KESALAHAN PETRUS MENYERET ORANG LAIN
Kata Petrus kepada-Nya: “Sekalipun aku
harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” Semua murid yang
lain pun berkata demikian juga. Mat26:35. (Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).
Petrus sebagai seorang pemimpin mempunyai pengaruh yang
sangat kuat terhadap orang lain. Bahkan untuk suatu kesalahan yang dibuat
Petrus, karena ia seorang pemimpin dengan pengaruh yang sangat kuat, berakibat
menyeret murid-murid yang lain ikut melakukan kesalahan juga. Lihatlah kalimat
bagian akhir dari ayat tersebut di atas yaitu: Semua murid yang lain pun
berkata demikian juga!
Jika sebelumnya murid-murid yang lain mereka hanya diam saja, tetapi
karena kegigihan Petrus yang begitu ngotot akhirnya menyeret mereka juga untuk
ikut berkata: “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal
Engkau.”
Padahal mereka sebelumnya juga mendengar apa yang telah dikatakan oleh
Yesus; Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan
tercerai berai.
Manakah yang benar, semua
murid ikut mati bersama Yesus dan tidak menyangkal Dia, atau mereka lari
meninggalkan Yesus dan tercerai berai?
Firman Tuhan tidak pernah
salah, apa yang Yesus katakan benar. Inilah yang terjadi ketika Yesus
ditangkap.
Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab
nabi-nabi. Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri. Mat 26:56.
Yesus benar, nubuatan kitab
nabi-nabi digenapi!
Setelah Yesus ditangkap Ia dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan
sementara Yesus diadili, Petrus duduk di luar halaman, di situlah Petrus
bertemu dengan tiga orang yang berbeda dan yang ketiga-tiganya menanyakan
hubungan antara Petrus dengan Yesus tapi ketiga-tiganya disangkalnya semua!
(Mat 26:69-73).
Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: “Aku tidak kenal orang
itu.” Dan pada saat itu berkokoklah ayam.
Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: “Sebelum ayam berkokok,
engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu ia pergi keluar dan menangis
dengan sedihnya. Mat 26:74-75.
Itu juga merupakan salah satu bagian dari kesalahan yang telah dilakukan
oleh Petrus, walaupun sebenarnya sebelum peristiwa Petrus menyangkal Yesus
telah didahului dengan peristiwa yang lain yaitu, ia telah dua kali melakukan
kesalahan.
Yang pertama, ketika Petrus bersama
Yohanes dan Yakobus diajak oleh Yesus yang hendak berdoa di taman Getsemani. Di
situ pada saat Yesus sedang berdoa, malah ketiganya tertidur. Meskipun mereka
bertiga, tetapi hanya kepada Petrus-Yesus berkata: “Tidakkah kamu sanggup
berjaga-jaga satu jam dengan Aku? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu
jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Mat
26:40-41).
Lalu untuk kedua kalinya Yesus pergi berdoa dan sekembalinya dari
berdoa, didapati-Nya mereka kembali sedang tertidur. Demikian juga untuk ketiga
kalinya setelah Ia pergi berdoa, lagi-lagi didapati mereka masih juga lelap
tertidur.
Pelajaran apakah yang dapat dipetik dari peristiwa Petrus, Yohanes dan
Yakobus yang tertidur di saat Yesus sedang berdoa?
Seperti Petrus, Yohanes dan Yakobus yang tidak sanggup berjaga-jaga selama
satu jam dan teridur, demikian juga
banyak orang yang tertidur dan akhirnya terjatuh, karena tidak sanggup berjaga-jaga melawan keinginan daging dan hawa
nafsunya.
Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu
percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama
dengan penyembahan berhala. Kol 3:5.
Selanjutnya menyusul
kesalahan Petrus yang kedua, saat peristiwa Yesus ditangkap, di mana ia memotong telinga
seorang hamba Imam Besar dengan pedang hingga putus.
Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya,
menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus
telinganya.
Maka kata Yesus kepadanya: Masukkan pedang itu kembali ke dalam
sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. Mat 26:51-52.
Peristiwa Yesus ditangkap ini tercatat dalam keempat kitab Injil. Memang
dari ayat yang kita baca tersebut di atas, siapa yang memotong telinga hamba
Imam Besar dengan pedang hingga putus itu tidak disebutkan namanya. Di dalam
Injil Matius, Injil Markus dan Injil Lukas hanya ditulis- seorang dari mereka. (Mat
26:51, Mrk 14:47, Luk 22:50). Tetapi di dalam Injil Yohanes dengan jelas
dituliskan namanya, bahwa itu adalah Petrus.
Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang,
menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan
memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus. Yoh 18:10.
Ya, kembali Petrus melakukan
kesalahan, kali ini dengan kekerasan yang menyebabkan orang lain terluka.
Karena Yesus ditangkap, Petrus ingin membela dengan cara menghakimi dan
menghukum; dengan cara menyakiti. Petrus memang tipe seorang pemimpin yang
apabila disinggung kepentingannya bisa melakukan tindakan balasan yang
menyakitkan. Bagi Petrus orang-orang yang menangkap gurunya itu sama halnya
dengan menyinggung kepentingannya, karena Yesus sebagai gurunya telah
mengangkatnya sebagai batu karang untuk membangun jemaat-Nya dan alam maut
tidak akan menguasainya. Selain itu oleh gurunya ia juga diberi kunci Kerajaan
Sorga. Dan juga kuasa; apa yang diikat di dunia ini akan terikat di sorga dan
apa yang dilepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.
Jadi kalau ada orang \yang mengganggu gurunya berarti juga mengganggu
kepentingannya. Jadi tidak heran ketika Yesus ditangkap, Petrus menghunus
pedangnya dan memotong telinga kanan hamba yang bernama Malkhus itu. Tetapi
Yesus menegurnya: Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab
barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.
Banyak pemimpin yang memiliki sikap seperti Petrus. Apabila disinggung kepentingannya bisa mengambil sikap menghakimi dan
menghukum dengan tindakan balasan yang menyakitkan, sampai membuat orang lain
terluka.
Mungkin bukan dengan pedang, tetapi bisa saja dengan kata-kata yang
setajam pedang untuk melukai hati orang lain. Seperti ada ungkapan demikian:
Pedang itu memang tajam tapi lebih tajam kata-kata. Luka karena
pedang memang sakit, tetapi lebih sakit luka karena kata-kata, sebab luka
karena pedang akan hilang sakitnya apabila luka itu telah sembuh, tetapi luka
karena kata-kata tidak akan hilang sakitnya walaupun kata-kata itu telah
berlalu.
Jadi berhati-hatilah dengan
perkataan anda agar tidak menyakiti dan
melukai hati orang lain!
Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara
kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang
lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu
mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.
Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan,
lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia
kepada Allah, Bapa kita. Kol 3:16-17.
Memang sangat menarik dapat
belajar dari pribadi Petrus. Banyak pelajaran berharga yang dapat kita peroleh,
bagaimana hidup kekristenan bisa diubahkan menjadi semakin dewasa dan
disempurnakan. Petrus adalah contoh manusia yang berjalan menuju kedewasaan dan
kesempurnaan. Nanti kita akan melihat bagaimana proses itu terjadi. Namun
sekarang sebelum sampai pada bagian Petrus menuju kedewasaan dan kesempurnaan,
kesalahan apalagi yang dapat dilakukan oleh Petrus?
Kali ini kita akan melihat bagaimana Petrus melakukan kesalahan lagi
yaitu setelah peristiwa Yesus mati di kayu salib dan setelah kebangkitan-Nya.
Benar kata Yesus bahwa semua
murid akan tergoncang imannya. Hal itu dapat kita lihat setelah Yesus
ditangkap, diadili dan kemudian sampai di hukum mati di kayu salib. Semua murid
tergoncang imannya tak terkecuali Petrus. Mereka tercerai berai karena mereka
kehilangan sosok seorang guru yang biasanya mengayomi mereka dan yang mereka
harapkan menjadi raja mereka. Mereka sangat sedih dan terpukul, rasa putus asa
membuat iman mereka semakin tergoncang, sampai kemudian mereka mendengar kabar;
Yesus bangkit! Ya kebangkitan-Nya memberi pengharapan baru bagi mereka.
Oleh karena kesedihan, rasa putus asa, dan iman yang tergoncang membuat
semua murid lupa dengan apa yang Yesus pernah katakan. Tetapi sekarang setelah
mereka mendengar kabar bahwa Yesus telah bangkit, kini mereka teringat kalau
Yesus pernah berkata: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan
mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” (Mat 17:22-23).
Sesudah kebangkitan-Nya Yesus menampakkan diri berulangkali, pertama
kepada Maria Magdalena lalu kepada dua orang yang berjalan ke Emaus kemudian
kepada para rasul juga kepada murid-murid yang lain. (Mat 28, Mrk 16, Luk 24,
Yoh 21 dan Yoh 22).
Sekalipun Petrus dan murid-murid yang lain telah bertemu dengan Yesus
sesudah kebangkitan-Nya , namun ternyata iman mereka yang tergoncang masih
belum pulih sepenuhnya. Hal itu dapat kita ketahui dari kitab Injil Yohanes,
seperti dalam kisah kejadian di bawah ini.
Waktu itu ada tujuh orang yang tengah berkumpul berada di pantai danau
Tiberias. Mereka adalah Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari
Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus yaitu Yohanes dan Yakobus, dan dua
orang murid-Nya yang lain, yang tidak disebutkan namanya. (Yoh 21:2).
Pada waktu itu meskipun sebelumnya mereka telah bertemu dengan Yesus
sesudah kebangkitan-Nya (Yoh 20:19-29), namun bisa saja suasana hati mereka
masih tidak menentu, antara pengharapan dan iman yang masih tergoncang yang
belum pulih benar, berbaur campur aduk menjadi satu sehingga hati mereka
menjadi galau.
Bisa saja dalam suasana hati yang masih galau itulah Petrus berkata
kepada teman-temannya: “Aku pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya: “Kami
pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam
itu mereka tidak menangkap apa-apa. (Yoh 21:3).
Lagi-lagi Petrus memberi pengaruh yang negatif bagi murid-murid yang
lain. Sebagai figur seorang pemimpin yang memiliki pengaruh yang sangat kuat,
apa yang dilakukannya membuat orang lain mengikutinya. Ketika ia berkata: “Aku
pergi menangkap ikan.” Maka serempak yang lain mengikutinya. Kata mereka
kepadanya: “Kami pergi juga dengan engkau.”
Rupanya Petrus telah lupa, bahwa kehidupan masa lalunya telah diubahkan
oleh Yesus, dari seorang penjala ikan menjadi penjala manusia.
Hal itu bermula ketika Yesus
berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak
mendengarkan firman Allah. Pada waktu itu Petrus dan saudaranya Andreas juga
Yohanes dan Yakobus saudaranya sedang membasuh jala mereka. Lalu Yesus naik ke
salah satu perahu yaitu perahu miliknya dan menyuruhnya supaya menolakkan
perahunya sedikit jauh dari pantai. Kemudian Yesus duduk dan mengajar orang
banyak dari atas perahu.
Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke
tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab:
“Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap
apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”
Dan- wow luar biasa- setelah mereka melakukannya, mereka mendapat
sejumlah besar tangkapan ikan sehingga jala mereka mulai koyak. Melalui isyarat
teman-temannya datang membantu mereka mengisi kedua perahu itu penuh dengan
ikan hingga hampir tenggelam.
Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan
berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Sebab
ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya
ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus,
yang menjadi teman Simon.
Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau
menjala manusia.”
Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun
meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. (Luk5:1-11).
Seharusnya peristiwa tersebut di atas tidak mudah untuk dilupakan.
Seharusnya Petrus ingat karena itu merupakan suatu peristiwa bersejarah dalam
hidupnya. Seharusnya itu menjadi kenangan yang melekat di dalam ingatannya;
karena jika sebelumnya Petrus dan kawan-kawannya semalam-malaman telah bekerja
keras untuk menangkap ikan tapi tidak mendapat apa-apa. Kemudian Yesus yang
setelah selesai mengajar orang banyak menyuruhnya bertolak ke tempat yang dalam
dan memerintahkan menebarkan jala untuk menangkap ikan, dan hasilnya sungguh
luar biasa.
Walaupun awalnya Petrus membantah tapi akhirnya ia taat dan menurut
juga. Sekali jala ditebarkan, hasil yang didapat sungguh tak terhingga sampai
jala mereka mulai koyak. Setelah dibantu oleh teman-temannya, dua perahu terisi
penuh ikan hingga hampir tenggelam.
Petrus takjub dan tersungkur di depan Yesus sambil berkata: “Tuhan,
pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Tetapi Yesus berkata
kepadanya: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia!”
Ini adalah peristiwa besar,
ini adalah peristiwa yang sangat menakjubkan, dan ini adalah peristiwa yang
sungguh luar biasa! Penjala ikan menjadi penjala manusia!!! Sehingga sesudah
mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala
sesuatu, lalu mengikut Yesus.
Ada suatu keputusan besar
yang mereka ambil, mereka mengambil
suatu keputusan yang besar yaitu dengan berani meninggalkan segala sesuatu,
lalu mengikut Yesus.
Tapi sayang keputusan yang besar dan berani tersebut akhirnya
mereka lupakan! Hal itu telah dijelaskan sebelumnya di atas. Petrus dan keenam
murid yang lain kembali pergi menangkap ikan.
Kenapa hal itu dapat terjadi?
Bukankah hidup mereka telah diubahkan, dari panjala ikan menjadi penjala
manusia? Dengan kata lain mereka telah diberi visi untuk masa depan mereka. Ya
mereka telah diberi visi oleh Yesus dengan ungkapan; penjala ikan menjadi
penjala manusia, “Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia.”
Tentu saja kita semua faham, sebagai penjala ikan mereka menebarkan jala
untuk menangkap ikan, tetapi sebagai penjala manusia tidak mungkin mereka
“menebarkan jala” untuk menangkap manusia!
Jadi kalau begitu bagaimana cara mereka menjala manusia?
Jika sebagai penjala ikan
mereka “menebarkan jala” untuk menangkap ikan, maka sebagai penjala manusia
mereka “menebarkan Injil” untuk menangkap manusia!
Ya, itulah visi yang Yesus sudah berikan kepada mereka. Dari kehidupan
nelayan sebagai penjala ikan diubah menjadi pemberita
Injil sebagai penjala manusia.
Seperti Yesus sebagai
guru Ia mengajar dan memberi contoh: Dengan menebarkan Injil, Yesus menjala
manusia yaitu mereka yang kemudian dijadikan sebagai murid-murid-Nya. Demikian
juga agar murid-murid-Nya belajar dari-Nya, yaitu mereka melakukan hal yang
sama; menebarkan Injil menjala manusia!
Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke
seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan
dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan
mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa
yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum
racun maut, mereka tidak akan celaka; mereka akan meletakkan tangan atas orang
sakit, dan orang itu pun akan sembuh.”
Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke
sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.
Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan
turut bekerja meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya. Mrk 16:15-20.
Tetapi sayang mereka telah melupakannya sehingga mereka kembali pergi
menangkap ikan.
Ini adalah bentuk kesalahan seorang pemimpin seperti Petrus
yang kemudian membawa pengaruh menyeret orang lain untuk melakukan kesalahan
yang sama.
Tetapi sebenarnya kesalahan mendasar yang dilakukan oleh Petrus adalah
karena ia telah kehilangan visi yang Yesus sudah berikan.
Ya! Petrus telah kehilangan
visi!!!
Apa yang menyebabkan Petrus
sampai kehilangan visi yang begitu besar yang Yesus sudah berikan dalam
hidupnya?
Rupanya sementara melalui
peristiwa Yesus ditangkap, diadili, kemudian mati dibunuh di kayu salib, Petrus
dan semua murid yang lain tergoncang imannya, atau lebih tepatnya; imannya di
uji atau di tampi oleh si Iblis. (Luk 22:31).
Yesus tahu bahwa itu adalah ujian iman yang berat, untuk hal itulah Ia
telah berdoa bagi Petrus supaya imannya jangan sampai gugur, dan
mengingatkannya; agar setelah ia insyaf, ia menguatkan yang lain.
Tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan
engkau, jikalau engkau sudah insyaf, kuatkanlah saudara-saudaramu. Luk 22:32.
Seperti Petrus yang melakukan kesalahan karena ia telah kehilangan visi
sehingga bukan menjala manusia, melainkan kembali dalam kehidupannya yang lama
sebagai nelayan yaitu kembali pergi menangkap ikan.
Demikian juga hal ini terjadi kepada banyak pemimpin yang juga melakukan
kesalahan, karena telah kehilangan visi sehingga mereka tidak lagi menebarkan
Injil untuk menjala manusia, tetapi lebih suka menebarkan jala untuk menangkap
ikan, yaitu materi.
Seperti Petrus dan semua murid yang lain mengalami proses digoncang atau
diuji imannya, demikian pula banyak pemimpin yang juga mengalami proses
digoncang atau di uji imannya. Dan tidak sedikit yang akhirnya juga seperti
Petrus. Mereka kehilangan visi yaitu tidak lagi mengajar jemaat tentang Injil
Kerajaan Sorga: Kekekalan, tetapi justru lebih suka mengajar jemaat untuk mengejar
berkat yaitu mencari ikan: Kefanaan.
Hal itu diperkuat melalui kesaksian hidup mereka sebagai pemimpin yang
dengan bangga menunjukkan berapa banyak ikan yang berhasil ditangkap, maksudnya
berapa banyak materi yang berhasil dikumpulkan.
Ini sungguh menyedihkan
karena tanpa disadari banyak pemimpin gereja yang sudah masuk ke dalam perangkap
doktrin kemakmuran!
Dan yang lebih menyedihkan lagi begitu banyak gereja yang
pemimpinnya sudah kehilangan visi sehingga tidak lagi berpikir untuk memuridkan
jemaat agar jemaat dapat melakukan Amanat Agung Tuhan Yesus, yaitu dengan cara;
jemaat diajar, dilatih, dipersiapkan, dan diperlengkapi supaya mereka dapat
memberitakan atau menebarkan Injil menjala manusia.
Bukankah Amanat Agung Tuhan
Yesus adalah untuk semua orang percaya termasuk jemaat?
Memang cukup banyak gereja yang memiliki program penginjilan, tetapi
hanya sedikit pemimpin gereja yang benar-benar fokus dalam mengajar dan
mempersiapkan jemaat untuk dimuridkan sehingga dapat melakukan tugas Amanat
Agung Tuhan Yesus.
Selebihnya program penginjilan dapat dikatakan hanya sebagai pelengkap
program di gereja.
Penulis bersyukur mendapat kesempatan untuk diajar dan dimuridkan oleh
seorang hamba Tuhan yang rendah hati, yang walaupun bukan seorang pemimpin
gereja namun memiliki pengetahuan yang luas dan luar biasa tentang firman Tuhan
dan terutama dalam mempraktekkan ajaran Tuhan Yesus sebagai penjala manusia.
Hal itu berawal ketika pada tahun 2007 penulis bergabung dalam sebuah
wadah pelayanan yang bersifat interdenominasi gereja, yaitu dalam pelayanan
kunjungan mendoakan orang sakit di salah satu rumah sakit di Surabaya.
Sejak tahun 2007 itu pula penulis aktif hingga sekarang dalam pelayanan
kunjungan di salah satu rumah sakit di Surabaya
tersebut, yang pelaksanaannya dilakukan setiap seminggu sekali dan diadakan
pada saat jam bezoek untuk para pasien.
Melalui pelayanan kunjungan dan
mendoakan orang sakit di rumah sakit itulah penulis diajar, dilatih,
dipersiapkan dan diperlengkapi untuk bagaimana caranya mempraktekkan menebarkan
Injil menjala manusia dan akhirnya berhasil.
Ternyata apabila seseorang diajar, dilatih, dipersiapkan, dan
diperlengkapi maka dia akan menjadi seorang murid yang akhirnya dapat
melaksanakan tugas untuk menebarkan atau memberitakan Injil menjala manusia! Hal
ini benar, bahwa menjala manusia itu mudah dan memang sungguh mudah, hal itu
nanti akan dijelaskan kemudian, yaitu di bagian berikutnya di Bab 5 (Lima) .
Selanjutnya di dalam wadah tersebut penulis dipercaya sebagai wakil
koordinator pelayanan di rumah sakit
untuk periode tahun 2008-2012. Kemudian selama empat tahun berikutnya
yaitu untuk periode tahun 2012-2016 kembali dipercaya kali ini sebagai
koordinator pelayanan rumah sakit di salah satu rumah sakit di Surabaya.
Namun demikian, dalam hal tanggung jawab mengenai tulisan dalam buku ini
tidak terkait dengan organisasi tersebut, karena secara keseluruhan tulisan
dalam buku ini adalah ide pribadi dan tanggung jawab pribadi dari penulis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar