Selasa, 22 April 2014

BAB 4


KESALAHAN PETRUS MENYERET ORANG LAIN

        Kata Petrus kepada-Nya: “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” Semua murid yang lain pun berkata demikian juga. Mat26:35. (Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).

       Petrus sebagai seorang pemimpin mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap orang lain. Bahkan untuk suatu kesalahan yang dibuat Petrus, karena ia seorang pemimpin dengan pengaruh yang sangat kuat, berakibat menyeret murid-murid yang lain ikut melakukan kesalahan juga. Lihatlah kalimat bagian akhir dari ayat tersebut di atas yaitu: Semua murid yang lain pun berkata demikian juga!

       Jika sebelumnya murid-murid yang lain mereka hanya diam saja, tetapi karena kegigihan Petrus yang begitu ngotot akhirnya menyeret mereka juga untuk ikut berkata: “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.”

       Padahal mereka sebelumnya juga mendengar apa yang telah dikatakan oleh Yesus; Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai berai.

       Manakah yang benar, semua murid ikut mati bersama Yesus dan tidak menyangkal Dia, atau mereka lari meninggalkan Yesus dan tercerai berai?

       Firman Tuhan tidak pernah salah, apa yang Yesus katakan benar. Inilah yang terjadi ketika Yesus ditangkap.

       Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi. Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri. Mat 26:56.

       Yesus benar, nubuatan kitab nabi-nabi digenapi!

       Setelah Yesus ditangkap Ia dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan sementara Yesus diadili, Petrus duduk di luar halaman, di situlah Petrus bertemu dengan tiga orang yang berbeda dan yang ketiga-tiganya menanyakan hubungan antara Petrus dengan Yesus tapi ketiga-tiganya disangkalnya semua! (Mat 26:69-73).

       Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: “Aku tidak kenal orang itu.” Dan pada saat itu berkokoklah ayam.
       Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan  Yesus kepadanya: “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu ia pergi keluar dan menangis dengan sedihnya. Mat 26:74-75.

       Itu juga merupakan salah satu bagian dari kesalahan yang telah dilakukan oleh Petrus, walaupun sebenarnya sebelum peristiwa Petrus menyangkal Yesus telah didahului dengan peristiwa yang lain yaitu, ia telah dua kali melakukan kesalahan.

       Yang pertama, ketika Petrus bersama Yohanes dan Yakobus diajak oleh Yesus yang hendak berdoa di taman Getsemani. Di situ pada saat Yesus sedang berdoa, malah ketiganya tertidur. Meskipun mereka bertiga, tetapi hanya kepada Petrus-Yesus berkata: “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Mat 26:40-41).

       Lalu untuk kedua kalinya Yesus pergi berdoa dan sekembalinya dari berdoa, didapati-Nya mereka kembali sedang tertidur. Demikian juga untuk ketiga kalinya setelah Ia pergi berdoa, lagi-lagi didapati mereka masih juga lelap tertidur.

       Pelajaran apakah yang dapat dipetik dari peristiwa Petrus, Yohanes dan Yakobus yang tertidur di saat Yesus sedang berdoa?

       Seperti Petrus, Yohanes dan Yakobus yang tidak sanggup berjaga-jaga selama satu jam dan teridur, demikian juga banyak orang yang tertidur dan akhirnya terjatuh, karena tidak sanggup berjaga-jaga melawan keinginan daging dan hawa nafsunya.

       Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala. Kol 3:5.

       Selanjutnya menyusul kesalahan Petrus yang kedua, saat peristiwa Yesus ditangkap, di mana ia memotong telinga seorang hamba Imam Besar dengan pedang hingga putus.

       Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya.
       Maka kata Yesus kepadanya: Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. Mat 26:51-52.

       Peristiwa Yesus ditangkap ini tercatat dalam keempat kitab Injil. Memang dari ayat yang kita baca tersebut di atas, siapa yang memotong telinga hamba Imam Besar dengan pedang hingga putus itu tidak disebutkan namanya. Di dalam Injil Matius, Injil Markus dan Injil Lukas hanya ditulis- seorang dari mereka. (Mat 26:51, Mrk 14:47, Luk 22:50). Tetapi di dalam Injil Yohanes dengan jelas dituliskan namanya, bahwa itu adalah Petrus.

       Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang,  menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus. Yoh 18:10.

       Ya, kembali Petrus melakukan kesalahan, kali ini dengan kekerasan yang menyebabkan orang lain terluka.

       Karena Yesus ditangkap, Petrus ingin membela dengan cara menghakimi dan menghukum; dengan cara menyakiti. Petrus memang tipe seorang pemimpin yang apabila disinggung kepentingannya bisa melakukan tindakan balasan yang menyakitkan. Bagi Petrus orang-orang yang menangkap gurunya itu sama halnya dengan menyinggung kepentingannya, karena Yesus sebagai gurunya telah mengangkatnya sebagai batu karang untuk membangun jemaat-Nya dan alam maut tidak akan menguasainya. Selain itu oleh gurunya ia juga diberi kunci Kerajaan Sorga. Dan juga kuasa; apa yang diikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang dilepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.

       Jadi kalau ada orang \yang mengganggu gurunya berarti juga mengganggu kepentingannya. Jadi tidak heran ketika Yesus ditangkap, Petrus menghunus pedangnya dan memotong telinga kanan hamba yang bernama Malkhus itu. Tetapi Yesus menegurnya: Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.

       Banyak pemimpin yang memiliki sikap seperti Petrus. Apabila disinggung kepentingannya bisa mengambil sikap menghakimi dan menghukum dengan tindakan balasan yang menyakitkan, sampai membuat orang lain terluka.

       Mungkin bukan dengan pedang, tetapi bisa saja dengan kata-kata yang setajam pedang untuk melukai hati orang lain. Seperti ada ungkapan demikian:

       Pedang itu memang tajam tapi lebih tajam kata-kata. Luka karena pedang memang sakit, tetapi lebih sakit luka karena kata-kata, sebab luka karena pedang akan hilang sakitnya apabila luka itu telah sembuh, tetapi luka karena kata-kata tidak akan hilang sakitnya walaupun kata-kata itu telah berlalu.

       Jadi berhati-hatilah dengan perkataan anda agar tidak menyakiti dan  melukai hati orang lain!

       Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.
       Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. Kol 3:16-17.

       Memang sangat menarik dapat belajar dari pribadi Petrus. Banyak pelajaran berharga yang dapat kita peroleh, bagaimana hidup kekristenan bisa diubahkan menjadi semakin dewasa dan disempurnakan. Petrus adalah contoh manusia yang berjalan menuju kedewasaan dan kesempurnaan. Nanti kita akan melihat bagaimana proses itu terjadi. Namun sekarang sebelum sampai pada bagian Petrus menuju kedewasaan dan kesempurnaan, kesalahan apalagi yang dapat dilakukan oleh Petrus?

       Kali ini kita akan melihat bagaimana Petrus melakukan kesalahan lagi yaitu setelah peristiwa Yesus mati di kayu salib dan setelah kebangkitan-Nya.

       Benar kata Yesus bahwa semua murid akan tergoncang imannya. Hal itu dapat kita lihat setelah Yesus ditangkap, diadili dan kemudian sampai di hukum mati di kayu salib. Semua murid tergoncang imannya tak terkecuali Petrus. Mereka tercerai berai karena mereka kehilangan sosok seorang guru yang biasanya mengayomi mereka dan yang mereka harapkan menjadi raja mereka. Mereka sangat sedih dan terpukul, rasa putus asa membuat iman mereka semakin tergoncang, sampai kemudian mereka mendengar kabar; Yesus bangkit! Ya kebangkitan-Nya memberi pengharapan baru bagi mereka.

       Oleh karena kesedihan, rasa putus asa, dan iman yang tergoncang membuat semua murid lupa dengan apa yang Yesus pernah katakan. Tetapi sekarang setelah mereka mendengar kabar bahwa Yesus telah bangkit, kini mereka teringat kalau Yesus pernah berkata: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” (Mat 17:22-23).

       Sesudah kebangkitan-Nya Yesus menampakkan diri berulangkali, pertama kepada Maria Magdalena lalu kepada dua orang yang berjalan ke Emaus kemudian kepada para rasul juga kepada murid-murid yang lain. (Mat 28, Mrk 16, Luk 24, Yoh 21 dan Yoh 22).

       Sekalipun Petrus dan murid-murid yang lain telah bertemu dengan Yesus sesudah kebangkitan-Nya , namun ternyata iman mereka yang tergoncang masih belum pulih sepenuhnya. Hal itu dapat kita ketahui dari kitab Injil Yohanes, seperti dalam kisah kejadian di bawah ini.

       Waktu itu ada tujuh orang yang tengah berkumpul berada di pantai danau Tiberias. Mereka adalah Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus yaitu Yohanes dan Yakobus, dan dua orang murid-Nya yang lain, yang tidak disebutkan namanya. (Yoh 21:2).

       Pada waktu itu meskipun sebelumnya mereka telah bertemu dengan Yesus sesudah kebangkitan-Nya (Yoh 20:19-29), namun bisa saja suasana hati mereka masih tidak menentu, antara pengharapan dan iman yang masih tergoncang yang belum pulih benar, berbaur campur aduk menjadi satu sehingga hati mereka menjadi galau.

       Bisa saja dalam suasana hati yang masih galau itulah Petrus berkata kepada teman-temannya: “Aku pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya: “Kami pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. (Yoh 21:3).

       Lagi-lagi Petrus memberi pengaruh yang negatif bagi murid-murid yang lain. Sebagai figur seorang pemimpin yang memiliki pengaruh yang sangat kuat, apa yang dilakukannya membuat orang lain mengikutinya. Ketika ia berkata: “Aku pergi menangkap ikan.” Maka serempak yang lain mengikutinya. Kata mereka kepadanya: “Kami pergi juga dengan engkau.”

       Rupanya Petrus telah lupa, bahwa kehidupan masa lalunya telah diubahkan oleh Yesus, dari seorang penjala ikan menjadi penjala manusia.

       Hal itu bermula ketika Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Pada waktu itu Petrus dan saudaranya Andreas juga Yohanes dan Yakobus saudaranya sedang membasuh jala mereka. Lalu Yesus naik ke salah satu perahu yaitu perahu miliknya dan menyuruhnya supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Kemudian Yesus duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.
       Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”
       Dan- wow luar biasa- setelah mereka melakukannya, mereka mendapat sejumlah besar tangkapan ikan sehingga jala mereka mulai koyak. Melalui isyarat teman-temannya datang membantu mereka mengisi kedua perahu itu penuh dengan ikan hingga hampir tenggelam.
       Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon.
       Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau menjala manusia.”
       Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. (Luk5:1-11).

       Seharusnya peristiwa tersebut di atas tidak mudah untuk dilupakan. Seharusnya Petrus ingat karena itu merupakan suatu peristiwa bersejarah dalam hidupnya. Seharusnya itu menjadi kenangan yang melekat di dalam ingatannya; karena jika sebelumnya Petrus dan kawan-kawannya semalam-malaman telah bekerja keras untuk menangkap ikan tapi tidak mendapat apa-apa. Kemudian Yesus yang setelah selesai mengajar orang banyak menyuruhnya bertolak ke tempat yang dalam dan memerintahkan menebarkan jala untuk menangkap ikan, dan hasilnya sungguh luar biasa.

       Walaupun awalnya Petrus membantah tapi akhirnya ia taat dan menurut juga. Sekali jala ditebarkan, hasil yang didapat sungguh tak terhingga sampai jala mereka mulai koyak. Setelah dibantu oleh teman-temannya, dua perahu terisi penuh ikan hingga hampir tenggelam.

       Petrus takjub dan tersungkur di depan Yesus sambil berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia!”

       Ini adalah peristiwa besar, ini adalah peristiwa yang sangat menakjubkan, dan ini adalah peristiwa yang sungguh luar biasa! Penjala ikan menjadi penjala manusia!!! Sehingga sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

       Ada suatu keputusan besar yang mereka ambil,  mereka mengambil suatu keputusan yang besar yaitu dengan berani meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

       Tapi sayang keputusan yang besar dan berani tersebut akhirnya mereka lupakan! Hal itu telah dijelaskan sebelumnya di atas. Petrus dan keenam murid yang lain kembali pergi menangkap ikan.

       Kenapa hal itu dapat terjadi?

       Bukankah hidup mereka telah diubahkan, dari panjala ikan menjadi penjala manusia? Dengan kata lain mereka telah diberi visi untuk masa depan mereka. Ya mereka telah diberi visi oleh Yesus dengan ungkapan; penjala ikan menjadi penjala manusia, “Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia.”

       Tentu saja kita semua faham, sebagai penjala ikan mereka menebarkan jala untuk menangkap ikan, tetapi sebagai penjala manusia tidak mungkin mereka “menebarkan jala” untuk menangkap manusia!

       Jadi kalau begitu bagaimana cara mereka menjala manusia?

       Jika sebagai penjala ikan mereka “menebarkan jala” untuk menangkap ikan, maka sebagai penjala manusia mereka “menebarkan Injil” untuk menangkap manusia!

       Ya, itulah visi yang Yesus sudah berikan kepada mereka. Dari kehidupan nelayan sebagai penjala ikan diubah menjadi pemberita Injil sebagai penjala manusia.

       Seperti Yesus sebagai guru Ia mengajar dan memberi contoh: Dengan menebarkan Injil, Yesus menjala manusia yaitu mereka yang kemudian dijadikan sebagai murid-murid-Nya. Demikian juga agar murid-murid-Nya belajar dari-Nya, yaitu mereka melakukan hal yang sama; menebarkan Injil menjala manusia!

       Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
       Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan celaka; mereka akan meletakkan tangan atas orang sakit, dan orang itu pun akan sembuh.”
       Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.
       Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya. Mrk 16:15-20.

       Tetapi sayang mereka telah melupakannya sehingga mereka kembali pergi menangkap ikan.

       Ini adalah bentuk kesalahan seorang pemimpin seperti Petrus yang kemudian membawa pengaruh menyeret orang lain untuk melakukan kesalahan yang sama.

       Tetapi sebenarnya kesalahan mendasar yang dilakukan oleh Petrus adalah karena ia telah kehilangan visi yang Yesus sudah berikan.

       Ya! Petrus telah kehilangan visi!!!

       Apa yang menyebabkan Petrus sampai kehilangan visi yang begitu besar yang Yesus sudah berikan dalam hidupnya?

       Rupanya sementara melalui peristiwa Yesus ditangkap, diadili, kemudian mati dibunuh di kayu salib, Petrus dan semua murid yang lain tergoncang imannya, atau lebih tepatnya; imannya di uji atau di tampi oleh si Iblis. (Luk 22:31).

       Yesus tahu bahwa itu adalah ujian iman yang berat, untuk hal itulah Ia telah berdoa bagi Petrus supaya imannya jangan sampai gugur, dan mengingatkannya; agar setelah ia insyaf, ia menguatkan yang lain.

       Tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insyaf, kuatkanlah saudara-saudaramu. Luk 22:32.

       Seperti Petrus yang melakukan kesalahan karena ia telah kehilangan visi sehingga bukan menjala manusia, melainkan kembali dalam kehidupannya yang lama sebagai nelayan yaitu kembali pergi menangkap ikan.

       Demikian juga hal ini terjadi kepada banyak pemimpin yang juga melakukan kesalahan, karena telah kehilangan visi sehingga mereka tidak lagi menebarkan Injil untuk menjala manusia, tetapi lebih suka menebarkan jala untuk menangkap ikan, yaitu materi.

       Seperti Petrus dan semua murid yang lain mengalami proses digoncang atau diuji imannya, demikian pula banyak pemimpin yang juga mengalami proses digoncang atau di uji imannya. Dan tidak sedikit yang akhirnya juga seperti Petrus. Mereka kehilangan visi yaitu tidak lagi mengajar jemaat tentang Injil Kerajaan Sorga: Kekekalan, tetapi justru lebih suka mengajar jemaat untuk mengejar berkat yaitu mencari ikan: Kefanaan.

       Hal itu diperkuat melalui kesaksian hidup mereka sebagai pemimpin yang dengan bangga menunjukkan berapa banyak ikan yang berhasil ditangkap, maksudnya berapa banyak materi yang berhasil dikumpulkan.

       Ini sungguh menyedihkan karena tanpa disadari banyak pemimpin gereja yang sudah masuk ke dalam perangkap doktrin kemakmuran!

       Dan yang lebih menyedihkan lagi begitu banyak gereja yang pemimpinnya sudah kehilangan visi sehingga tidak lagi berpikir untuk memuridkan jemaat agar jemaat dapat melakukan Amanat Agung Tuhan Yesus, yaitu dengan cara; jemaat diajar, dilatih, dipersiapkan, dan diperlengkapi supaya mereka dapat memberitakan atau menebarkan Injil menjala manusia.

       Bukankah Amanat Agung Tuhan Yesus adalah untuk semua orang percaya termasuk jemaat?

       Memang cukup banyak gereja yang memiliki program penginjilan, tetapi hanya sedikit pemimpin gereja yang benar-benar fokus dalam mengajar dan mempersiapkan jemaat untuk dimuridkan sehingga dapat melakukan tugas Amanat Agung Tuhan Yesus.

       Selebihnya program penginjilan dapat dikatakan hanya sebagai pelengkap program di gereja.

       Penulis bersyukur mendapat kesempatan untuk diajar dan dimuridkan oleh seorang hamba Tuhan yang rendah hati, yang walaupun bukan seorang pemimpin gereja namun memiliki pengetahuan yang luas dan luar biasa tentang firman Tuhan dan terutama dalam mempraktekkan ajaran Tuhan Yesus sebagai penjala manusia.

       Hal itu berawal ketika pada tahun 2007 penulis bergabung dalam sebuah wadah pelayanan yang bersifat interdenominasi gereja, yaitu dalam pelayanan kunjungan mendoakan orang sakit di salah satu rumah sakit di Surabaya.

       Sejak tahun 2007 itu pula penulis aktif hingga sekarang dalam pelayanan kunjungan di salah satu rumah sakit di Surabaya tersebut, yang pelaksanaannya dilakukan setiap seminggu sekali dan diadakan pada saat jam bezoek untuk para pasien.

       Melalui pelayanan kunjungan  dan mendoakan orang sakit di rumah sakit itulah penulis diajar, dilatih, dipersiapkan dan diperlengkapi untuk bagaimana caranya mempraktekkan menebarkan Injil menjala manusia dan akhirnya berhasil.

       Ternyata apabila seseorang diajar, dilatih, dipersiapkan, dan diperlengkapi maka dia akan menjadi seorang murid yang akhirnya dapat melaksanakan tugas untuk menebarkan atau memberitakan Injil menjala manusia! Hal ini benar, bahwa menjala manusia itu mudah dan memang sungguh mudah, hal itu nanti akan dijelaskan kemudian, yaitu di bagian berikutnya di Bab 5 (Lima) .

       Selanjutnya di dalam wadah tersebut penulis dipercaya sebagai wakil koordinator pelayanan di rumah sakit  untuk periode tahun 2008-2012. Kemudian selama empat tahun berikutnya yaitu untuk periode tahun 2012-2016 kembali dipercaya kali ini sebagai koordinator pelayanan rumah sakit di salah satu rumah sakit di Surabaya.

       Namun demikian, dalam hal tanggung jawab mengenai tulisan dalam buku ini tidak terkait dengan organisasi tersebut, karena secara keseluruhan tulisan dalam buku ini adalah ide pribadi dan tanggung jawab pribadi dari penulis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar