karena dianggap ada sesuatu yang salah dalam hidup mereka. Seolah-olah “ukuran” diberkati itu terletak pada kebutuhan ekonomi. Hal ini membuktikan, bahwa doktrin kemakmuran sudah merasuk dan melekat pada pikiran dan hati banyak orang percaya!

       Malahan terhadap hamba-hamba Tuhan yang telah melayani dengan setia tetapi kehidupan ekonominya biasa-biasa saja, dan bahkan ada pula para hamba-hamba Tuhan yang sudah cukup lama melayani tetapi kehidupannya masih sederhana tanpa memiliki fasilitas pribadi yang memadai, mereka yang merasa telah sukses dalam pelayanan dan terlihat makmur, mereka bersikap melecehkan dan memandang rendah dengan berkata: “Jadi hamba Tuhan koq melarat terus, punya kendaraan butut tidak ganti-ganti, mestinya harus introspeksi- kalau jadi pelayan Tuhan tetapi tidak ada kemajuan pasti ada yang salah!”

       Bagi hamba-hamba Tuhan yang tulus melayani, yaitu mereka yang melayani dengan tanpa motivasi untuk mengeruk kekayaan melalui pelayanan, bila mendengar perkataan yang melecehkan tersebut, mereka tentu akan merasa seperti teriris-iris hatinya!!!

       Namun bagi hamba-hamba Tuhan yang mengerti firman Tuhan dan telah dewasa rohaninya, hal itu dianggap sebagai ujian atau proses untuk mereka tetap dapat bertahan dalam sikap menjaga kemurnian hati!!!

       Dalam hal apa pun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela.
       Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa; dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik. 2 Kor 6:3-6.

       Sejalan dengan surat yang ditulis oleh rasul Paulus tersebut di atas kepada jemaat di Korintus, memang demikianlah kenyataan hidup yang sebenarnya yang dijalani oleh rasul Paulus. Seperti yang tercatat di Kis 28:30-31;

       Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya.
       Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus. (Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).

       Sebagaimana halnya rasul-rasul yang lain, demikian juga rasul Paulus, ia juga memiliki berbagai macam karunia untuk dipergunakan dalam pelayanan. Sehingga dalam pelayanannya ia berhasil mempertobatkan banyak orang dan berhasil membangun jemaat-jemaat di berbagai tempat seperti di; Roma, Korintus, Galatia , Efesus, Filipi, Kolose, Tesalonika dan juga Makedonia, dan beberapa tempat lainnya.

       Jika dilihat dari keberhasilan rasul Paulus dalam pelayanannya seharusnya ia memiliki kesempatan untuk menikmati jerih payah pelayanannya dengan berbagai fasilitas pribadi, termasuk fasilitas rumah pribadi. Tetapi jangankan untuk fasilitas rumah pribadi, untuk tempat tinggal saja, bukan saja rasul Paulus tidak mau membebani jemaat untuk membantunya, sebaliknya malahan ia menyewa rumah sendiri dengan menggunakan uangnya pribadi!

       Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri!!!

       Apakah jika demikian rasul Paulus termasuk sebagai pelayan Tuhan seperti yang dikatakan oleh pemimpin-pemimpin palsu yang mengajarkan doktrin kemakmuran dengan kalimat yang seperti tadi, penulis sedikit merubah kalimatnya untuk menyesuaikan kasusnya:

       “Jadi hamba Tuhan koq melarat terus, tempat tinggal tidak punya, mampunya cuma kontrak, mestinya harus introspeksi- kalau jadi pelayan Tuhan tetapi tidak ada kemajuan pasti ada yang salah!”

       Memangnya ada yang salah dengan pelayanan rasul Paulus?! Demikian juga dengan hamba-hamba Tuhan yang telah berjerih payah dan tetap menjaga “kemurnian hati” dengan hidup sederhana, apakah mereka harus introspeksi???! Bukannya sebaliknya…..???!

       Justru oleh karena sikap hidup yang benar seperti yang dipraktekkan oleh rasul Paulus, dan hamba-hamba Tuhan yang lain yang menjaga kemurnian hatinya, maka;

       Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus. Kis 28:31. (Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).

       Tugas untuk memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus, dapat dilakukan oleh rasul Paulus dan juga hamba-hamba Tuhan yang tetap menjaga kemurnian hatinya, dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa!

       Sebaliknya tidak seperti para pemimpin palsu yang mengajarkan doktrin kemakmuran, sekalipun mereka dipuji oleh banyak orang karena terlihat hidupnya sukses berkelimpahan harta, tetapi justru hidup mereka itu banyak dicela dan menjadi bahan omongan, menjadi rintangan dan menjadi batu sandungan!!!

      
Tuhan Yesus telah memperingatkan:

       “Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.” Luk 6:26.

       Dengan keteguhan hati sebagai pelayan Kristus, rasul Paulus menegaskan tentang kehidupan pribadinya yang sederhana.

       Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.
       Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Fil 4:11-13.

       Andai, semua para pelayan Tuhan memiliki prinsip hidup seperti rasul Paulus dan prinsip hidup seperti para rasul yang lain, maka pemberitaan Injil akan menjadi sangat efektif, karena dengan demikian- pasti pemberitaan Injil akan dapat dilakukan dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa!!!

       Salah satu prinsip kebenaran hidup sebagai pelayan Kristus yang sejati ialah: menjaga kemurnian hati!!!

       Pengakuan bersalah Petrus bersama rasul-rasul yang lain adalah bagian teladan yang mereka tinggalkan, supaya para pemimpin yang benar yang adalah orang-orang pilihan, mengikuti cara bersikap dan bertindak benar.

       Demikianlah atas inisiatif para rasul akhirnya terpilih tujuh orang terbaik di antara para murid agar mereka diserahi tugas untuk pelayanan meja. Karena para rasul memiliki alasan yang lebih penting dalam tugas mereka yang pokok, yaitu supaya mereka dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan firman. (Kis 6:3-6).

       Hasil dari sikap yang benar dari para rasul semakin membuka jalan untuk tersebarnya firman Allah lebih luas lagi, sehingga jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya. (Kis 6:7).

       Sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya, ini dapat menjadi catatan tersendiri, ini dapat dikatakan sebagai bonus khusus. Penulis berpendapat, sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya- ini bisa saja dikarenakan mereka melihat kebenaran dari sikap para rasul yang sebagai pemimpin, mereka berani bersikap jujur dan berani mengakui kesalahan mereka. Tidak seperti golongan para imam itu sendiri yang biasanya hanya bisa menuding orang lain yang salah.

       Pemberitaan Injil yang disertai sikap yang benar akan menghasilkan dampak yang luar biasa!

       Ada tulisan menarik yang penulis kutip berikut ini sebagai illustrasi.

       Sebelum teknologi mengubah cara kita berlayar di perairan, pengeras suara dan peluit digunakan untuk berkomunikasi dari kapal ke kapal. Suatu kali, sebuah kapal perang dengan persenjataan lengkap perlahan bergerak melalui perairan yang belum dipetakan dalam sebuah teluk yang diselubungi kabut.
       Tiba-tiba, melalui kabut, kapten kapal itu melihat apa yang tampak seperti sinar dari kapal lain mengarah ke jalan yang sedang dilewatinya. Segera, ia menyambar pengeras suaranya dan berteriak: “Di sini Laksamana Smith dari Angkatan Laut Amerika Serikat. Arahkan kapalmu 10 derajat ke selatan. Kita akan bertabrakan, dan saya perintahkan untuk segera dilaksanakan.”
       Melalui kabut, ia mendengar suatu jawaban yang samar-samar, “Di sini Kelasi Kelas Empat Jones. Anda yang harus mengarahkan kapal anda sendiri 10 derajat ke utara.
       Laksamana itu berkata kepada diri sendiri, “Orang ini adalah seorang kelasi kelas empat, dan aku adalah seorang Laksamana! Dia pikir siapa dia?” Sambil mengeraskan pengeras suaranya dan menggunakan nada berwibawa, ia membentak, “Di sini Laksamana Smith dari Angkatan Laut Amerika Serikat! Anda yang harus mengarahkan kapal anda 10 derajat ke selatan! Saya perintahkan!”
       Melalui kabut datanglah jawaban yang sama: :Di sini Kelasi Kelas Empat Jones. Anda yang harus mengarahkan kapal anda 10 derajat ke utara.
       Kemarahan sang Laksamana menyala terhadap ketidakpatuhan pemuda itu, “Ini Laksamana Smith, kataku! Arahkan kapal anda 10 derajat ke selatan. Di sini kapal perang!”
       Melalui kabut, suara yang mantap itu menjawab, “Di sini Kelasi Kelas Empat Jones. Arahkan kapal anda sendiri 10 derajat ke utara. Di sini mercusuar!

       Sikap kita seperti  kemudi sebuah kapal. Kalau anda tidak dikendalikan oleh kemudi, anda akan dihancurkan batu-batu karang.

       Pilihan ada di tangan anda.

(Di kutip dari buku: SIKAP Yang Menentukan KEBERHASILAN. Hal.29-30. Oleh, Wayne Cordeiro)

       Untung saja Petrus tidak berkata seperti ini: “Di sini rasul Petrus. Kepala semua rasul. Kalian jangan bersungut-sungut!”

       Sebagai gembala yang baik betapa berbeda sikap Petrus dan semua rasul yang lain dengan gembala-gembala di zaman nabi Yehezkiel, yang adalah gambaran pemimpin-pemimpin pada masa sekarang ini yang mengajarkan doktrin kemakmuran, yang lebih mementingkan kepentingannya sendiri dibanding kepentingan domba-domba milik Tuhan.

       Doktrin kemakmuran yang diajarkan melalui ayat yang sepotong-sepotong kelihatannya Alkitabiah, padahal itu sudah menyimpang dan bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan.

       Di bawah ini ayat-ayat sepotong-sepotong yang sering dipakai sebagai doktrin kemakmuran;

       Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Yoh 10:10.

      Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya. 2 Kor 8:9.

      Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak akan menuai banyak juga. 2 Kor 9:6.
 
     Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati Tuhan. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya. Kej 26:12-13.

      Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Mat 6:33.

       Dan masih cukup banyak beberapa ayat yang lain yang berkaitan dengan hidup diberkati dalam kelimpahan.

       Sebenarnya tidak ada yang salah dengan semua ayat-ayat tersebut, sebab semua ayat-ayat tersebut adalah firman Tuhan! Yang menjadi masalah adalah ketika dengan mencomot ayat sepotong-sepotong, kemudian mengajarkannya yang konotasinya bahwa hidup semua orang percaya harusnya menjadi kaya, itulah yang tidak benar. Lalu kemudian seolah-olah orang percaya yang hidupnya secara ekonomi biasa-biasa saja, itu berarti tidak diberkati oleh Tuhan!

       Mari kita melihat bagaimana para pengajar doktrin kemakmuran tersebut memanipulasi ayat-ayat firman Tuhan.

       Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Mat 6:33.

       Itu adalah salah satu ayat favorit yang sering digunakan untuk mengajarkan doktrin kemakmuran. Kalimat di bagian depan yaitu “tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya” dipakai sebagai dasar menyampaikan kebenaran firman Tuhan, biasanya di bagian ini masih selaras dengan kebenaran firman Tuhan, yaitu mencari, mencari dan mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya. Tetapi ketika sampai pada bagian; “maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Mulailah yang dimaksud dengan- semuanya itu akan ditambahkan- selalu dihubungkan dengan hasil dari mencari tadi, yaitu hasilnya mendapatkan berkat-berkat materi; mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yoh 10:10), supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya (2 Kor 8:9).

       Karena doktrin kemakmuran tersebut menggunakan dasar ayat-ayat firman Tuhan maka kelihatannya Alkitabiah. Kebanyakan jemaat Tuhan tidak mengerti dan tidak menyadari kalau ayat-ayat yang digunakan itu adalah suatu manipulasi dari ayat-ayat firman Tuhan, karena pengertian yang sebenarnya bukan demikian. Sehingga yang tertanam dalam pikiran jemaat adalah; jika ingin diberkati menjadi kaya, maka carilah Kerajaan Allah dan kebenarannya lebih dahulu! Jadi motivasi mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, adalah supaya menjadi kaya!

       Bukankah untuk hal kebutuhan jasmani tersebut Tuhan Yesus sudah mengingatkan di ayat sebelumnya yaitu ayat di bawah ini?

       Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Mat 6:32. (Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).

       Kekayaan dan berkat-berkat jasmani, semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah!

       Jika kita melihat bagian ayat-ayat sebelumnya yang di atasnya lagi, maka makin jelas maksud ajaran Tuhan Yesus yaitu tentang:

       Bagaimana cara menyikapi: Hal kekuatiran.

       Tuhan Yesus berkata supaya kita tidak perlu kuatir akan kehidupan; soal makanan, minuman, pakaian; pendek kata semua kebutuhan jasmani tidak usah kuatir, karena hidup lebih penting dari semuanya itu. Burung di udara saja dipelihara oleh Bapa di sorga, apalagi kita yang jauh lebih berharga dibanding burung-burung itu. Jadi, jangan kuatir! Itulah intinya. (Mat 6:25-34).

       Jadi bukan soal diberkati menjadi kaya seperti yang diajarkan dalam doktrin kemakmuran. Apalagi jika kita melihat kebenarannya secara utuh dari yang tercatat di kitab Injil Luk12:22-34.

       Di situ dalam konteks yang sama yaitu tentang hal kekuatiran, kita akan mengerti apa sebenarnya yang diajarkan oleh Tuhan Yesus.

       Mari kita lihat:

       Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Luk 12:31.

       (Sama bukan maksudnya dengan Mat 6:33?).

       (Sekarang marilah kita perhatikan ayat selanjutnya).

       Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu. Luk 12:32.

       Itulah yang kita dapatkan jika kita mencari, yaitu harta yang sebenarnya: Kerajaan Sorga!

       Jadi mengenai doktrin kemakmuran yang mengajar orang untuk fokus pada kekayaan sangatlah bertentangan dengan ajaran yang sehat dan benar. Hal itu diperkuat di ayat selanjutnya;

       Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. Luk 12:33. (Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).

       Jelas dan semakin gamblang bukan? Tuhan Yesus mengajar agar pengikut-Nya fokus pada kekekalan yaitu Kerajaan Sorga. Dan soal urusan harta malah Dia berkata: Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Sementara itu para pengajar doktrin kemakmuran mengajak orang mencari kefanaan, yaitu; mencari harta supaya menjadi kaya!

       Dalam hal kekayaan, hal ini jika tidak dipahami dengan benar, sering diartikan sebagai kekayaan duniawi. Padahal kaya yang dimaksud di dalam firman Tuhan itu jauh melebihi dari sekedar kaya dalam hal duniawi. Nanti di Bab 9 (Sembilan) akan dijelaskan secara singkat tentang kaya yang sebenarnya menurut Alkitab.

       Ayat terakhir dari perikop tentang hal kekuatiran dituliskan demikian: Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. (Luk 12:34).

       Keberadaan harta yang kita miliki, mengikat keberadaan hati kita. Jika harta yang kita miliki adalah harta duniawi maka hati kita akan dipenuhi oleh hal-hal yang bersifat duniawi. Jika harta yang kita miliki adalah harta sorgawi maka hati kita akan dipenuhi oleh hal-hal yang bersifat sorgawi. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada!

       Tuhan Yesus memberikan nasihat bagaimana tentang hal mengumpulkan harta.

       “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta  mencurinya.
       Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.
       Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Mat 6:19-21.

       Hendaknya kita fahami dengan benar, ajaran doktrin kemakmuran itu, bagi pencetusnya, dapat kita tengarai mempunyai maksud terselubung. Dengan mencomot ayat-ayat yang berhubungan dengan berkat dan kekayaan, mereka menanamkan doktrin kemakmuran kepada jemaat agar jemaat berusaha menjadi kaya, sehingga ada kalanya karena ingin menjadi kaya banyak orang yang terjebak  menghalalkan segala macam cara asal bisa menjadi kaya.

       Maksud terselubungnya ialah; untuk menjadi kaya jemaat di doktrin untuk menabur. Lagi-lagi ayat firman Tuhan yang dipakai sebagai dasar untuk meyakinkan jemaat, padahal ayat-ayat tersebut mereka manipulasi kebenarannya dan mereka gunakan untuk kepentingan doktrin kemakmuran yang mereka tancapkan.

       Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. 2 Kor 9:6.

       Lalu jemaat diperhadapkan pada pilihan; mau menuai sedikit atau menuai banyak?! Tentu saja semua menjawab mau menuai yang banyak. Nah kalau begitu silahkan menabur yang banyak!

       Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati Tuhan. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya. Kej 26:12-13.

       Apalagi ketika diperkuat dengan ayat; Ishak menabur dan mendapat hasil seratus kali lipat, maka membuat jemaat akan semakin kesengsem juga ingin mendapat hasil seratus kali lipat. Kemudian agar lebih mantap ditambahkan; lihatlah Ishak yang suka menabur, ia diberkati Tuhan. Jadi kalau ingin diberkati Tuhan, menaburlah seperti Ishak, lihatlah hasilnya; Ishak menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya! Tunggu apalagi, ayo buktikan- segeralah menabur yang banyak, berikan juga persepuluhan, berkat Tuhan menunggumu, bersiaplah menjadi kaya!

       Luluh lantak hati jemaat di iming-imingi kekayaan yang begitu meluber, sehingga mereka menabur habis-habisan, dan…? Yang menjadi kaya adalah yang mendapat taburan!

       Dengan maksud terselubung menggunakan ayat-ayat, baik ayat tentang berkat maupun ayat tentang menabur, sang pengajar doktrin kemakmuran tersenyum penuh kemenangan, karena ia bisa menunjukkan bukti bahwa dirinya bisa menjadi kaya dan hidup makmur.

       Sementara itu kebanyakan jemaat tetap dengan harap-harap cemas menanti-nantikan datangnya hari mujur untuk bisa menikmati menjadi kaya dan hidup makmur, tetapi ternyata penantiannya tak kunjung tiba! Ah nasib, nasib…..rupanya nasib mujur belum berpihak kepada mereka, kasihan…!

       Bagi Tuhan soal urusan menjadi kaya bukanlah hal yang sulit. Sebab jika orang yang diberkati Tuhan itu mengerti, maka justru orang tersebut akan menjadi saluran berkat bagi orang lain!

       Cukup banyak orang-orang kaya yang dapat mempertanggung-jawabkan kekayaannya dengan menjadi murah hati suka memberi, seperti contohnya Zakheus, kepala pemungut cukai, yang setengah harta miliknya dibagikan kepada orang miskin (Luk 19:8) Tabita, seorang perempuan yang banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah (Kis 9:36) juga Kornelius, seorang perwira pasukan yang disebut pasukan Italia, yang juga banyak memberi sedekah kepada umat Yahudi (Kis 10:1-2).

       Orang-orang yang diberkati Tuhan yang takut akan Tuhan dan menuruti perkataan Tuhan Yesus, mereka dapat mempertanggung jawabkan hartanya. Harta yang dimilikinya tidak dikumpulkan di bumi tapi dikumpulkan di sorga. Tetapi masalahnya niat baik dan tulus dari orang-orang yang takut akan Tuhan ini dimanfaatkan oleh mereka yang mengaku sebagai hamba-hamba Tuhan, dengan menyuruh jemaat menabur “mengumpulkan harta di sorga” melalui memberi kepada mereka.

       Padahal Tuhan Yesus berkata mengumpulkan harta di sorga itu demikian: Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah!

       Berikanlah sedekah itu maksudnya; berikanlah kepada orang miskin, berikanlah kepada orang yang papa, berikanlah kepada orang yang kelaparan, berikanlah kepada mereka yang membutuhkan.

       Tampaknya prinsip yang benar tentang kekayaan yang diajarkan dalam Alkitab, dan peringatan soal menjadi kaya, sudah tidak digubris lagi oleh para pengajar doktrin kemakmuran.

       Lihatlah ayat firman Tuhan yang memperingatkan tentang hal tersebut di bawah ini.

      Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. 1 Tim 6:9.

       Akibat mengerikan yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan, yang ditulis Alkitab seperti ayat tersebut di atas sekalipun, kelihatannya sudah tidak cukup untuk menyadarkan mereka, kenapa? Karena mereka sudah jatuh ke dalam jerat, mereka awalnya mungkin cinta Yesus, tetapi kemudian karena tergiur kekayaan, akhirnya terjatuh ke dalam jerat cinta uang!

       Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. 1 Tim 6:10.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar