JADILAH ORANG PILIHAN
Mari kita tetap membuka mata lebar-lebar,
lihatlah; walaupun tidak banyak tetapi masih ada hamba-hamba Tuhan yang telah
sukses dalam pelayanannya dan bersikap sama seperti Petrus dan rasul-rasul yang
lain, yaitu tetap rendah hati dan hidup
bersahaja, mereka itulah yang disebut sebagai orang-orang pilihan! (Mat 22:14).
Mereka itulah orang-orang yang
menyadari bahwa hidup itu singkat, hidup hanya seperti rumput.
Sebab: Semua yang hidup adalah seperti rumput dan kemuliaannya seperti
bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur. 1 Pet 1:24.
Orang-orang pilihan memilih untuk tetap hidup benar dengan bersedia
menyangkal diri, memikul salib setiap hari dan setia mengikut Yesus. (Luk 9:23).
Orang-orang pilihan itu adalah
milik Kristus dan berani menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan
keinginannya. (Gal 5:24).
Orang-orang pilihan sebagai milik Kristus itu sudah menjadi warga
Kerajaan Allah dan rela menderita karena Kerajaan itu. (2 Tes 1:5).
Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat
dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Rm 8:18.
Orang-orang pilihan itu tetap teguh menjaga hidupnya agar apa yang telah
dilakukan tidak sampai menjadi sia-sia!
Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah
memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak. 1 Kor 9:27.
Orang-orang pilihan selalu dapat menempatkan diri dalam posisi yang
benar ketika mereka sudah melakukan tugasnya yaitu; sebagai hamba, bahkan
menganggap dirinya sebagai hamba yang tidak berguna. Tidak ada kebanggaan apa pun
dari hasil sukses yang diraihnya, karena sebagai hamba- itu merupakan tugas
yang harus mereka lakukan! Itulah tugas yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus,
sehingga mereka tetap sadar dan berlaku rendah hati!
Demikianlah juga kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang
ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: “Kami adalah hamba-hamba yang
tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.” Luk 17:10.
Pandangan dan tujuan hidup orang-orang pilihan itu bukan untuk masa
sekarang ini saja, tetapi untuk masa yang tidak terbatas yaitu masa dalam
kemuliaan kekal. Walaupun untuk itu harus melewati penderitaan badani, yang
menurut Paulus sebagai penderitaan ringan, untuk mencapai kemuliaan kekal yang
melebihi segala-galanya! Pandangan mereka bukan kepada apa yang kelihatan
tetapi kepada apa yang tidak kelihatan, karena apa yang kelihatan adalah
sementara sedangkan yang tidak kelihatan adalah kekal.
Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami
kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada
penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang
tidak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak
kelihatan adalah kekal. 2 Kor 4:17-18.
Penulis mengajak anda untuk masuk dalam kehendak Tuhan, yaitu mari kita
bersama-sama menjadi menjadi orang-orang pilihan. Tidak penting siapa diri
kita, yang penting adalah apa yang kita lakukan. Semakin kita menempatkan diri
sebagai hamba yang tak berguna, penulis yakin, maka akan semakin efektif dan
semakin tajam dalam melakukan kehendak Tuhan!
Langkah dan pribadi Petrus semakin hari semakin menunjukkan kedewasaan
dan mendekati kesempurnaan. Sangat berbeda dengan kehidupan Petrus di masa yang
lalu, di mana ia dengan begitu mudahnya dapat berbuat kesalahan. Mengikuti
teladan Petrus sebagai manusia yang menuju kedewasaan dan kesempurnaan, berarti
kita sedang mengikuti langkah Petrus yang membawa kunci Kerajaan Sorga, tinggal
membuka saja!
Mengikuti teladan Petrus sebagai manusia, memberi pelajaran bagi kita
bahwa ia adalah manusia biasa sama seperti kita yang penuh dengan kelemahan.
Suatu pelajaran yang menyadarkan kita bahwa seorang manusia yang lemah
sekalipun- asal mau dibentuk oleh Tuhan, dapat diproses berjalan menuju
kedewasaan dan kesempurnaan.
Mungkin ada di antara anda ada
yang berkata: “Tapi Petrus yang sekarang kan
berbeda. Dulu ia banyak melakukan kesalahan karena belum dipenuhi Roh Kudus,
sedangkan sekarang berbeda karena Petrus
sudah penuh Roh Kudus!”
Tepat! Petrus yang dulu dan
yang sekarang memang berbeda. Sekarang Petrus sudah penuh Roh Kudus! Inilah hal
yang indah untuk kita pelajari, setelah Petrus penuh Roh Kudus ia berubah. Dulu
sebelum Petrus dipenuhi Roh Kudus ia belum berbuat hal-hal yang besar untuk
Tuhan. Tetapi sekarang sesudah ia dipenuhi Roh Kudus, Petrus dapat melakukan
hal-hal yang besar untuk Tuhan!
Tetapi inilah pelajaran yang indah untuk kita pelajari, bukan berarti
jika Petrus sudah penuh Roh Kudus maka ia tidak dapat berbuat kesalahan,
sekalipun Petrus dan rasul-rasul yang lain sudah penuh Roh Kudus ternyata
mereka masih bisa berbuat kesalahan!
Lihatlah kisah peristiwa di
bawah ini.
Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah
sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap
orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam
pelayanan sehari-hari. Kis 6:1.
Petrus dan rasul-rasul yang lain dalam pelayanannya semakin hari semakin
sukses. Tanda-tanda ajaib dan mujizat terus mereka lakukan. Jumlah murid
semakin bertambah. Tetapi dengan semakin sukses dan semakin bertambahnya jumlah
orang percaya, mulailah muncul persoalan baru yaitu persoalan mengenai
kebutuhan perut.
Timbullah sungut-sungut di
antara jemaat karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam
pelayanan sehari-hari. Dan sungut-sungut itu sampai ke telinga rasul-rasul.
Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid
berkumpul dan berkata: “Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan firman
Allah untuk melayani meja. Kis 6:2.
Di sinilah kunci pelajaran
berharga yang dapat kita petik dari kehidupan Petrus dan rasul-rasul lainnya.
Inilah letak rahasia bagaimana suatu kehidupan yang menuju kedewasaan dan
kesempurnaan menjalani proses yang
sebenarnya.
Kita semua sudah tidak perlu menyangsikan lagi kehebatan dan kesuksesan
para rasul ini, baik dalam pelayanan maupun dalam kepemimpinan mereka! Sebagai
pemimpin mereka sangat disegani dan dihormati oleh semua orang percaya. Mereka
adalah sosok-sosok pemimpin besar dan patut diacungi jempol. Sebagai
pemimpin-pemimpin yang besar mereka ini sebenarnya bisa saja berlagak seperti
orang-orang yang penting. Jadi ketika mereka mendengar timbul sungut-sungut di
antara jemaat, bisa saja dengan lagak berwibawa mereka menegor: “Kalian ini jangan suka bikin masalah.
Urusan perut saja kalian ributkan. Tidakkah kalian bisa hidup lebih tertib?!”
Seandainya mereka berkata demikian pun, kira-kira semua orang yang lain
pun akan memaklumi, karena para rasul ini sudah terlalu sibuk dengan segala
macam kesibukan dalam pelayanan. Karena tiap-tiap hari mereka mengajar
orang-orang percaya dari rumah yang satu ke rumah yang lain, belum lagi
ditambah mereka juga mengajar di Bait Allah. (Kis 2:46, Kis 5:25).
Tetapi mereka adalah hamba-hamba Tuhan yang
rendah hati, cara mereka menghadapi orang lain yang menghadapi kesulitan ialah
dengan kepedulian. Sikap yang bijaksana itulah cermin tingkat kedewasaan dan
kesempurnaan yang mereka miliki.
Kedua belas
rasul itu memanggil semua murid dan berkata: “Kami tidak merasa puas, karena
kami melalaikan firman Allah untuk melayani meja.”
Dengan sungut-sungut jemaat, bukannya para rasul menegor menyalahkan
jemaat, tetapi malah mereka mengakui bahwa merekalah yang bersalah! Dengan
jujur dihadapan jemaat mereka mengakui bahwa itu karena kesalahan mereka;
“Kami tidak merasa puas,- pengakuan
mereka- karena kami melalaikan firman
Allah untuk melayani meja.”
Hebat bukan? Mereka adalah orang-orang besar, mereka adalah
pemimpin-pemimpin hebat, mereka adalah orang-orang yang dipakai Tuhan secara
luar biasa, mereka adalah rasul-rasul yang dipilih oleh Tuhan Yesus sendiri
tetapi ketika mereka melalaikan firman Allah untuk melayani meja, mereka berani
mengakui kesalahannya!
Berbeda dengan pemimpin-pemimpin palsu penyebar doktrin kemakmuran,
mereka dengan suara lantang mendeklarasikan sukses yang diraihnya supaya
terlihat hebat. Mereka seperti nabi-nabi palsu yang suka dipuji-puji banyak
orang. Pemimpin-pemimpin seperti itu pandai berdiplomasi, apabila mereka
terpeleset jatuh dalam kesalahan!
Pernahkah anda mendengar ucapan
dari mereka yang mengaku sebagai hamba Tuhan, keluar kata-kata dari mulutnya
ucapan seperti ini: “Jangan mengusik orang yang diurapi Tuhan. (1 Taw 16:22).
Tanggung jawab kami langsung kepada Tuhan!”
Sebaliknya kalau mereka mendengar orang berkeluh kesah soal urusan
perut, bukannya dibantu malah ditekan dengan ucapan: coba koreksi diri sendiri
kenapa hidupmu susah?!
Tuduhan semacam itu- tanpa disadari telah menjalar luas, dan tanpa
disadari pula telah melekat pada pikiran kebanyakan jemaat, sehingga seringkali
bila ada orang percaya yang sedang mengalami pergumulan dalam kesusahan dan
kesulitan soal ekonomi, maka mereka itu dianggap tidak diberkati oleh Tuhan,
karena dianggap ada sesuatu yang salah dalam hidup mereka. Seolah-olah “ukuran”
diberkati itu terletak pada kebutuhan ekonomi. Hal ini membuktikan, bahwa
doktrin kemakmuran sudah merasuk dan melekat pada pikiran dan hati banyak orang
percaya!
Malahan terhadap hamba-hamba Tuhan yang telah melayani dengan setia
tetapi kehidupan ekonominya biasa-biasa saja, dan bahkan ada pula para
hamba-hamba Tuhan yang sudah cukup lama melayani tetapi kehidupannya masih
sederhana tanpa memiliki fasilitas pribadi yang memadai, mereka yang merasa
telah sukses dalam pelayanan dan terlihat makmur, mereka bersikap melecehkan
dan memandang rendah dengan berkata: “Jadi
hamba Tuhan koq melarat terus, punya kendaraan butut tidak ganti-ganti,
mestinya harus introspeksi- kalau jadi pelayan Tuhan tetapi tidak ada kemajuan
pasti ada yang salah!”
Bagi hamba-hamba Tuhan yang tulus melayani, yaitu mereka yang melayani
dengan tanpa motivasi untuk mengeruk kekayaan melalui pelayanan, bila mendengar
perkataan yang melecehkan tersebut, mereka tentu akan merasa seperti
teriris-iris hatinya!!!
Namun bagi hamba-hamba Tuhan yang mengerti firman Tuhan dan telah dewasa
rohaninya, hal itu dianggap sebagai ujian atau proses untuk mereka tetap dapat
bertahan dalam sikap menjaga kemurnian hati!!!
Dalam hal apa pun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya
pelayanan kami jangan sampai dicela.
Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami pelayan Allah,
yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan
kesukaran, dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga
dan berpuasa; dalam kemurnian hati,
pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang
tidak munafik. 2 Kor 6:3-6.
Sejalan dengan surat
yang ditulis oleh rasul Paulus tersebut di atas kepada jemaat di Korintus,
memang demikianlah kenyataan hidup yang sebenarnya yang dijalani oleh rasul
Paulus. Seperti yang tercatat di Kis 28:30-31;
Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu;
ia menerima semua orang yang datang kepadanya.
Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan
Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus. (Penekanan pada huruf dalam
ayat tersebut oleh penulis).
Sebagaimana halnya rasul-rasul yang lain, demikian juga rasul Paulus, ia
juga memiliki berbagai macam karunia untuk dipergunakan dalam pelayanan.
Sehingga dalam pelayanannya ia berhasil mempertobatkan banyak orang dan
berhasil membangun jemaat-jemaat di berbagai tempat seperti di; Roma, Korintus,
Galatia , Efesus, Filipi, Kolose, Tesalonika dan juga Makedonia, dan beberapa
tempat lainnya.
Jika dilihat dari keberhasilan rasul Paulus dalam pelayanannya
seharusnya ia memiliki kesempatan untuk menikmati jerih payah pelayanannya
dengan berbagai fasilitas pribadi, termasuk fasilitas rumah pribadi. Tetapi
jangankan untuk fasilitas rumah pribadi, untuk tempat tinggal saja, bukan saja
rasul Paulus tidak mau membebani jemaat untuk membantunya, sebaliknya malahan
ia menyewa rumah sendiri dengan menggunakan uangnya pribadi!
Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri!!!
Apakah jika demikian rasul Paulus
termasuk sebagai pelayan Tuhan seperti yang dikatakan oleh pemimpin-pemimpin
palsu yang mengajarkan doktrin kemakmuran dengan kalimat yang seperti tadi,
penulis sedikit merubah kalimatnya untuk menyesuaikan kasusnya:
“Jadi hamba Tuhan koq
melarat terus, tempat tinggal tidak punya, mampunya cuma kontrak, mestinya
harus introspeksi- kalau jadi pelayan Tuhan tetapi tidak ada kemajuan pasti ada
yang salah!”
Memangnya ada yang salah dengan pelayanan rasul Paulus?! Demikian juga
dengan hamba-hamba Tuhan yang telah berjerih payah dan tetap menjaga “kemurnian
hati” dengan hidup sederhana, apakah mereka harus introspeksi???!
Bukannya sebaliknya…..???!
Justru oleh karena sikap hidup yang benar seperti yang dipraktekkan oleh
rasul Paulus, dan hamba-hamba Tuhan yang lain yang menjaga kemurnian hatinya,
maka;
Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan
Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus. Kis 28:31.
(Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).
Tugas untuk memberitakan
Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus, dapat
dilakukan oleh rasul Paulus dan juga hamba-hamba Tuhan yang tetap menjaga
kemurnian hatinya, dengan terus
terang dan tanpa rintangan apa-apa!
Sebaliknya tidak seperti para pemimpin palsu yang mengajarkan doktrin
kemakmuran, sekalipun mereka dipuji oleh banyak orang karena terlihat hidupnya
sukses berkelimpahan harta, tetapi justru hidup mereka itu banyak dicela dan
menjadi bahan omongan, menjadi rintangan dan menjadi batu sandungan!!!
Tuhan Yesus telah memperingatkan:
“Celakalah kamu, jika semua orang
memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah
memperlakukan nabi-nabi palsu.” Luk 6:26.
Dengan keteguhan hati sebagai pelayan Kristus, rasul Paulus menegaskan
tentang kehidupan pribadinya yang sederhana.
Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar
mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu
apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu
yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal
kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.
Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan
kepadaku. Fil 4:11-13.
Andai, semua para pelayan Tuhan memiliki prinsip hidup seperti rasul
Paulus dan prinsip hidup seperti para rasul yang lain, maka pemberitaan Injil
akan menjadi sangat efektif, karena dengan demikian- pasti pemberitaan Injil
akan dapat dilakukan dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa!!!
Salah satu prinsip kebenaran
hidup sebagai pelayan Kristus yang sejati ialah: menjaga kemurnian hati!!!
Pengakuan bersalah Petrus bersama rasul-rasul yang lain adalah bagian
teladan yang mereka tinggalkan, supaya para pemimpin yang benar yang adalah
orang-orang pilihan, mengikuti cara bersikap dan bertindak benar.
Demikianlah atas inisiatif para rasul akhirnya terpilih tujuh
orang terbaik di antara para murid agar mereka diserahi tugas untuk pelayanan
meja. Karena para rasul memiliki alasan yang lebih penting dalam tugas mereka
yang pokok, yaitu supaya mereka dapat memusatkan pikiran dalam doa dan
pelayanan firman. (Kis 6:3-6).
Hasil dari sikap yang benar dari para rasul semakin membuka jalan untuk
tersebarnya firman Allah lebih luas lagi, sehingga jumlah murid di Yerusalem
makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya. (Kis
6:7).
Sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya, ini dapat menjadi
catatan tersendiri, ini dapat dikatakan sebagai bonus khusus. Penulis
berpendapat, sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya- ini bisa saja
dikarenakan mereka melihat kebenaran dari sikap para rasul yang sebagai
pemimpin, mereka berani bersikap jujur dan berani mengakui kesalahan mereka.
Tidak seperti golongan para imam itu sendiri yang biasanya hanya bisa menuding
orang lain yang salah.
Pemberitaan Injil yang
disertai sikap yang benar akan menghasilkan dampak yang luar biasa!
Ada tulisan menarik yang penulis kutip
berikut ini sebagai illustrasi.
Sebelum teknologi mengubah cara kita berlayar di perairan, pengeras suara
dan peluit digunakan untuk berkomunikasi dari kapal ke kapal. Suatu kali,
sebuah kapal perang dengan persenjataan lengkap perlahan bergerak melalui
perairan yang belum dipetakan dalam sebuah teluk yang diselubungi kabut.
Tiba-tiba, melalui kabut, kapten kapal itu melihat apa yang tampak
seperti sinar dari kapal lain mengarah ke jalan yang sedang dilewatinya.
Segera, ia menyambar pengeras suaranya dan berteriak: “Di sini Laksamana Smith
dari Angkatan Laut Amerika Serikat. Arahkan kapalmu 10 derajat ke selatan. Kita
akan bertabrakan, dan saya perintahkan untuk segera dilaksanakan.”
Melalui kabut, ia mendengar suatu jawaban yang samar-samar, “Di sini
Kelasi Kelas Empat Jones. Anda yang harus mengarahkan kapal anda sendiri 10 derajat ke utara.”
Laksamana itu berkata kepada diri sendiri, “Orang ini adalah seorang kelasi kelas empat, dan aku adalah seorang
Laksamana! Dia pikir siapa dia?” Sambil mengeraskan pengeras suaranya dan
menggunakan nada berwibawa, ia membentak, “Di sini Laksamana Smith dari
Angkatan Laut Amerika Serikat! Anda yang harus mengarahkan kapal anda 10
derajat ke selatan! Saya perintahkan!”
Melalui kabut datanglah jawaban yang sama: :Di sini Kelasi Kelas Empat
Jones. Anda yang harus mengarahkan kapal
anda 10 derajat ke utara.”
Kemarahan sang Laksamana menyala terhadap ketidakpatuhan pemuda itu,
“Ini Laksamana Smith, kataku! Arahkan kapal anda 10 derajat ke selatan. Di sini
kapal perang!”
Melalui kabut, suara yang mantap itu menjawab, “Di sini Kelasi Kelas
Empat Jones. Arahkan kapal anda sendiri 10 derajat ke utara. Di sini mercusuar!”
Sikap kita seperti kemudi sebuah
kapal. Kalau anda tidak dikendalikan oleh kemudi, anda akan dihancurkan
batu-batu karang.
Pilihan ada di tangan anda.
(Di kutip dari buku: SIKAP Yang
Menentukan KEBERHASILAN. Hal.29-30. Oleh, Wayne Cordeiro)
Untung saja Petrus tidak berkata seperti ini: “Di sini rasul Petrus.
Kepala semua rasul. Kalian jangan bersungut-sungut!”
Sebagai gembala yang baik
betapa berbeda sikap Petrus dan semua rasul yang lain dengan gembala-gembala di
zaman nabi Yehezkiel, yang adalah gambaran pemimpin-pemimpin pada masa sekarang
ini yang mengajarkan doktrin kemakmuran, yang lebih mementingkan kepentingannya
sendiri dibanding kepentingan domba-domba milik Tuhan.
Doktrin kemakmuran yang diajarkan melalui ayat
yang sepotong-sepotong kelihatannya Alkitabiah, padahal itu sudah menyimpang
dan bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan.
Di bawah ini ayat-ayat sepotong-sepotong
yang sering dipakai sebagai doktrin kemakmuran;
Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku
datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala
kelimpahan. Yoh 10:10.
Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa
Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu
menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya. 2 Kor 8:9.
Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan
orang yang menabur banyak akan menuai banyak juga. 2 Kor 9:6.
Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat
hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati Tuhan. Dan orang itu menjadi kaya,
bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya. Kej 26:12-13.
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu
akan ditambahkan kepadamu. Mat 6:33.
Dan masih cukup banyak beberapa ayat yang lain yang berkaitan dengan
hidup diberkati dalam kelimpahan.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan semua ayat-ayat tersebut, sebab
semua ayat-ayat tersebut adalah firman Tuhan! Yang menjadi masalah adalah
ketika dengan mencomot ayat sepotong-sepotong, kemudian mengajarkannya yang
konotasinya bahwa hidup semua orang percaya harusnya menjadi kaya, itulah yang
tidak benar. Lalu kemudian seolah-olah orang percaya yang hidupnya secara
ekonomi biasa-biasa saja, itu berarti tidak diberkati oleh Tuhan!
Mari kita melihat bagaimana
para pengajar doktrin kemakmuran tersebut memanipulasi ayat-ayat firman Tuhan.
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu
akan ditambahkan kepadamu. Mat 6:33.
Itu adalah salah satu ayat favorit yang sering digunakan untuk mengajarkan
doktrin kemakmuran. Kalimat di bagian depan yaitu “tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya” dipakai
sebagai dasar menyampaikan kebenaran firman Tuhan, biasanya di bagian ini masih
selaras dengan kebenaran firman Tuhan, yaitu mencari, mencari dan mencari
Kerajaan Allah dan kebenarannya. Tetapi ketika sampai pada bagian; “maka semuanya itu akan ditambahkan
kepadamu.” Mulailah yang dimaksud dengan- semuanya itu akan ditambahkan-
selalu dihubungkan dengan hasil dari mencari tadi, yaitu hasilnya mendapatkan
berkat-berkat materi; mempunyainya dalam segala kelimpahan
(Yoh 10:10), supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya (2 Kor 8:9).
Karena doktrin kemakmuran tersebut menggunakan dasar ayat-ayat firman
Tuhan maka kelihatannya Alkitabiah. Kebanyakan jemaat Tuhan tidak mengerti dan
tidak menyadari kalau ayat-ayat yang digunakan itu adalah suatu manipulasi dari
ayat-ayat firman Tuhan, karena pengertian yang sebenarnya bukan demikian.
Sehingga yang tertanam dalam pikiran jemaat adalah; jika ingin diberkati
menjadi kaya, maka carilah Kerajaan Allah dan kebenarannya lebih dahulu! Jadi
motivasi mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, adalah supaya menjadi
kaya!
Bukankah untuk hal kebutuhan jasmani tersebut Tuhan Yesus sudah
mengingatkan di ayat sebelumnya yaitu ayat di bawah ini?
Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya
itu. Mat 6:32.
(Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).
Kekayaan dan berkat-berkat jasmani, semua itu dicari bangsa-bangsa yang
tidak mengenal Allah!
Jika kita melihat bagian ayat-ayat
sebelumnya yang di atasnya lagi, maka makin jelas maksud ajaran Tuhan Yesus
yaitu tentang:
Bagaimana cara menyikapi: Hal kekuatiran.
Tuhan Yesus berkata supaya kita
tidak perlu kuatir akan kehidupan; soal makanan, minuman, pakaian; pendek kata
semua kebutuhan jasmani tidak usah kuatir, karena hidup lebih penting dari
semuanya itu. Burung di udara saja dipelihara oleh Bapa di sorga, apalagi kita
yang jauh lebih berharga dibanding burung-burung itu. Jadi, jangan kuatir!
Itulah intinya. (Mat 6:25-34).
Jadi bukan soal diberkati menjadi kaya seperti yang diajarkan dalam
doktrin kemakmuran. Apalagi jika kita
melihat kebenarannya secara utuh dari yang tercatat di kitab Injil Luk12:22-34.
Di situ dalam konteks yang
sama yaitu tentang hal kekuatiran, kita akan mengerti apa sebenarnya yang
diajarkan oleh Tuhan Yesus.
Mari kita lihat:
Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan
kepadamu. Luk 12:31.
(Sama bukan maksudnya dengan Mat 6:33?).
(Sekarang marilah kita perhatikan ayat selanjutnya).
Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan
memberikan kamu Kerajaan itu. Luk 12:32.
Itulah yang kita dapatkan
jika kita mencari, yaitu harta yang sebenarnya: Kerajaan Sorga!
Jadi mengenai doktrin kemakmuran yang mengajar orang untuk fokus pada
kekayaan sangatlah bertentangan dengan ajaran yang sehat dan benar. Hal itu
diperkuat di ayat selanjutnya;
Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu
pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan
habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. Luk
12:33. (Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).
Jelas dan semakin gamblang bukan? Tuhan Yesus mengajar agar pengikut-Nya
fokus pada kekekalan yaitu Kerajaan Sorga. Dan soal urusan harta malah Dia
berkata: Juallah segala milikmu dan
berikanlah sedekah! Sementara itu para pengajar doktrin kemakmuran mengajak
orang mencari kefanaan, yaitu; mencari harta supaya menjadi kaya!
Dalam hal kekayaan, hal ini jika tidak dipahami dengan benar, sering
diartikan sebagai kekayaan duniawi. Padahal kaya yang dimaksud di dalam firman
Tuhan itu jauh melebihi dari sekedar kaya dalam hal duniawi. Nanti di Bab 9
(Sembilan) akan dijelaskan secara singkat tentang kaya yang sebenarnya menurut
Alkitab.
Ayat terakhir dari perikop tentang hal kekuatiran dituliskan demikian: Karena
di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. (Luk 12:34).
Keberadaan harta yang kita
miliki, mengikat keberadaan hati kita. Jika harta yang kita
miliki adalah harta duniawi maka hati kita akan dipenuhi oleh hal-hal yang
bersifat duniawi. Jika harta yang kita miliki adalah harta sorgawi maka hati
kita akan dipenuhi oleh hal-hal yang bersifat sorgawi. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada!
Tuhan Yesus memberikan nasihat
bagaimana tentang hal mengumpulkan harta.
“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat
merusakkannya dan pencuri membongkar serta
mencurinya.
Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat
tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.
Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Mat 6:19-21.
Hendaknya kita fahami dengan benar, ajaran doktrin kemakmuran itu, bagi
pencetusnya, dapat kita tengarai mempunyai maksud terselubung. Dengan mencomot
ayat-ayat yang berhubungan dengan berkat dan kekayaan, mereka menanamkan
doktrin kemakmuran kepada jemaat agar jemaat berusaha menjadi kaya, sehingga
ada kalanya karena ingin menjadi kaya banyak orang yang terjebak menghalalkan segala macam cara asal bisa
menjadi kaya.
Maksud terselubungnya ialah; untuk menjadi kaya jemaat di doktrin untuk
menabur. Lagi-lagi ayat firman Tuhan yang dipakai sebagai dasar untuk
meyakinkan jemaat, padahal ayat-ayat tersebut mereka manipulasi kebenarannya
dan mereka gunakan untuk kepentingan doktrin kemakmuran yang mereka tancapkan.
Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan
orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. 2 Kor 9:6.
Lalu jemaat diperhadapkan
pada pilihan; mau menuai sedikit atau menuai banyak?! Tentu saja semua menjawab
mau menuai yang banyak. Nah kalau begitu silahkan menabur yang banyak!
Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat
hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati Tuhan. Dan orang itu menjadi kaya,
bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya. Kej 26:12-13.
Apalagi ketika diperkuat dengan ayat; Ishak menabur dan mendapat hasil
seratus kali lipat, maka membuat jemaat akan semakin kesengsem juga ingin
mendapat hasil seratus kali lipat. Kemudian agar lebih mantap ditambahkan;
lihatlah Ishak yang suka menabur, ia diberkati Tuhan. Jadi kalau ingin
diberkati Tuhan, menaburlah seperti Ishak, lihatlah hasilnya; Ishak menjadi
kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya! Tunggu
apalagi, ayo buktikan- segeralah menabur yang banyak, berikan juga
persepuluhan, berkat Tuhan menunggumu, bersiaplah menjadi kaya!
Luluh lantak hati jemaat di iming-imingi kekayaan yang begitu meluber,
sehingga mereka menabur habis-habisan, dan…? Yang menjadi kaya adalah yang
mendapat taburan!
Dengan maksud terselubung menggunakan ayat-ayat, baik ayat tentang
berkat maupun ayat tentang menabur, sang pengajar doktrin kemakmuran tersenyum
penuh kemenangan, karena ia bisa menunjukkan bukti bahwa dirinya bisa menjadi
kaya dan hidup makmur.
Sementara itu kebanyakan
jemaat tetap dengan harap-harap cemas menanti-nantikan datangnya hari mujur
untuk bisa menikmati menjadi kaya dan hidup makmur, tetapi ternyata
penantiannya tak kunjung tiba! Ah nasib, nasib…..rupanya nasib mujur belum
berpihak kepada mereka, kasihan…!
Bagi Tuhan soal urusan
menjadi kaya bukanlah hal yang sulit. Sebab jika orang yang diberkati Tuhan itu
mengerti, maka justru orang tersebut akan
menjadi saluran berkat bagi orang lain!
Cukup banyak orang-orang kaya yang dapat
mempertanggung-jawabkan kekayaannya dengan menjadi murah hati suka memberi,
seperti contohnya Zakheus, kepala pemungut cukai, yang setengah harta miliknya
dibagikan kepada orang miskin (Luk 19:8) Tabita,
seorang perempuan yang banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah (Kis 9:36) juga Kornelius, seorang perwira pasukan
yang disebut pasukan Italia, yang juga banyak memberi sedekah kepada umat
Yahudi (Kis 10:1-2).
Orang-orang yang diberkati Tuhan yang takut akan Tuhan dan menuruti
perkataan Tuhan Yesus, mereka dapat mempertanggung jawabkan hartanya. Harta
yang dimilikinya tidak dikumpulkan di bumi tapi dikumpulkan di sorga. Tetapi
masalahnya niat baik dan tulus dari orang-orang yang takut akan Tuhan ini
dimanfaatkan oleh mereka yang mengaku sebagai hamba-hamba Tuhan, dengan
menyuruh jemaat menabur “mengumpulkan harta di sorga” melalui memberi kepada
mereka.
Padahal Tuhan Yesus berkata mengumpulkan harta di sorga itu demikian: Juallah
segala milikmu dan berikanlah sedekah!
Berikanlah sedekah itu
maksudnya; berikanlah kepada orang miskin, berikanlah kepada orang yang papa,
berikanlah kepada orang yang kelaparan, berikanlah kepada mereka yang
membutuhkan.
Tampaknya prinsip yang benar
tentang kekayaan yang diajarkan dalam Alkitab, dan peringatan soal menjadi
kaya, sudah tidak digubris lagi oleh para pengajar doktrin kemakmuran.
Lihatlah ayat firman Tuhan yang memperingatkan tentang hal tersebut di
bawah ini.
Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam
jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang
menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. 1 Tim 6:9.
Akibat mengerikan yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan
kebinasaan, yang ditulis Alkitab seperti ayat tersebut di atas sekalipun,
kelihatannya sudah tidak cukup untuk menyadarkan mereka, kenapa? Karena mereka
sudah jatuh ke dalam jerat, mereka awalnya mungkin cinta Yesus, tetapi kemudian
karena tergiur kekayaan, akhirnya terjatuh ke dalam jerat cinta uang!
Karena
akar segala kejahatan ialah cinta uang. 1 Tim 6:10.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar