POLA DAN STRATEGI
Membahas tentang doktrin kemakmuran,
adalah seperti menggali sebuah topik yang tidak pernah ada habisnya. Namun
demikian jarang ada gereja ataupun hamba Tuhan yang mau berterus terang bahwa
ajaran yang diajarkannya itu merupakan suatu doktrin kemakmuran. Tentu saja hal
itu untuk menghindari supaya jangan sampai timbul tudingan miring bahwa gereja
ataupun hamba Tuhan tersebut dianggap matre.
Hal itu wajar karena gereja sebagai lembaga pembinaan rohani dan hamba
Tuhan sebagai pelayan Tuhan, jangan sampai dituduh dalam penerapan ajarannya
berorientasi atau arah tujuannya lebih kepada hal-hal yang bersifat materi.
Lalu kenapa kemudian
sampai muncul sebutan atau ungkapan doktrin kemakmuran?
Hal ini sangat menarik untuk
dicermati, kenapa sampai kemudian muncul sebutan atau ungkapan doktrin
kemakmuran.
Seiring berkembangnya zaman, berkembang pula dinamika di dalam
organisasi gereja. Sedangkan di Indonesia sendiri gereja terbagi dalam beberapa
sinode yang jumlahnya mencapai puluhan sinode, yang masing-masing sinode
memiliki anggaran dasar atau anggaran rumah tangga sendiri-sendiri.
Di dalam masing-masing sinode itu biasanya ada gereja pusat dan gereja
cabang. Sinode-sinode itu sendiri keadaan organisasinya bervariatif, ada yang
masih kecil, ada yang sedang, dan ada yang sudah berkembang menjadi besar.
Bagi organisasi gereja yang sinodenya sudah berkembang menjadi besar,
sinode tersebut memiliki gereja dalam jumlah yang banyak dan bisa tersebar ke
hampir atau ke seluruh pelosok wilayah di Indonesia, bahkan ada yang memiliki
cabang di luar negri.
Menariknya antar gereja yang satu dengan gereja yang lain bisa terjadi
adanya semacam persaingan dalam usaha, khususnya dalam hal untuk menambah
jumlah jemaat. Untuk itu para pemimpinnya berupaya mencari cara dan strategi
untuk pola yang dikembangkan.
Ada
gereja yang mengembangkan di dalam pola ibadah atau pola kebaktian, yang lebih
menekankan pada musik dan pujian. Ada
yang lebih menekankan pada doa dan penyembahan. Ada yang lebih pada materi pengajaran firman
Tuhan. Atau ada yang mengkombinasikan semuanya agar seimbang. Ada pula yang menekankan pada karunia-karunia
Roh Kudus yaitu karunia mujizat kesembuhan, karunia nubuatan, karunia
penglihatan, karunia berbahasa Roh, dan seterusnya. Ada pula yang dengan minyak urapan, dan ada
pula yang dalam kebaktian disertai altar call dan tumpang tangan.
Begitulah berbagai pola yang berkembang di gereja-gereja, walaupun dari
sinode-sinode gereja yang bersangkutan telah dibuat kebijakan atau
aturan-aturan dasar dalam ibadah atau kebaktian, tetapi belum tentu pola ibadah
atau kebaktian dari sebuah sinode dalam hal kebaktian mulai dari gereja pusat
hingga ke cabang-cabang semuanya bisa sama seragam.
Bagi sebuah organisasi kerohanian tentu hal-hal demikian masih dianggap
wajar sejauh itu semua tidak melanggar aturan-aturan dasar organisasinya. Sebab
seorang pemimpin gereja lokal tentu ingin menyesuaikan dan menerapkan pola-pola
yang dianggap tepat untuk memenuhi kebutuhan rohani jemaatnya.
Bahkan seperti gereja katolik yang dikenal sebagai sebuah organisasi
gereja yang terpusat, karena hanya ada satu organisasi gereja katolik di
seluruh dunia dan itu berpusat di kota
Roma, Itali, juga mengembangkan pola dalam ajarannya. Seperti di Indonesia
terjadi gerakan yang disebut gerakan katolik karismatik yaitu gerakan
pembaharuan bagi umat katolik untuk menerima karunia-karunia Roh Kudus seperti
salah satunya karunia berbahasa roh.
Disamping itu selain pola
yang dikembangkan masih ada satu hal lagi yang juga dikembangkan yaitu: Strategi.
Namun sebelum masuk pada bagian dari strategi, sebenarnya
disadari atau tidak, bahwa di dalam pola yang telah dikembangkan tersebut sudah
termasuk dalam bagian strategi, hanya strateginya lebih bersifat “ke dalam”.
Contoh; dengan dikemasnya pola di dalam ibadah yang sedemikian rupa, tujuannya
ialah agar membuat jemaat yang hadir menjadi lebih kerasan, lebih bertumbuh,
lebih setia, sehingga akhirnya jemaat akan tetap terus bertahan dan setia.
Bagi pemimpin yang jeli,
strategi ke dalam ini akan membuahkan keuntungan yang tak ternilai karena
jemaat yang bertumbuh dan yang setia adalah aset yang berharga dan berpotensi
untuk dimuridkan, yang nantinya dapat dilibatkan dalam pelayanan.
Bagaimana dengan strategi ke luar atau yang berdampak ke luar? Mari kita
mulai melihat strategi yang bisa berdampak ke luar lebih dahulu.
Gereja yang memprogram jadwal khotbah dengan mengundang pembicara tamu,
apalagi pembicara tamu yang sudah cukup terkenal, selain menyegarkan rohani
jemaat, juga dapat menimbulkan dampak keluar yaitu mendorong rasa antusias
jemaat untuk mengajak orang lain agar ikut hadir dalam kebaktian. Ini semacam
promosi, dengan mengundang pembicara yang sudah cukup terkenal membuat respon
jemaat ikut mempromosikan dengan mengajak orang lain untuk ikut hadir dalam
acara kebaktian tersebut.
Juga program mengadakan doa ucapan syukur keliling atau kelompok sel (komsel)
di rumah-rumah jemaat secara bergantian, merupakan strategi yang berdampak ke
luar. Karena selain menumbuhkan iman, keakraban dalam kebersamaan, dan
mendewasakan rohani jemaat, juga dapat menjangkau jiwa melalui acara doa ucapan
syukur keliling tersebut. Karena masing-masing anggota jemaat tentu memiliki
keluarga, tetangga, atau komunitas yang berbeda.
Bagi anggota jemaat yang sedang berketempatan acara tersebut di
rumahnya, di mana jika ada anggota keluarganya yang belum diselamatkan, dan juga
tetangga akrab sekitar rumah, serta sahabat dan teman baik, dapat diundang
untuk ikut hadir sehingga mereka dapat dijangkau dan dimenangkan, kemudian di
follow up lalu selanjutnya diajak ke gereja, di gembalakan. Dengan demikian
jumlah jemaat akan semakin terus bertambah.
Lalu bagaimana dengan strategi ke luar atau strategi yang langsung ke
luar?
Untuk strategi yang langsung ke luar ini tidak semua gereja dan tidak
semua hamba Tuhan dapat melakukan.
Biasanya yang dapat melakukan hanya gereja-gereja yang sudah berkembang
dan menjadi besar. Karena untuk melaksanakan strategi ke luar tersebut perlu
didukung dengan dana yang cukup besar dan kemampuan seorang hamba Tuhan yang
cakap, yaitu melalui kebaktian-kebaktian kebangunan rohani (kkr) dan melalui
seminar-seminar.
Tujuan strategi ke luar ini selain untuk melebarkan sayap pelayanan,
tentu juga untuk mengembangkan pengaruh gereja yang dipimpinnya agar gerejanya
berkembang menjadi semakin besar.
Untuk hal tersebut, agar dapat
dibedakan penulis pisahkan menjadi dua.
Yang pertama, memang ada hamba-hamba Tuhan yang mengadakan kkr atau
seminar yang tujuannya bukan untuk kepentingan pribadi atau gerejanya, tetapi
tujuannya untuk memberkati semua orang. Hal-hal yang lebih yang mereka miliki,
baik itu berupa karunia mujizat kesembuhan atau karunia-karunia yang lain
maupun pengetahuan yang dalam tentang rahasia-rahasia firman Tuhan atau
pengalaman-pengalaman melalui kesaksian-kesaksian, mereka bagikan agar
memberkati semua orang, termasuk hamba-hamba Tuhan yang lain dan juga
gereja-gereja.
Yang kedua, ada hamba-hamba Tuhan yang mengadakan kkr atau seminar yang
memang orientasinya bertujuan untuk kepentingan meningkatkan pengaruh
pelayanannya, juga sekaligus untuk mengembangkan gerejanya, walaupun hal ini
tentu tidak diakui secara terang-terangan.
Tanda-tanda yang terlihat dari mereka yang melakukan hal yang demikian,
ketika mengadakan kkr selalu disertai altar call, bagi yang bertobat atau yang
mau didoakan mereka disuruh maju ke depan. Pada waktu mereka maju ke depan, tim
dari panitia yang sudah dipersiapkan akan menyambut mendampingi orang-orang
yang maju ke depan tersebut, lalu setelah didoakan, satu persatu dicatat nama,
alamat, dan nomer teleponnya dengan alasan agar bisa di follow up. Dan memang
benar beberapa hari kemudian orang-orang tersebut dihubungi untuk diajak
bergabung di gerejanya.
Ini strategi yang langsung ke luar untuk menambah jumlah jemaat, tapi
sayang dengan cara memindahkan jemaat dari gereja yang lain ke gerejanya.
Karena pada umumnya orang-orang yang pergi ikut acara kkr adalah orang-orang
yang sudah bergereja. Makanya yang begini sering mengakibatkan terjadinya
gesekan antara hamba Tuhan yang satu dengan hamba Tuhan yang lain.
Mestinya yang benar, strategi langsung ke
luar itu dengan cara mempersiapkan jemaat dengan melatihnya agar jemaat bisa
bersaksi ke luar dan hasilnya membawa masuk jiwa yang baru ke dalam gereja!
Berikut ini strategi
melalui seminar yang digunakan untuk mengembangkan gereja yang sudah besar.
Sebuah gereja yang besar dan terus berkembang tentu memiliki pengaruh
yang cukup besar pula bagi gereja-gereja yang lebih kecil dan ingin berkembang.
Ketika gereja yang sudah besar seperti itu mengadakan sebuah seminar dengan
tema: “Pertumbuhan Gereja” atau semacamnya, dengan menghadirkan para pembicara
terkenal baik dari dalam maupun dari luar negri, maka akan membuat hamba-hamba
Tuhan dari gereja-gereja yang lain dan banyak orang ingin menghadiri acara
tersebut.
Apalagi secara terbuka acara tersebut dikumandangkan dengan gencar
melalui iklan dan promosi-promosi lainnya dan itu gaungnya terdengar hingga ke
pelosok nusantara, sehingga peserta seminar ini berdatangan dari berbagai
daerah hingga dari luar pulau atau luar daerah. Sebuah acara seminar yang besar
dan ditangani secara profesional, baik dalam persiapan maupun pelaksanaan,
hingga penanganan peserta dengan kebutuhan akomodasi penginapan semuanya
dipersiapkan. Semua peserta seminar di data melalui proses registrasi atau
pendaftaran peserta agar nanti bisa di follow up. Bagi peserta dari
tempat-tempat yang jauh didukung bantuan transportasi sekaligus penginapan.
Acara pun siap digelar, harapan peserta khususnya para hamba Tuhan sudah
tidak sabar mendengarkan bagaimana langkah-langkah terobosan tentang
“Pertumbuhan Gereja” dibentangkan.
Akhirnya acara seminar dimulai dan berlangsung selama beberapa hari
dengan dihadiri oleh ribuan orang. Suasana yang begitu riuh penuh sorak menambah
gempita yang membahana berkepanjangan.
Tetapi kenyataannya acara seminar tentang “Pertumbuhan Gereja” tersebut
ternyata tidak banyak mengupas tentang seluk beluk pertumbuhan gereja. Justru
para pembicara yang terkenal itu berkhotbah seperti dalam sebuah acara kkr yang
penuh dengan suasana gegap gempita di mana sambutan tepuk tangan yang merebak
terus bergema.
Namun paling tidak semua peserta seminar termasuk para hamba-hamba Tuhan
sudah merasa cukup puas karena telah melihat dan mendengar para pembicara yang
hebat-hebat itu.
Tetapi seminar tersebut bukan tanpa tujuan. Bagi gereja penyelenggara
seminar, mereka sudah banyak mengeluarkan biaya untuk semua itu, mereka juga
ingin menuai hasilnya. Jadi setelah acara seminar usai digelar, beberapa waktu
kemudian ada gereja-gereja peserta seminar dihubungi dan ditanya bagaimana
kesan mereka terhadap acara tersebut, apakah mereka diberkati?
Tentu saja rata-rata menjawab cukup puas dan diberkati. Selanjutnya
jurus pembuka digunakan dalam bentuk pertanyaan seolah menaruh peduli kepada
gereja-gereja peserta seminar, apakah ada di antara gereja-gereja peserta
seminar yang selama ini mengalami kesulitan dalam program pertumbuhan gereja
atau mengalami kesulitan lainnya?
Itu adalah jurus pertanyaan yang cerdik, karena program pertumbuhan
gereja memang merupakan problem bagi banyak gereja. Rupanya dengan pertanyaan
tersebut berhasil menjaring sasaran karena memang tidak sedikit gereja-gereja
yang sedang mengalami kesulitan semacam itu.
Maka kemudian jurus pamungkas digunakan yaitu dengan jurus menawarkan
kepada mereka yang sedang menghadapi kesulitan, apakah mau bergabung dibawah
payung organisasi gereja penyelenggara seminar tersebut? Dengan suatu negosiasi
yang halus akhirnya beberapa gereja ikut bergabung.
Ini seperti kata pepatah: “Memancing ikan di air keruh.”
Oh bukan memancing, tepatnya- menangkap ikan di air keruh, sebab, ikan
di air keruh tidak dapat dipancing, tapi- ikan di air keruh dapat dengan mudah
ditangkap!
Strategi seminar semacam itu perlu dipaparkan sebagai contoh karena
memang ada beberapa seminar, supaya tidak dianggap berlebihan penulis tuliskan;
ada beberapa seminar yang semacam itu, mengakibatkan beberapa sinode kehilangan
beberapa anak cabang gerejanya. Dan menyebabkan mereka protes dan melaporkan
peristiwa tersebut kepada badan gereja yang lebih tinggi.
Memang tidak semua peristiwa berpindahnya suatu gereja ke sinode gereja
yang lain semata-mata akibat karena adanya seminar yang semacam itu. Tetapi
banyak hal yang lebih kompleks yang bisa menyebabkan terjadinya berpindahnya
suatu gereja ke sinode gereja yang lain.
Namun bagi gereja penyelenggara seminar, mereka telah mencapai
tujuannya, mereka bukan lagi berhitung berapa jumlah jiwa yang berhasil dituai,
tetapi berapa banyak anak cabang dari gereja lain yang berhasil dicaplok.
Selain itu, belum lagi peserta aktivis dari gereja lain yang potensial, yang
juga berhasil direkrut.
Tetapi dalam hal ini tidak banyak hamba Tuhan yang mengetahui atau
menyadari akan hal itu. Pandangan mereka tetap menganggap bahwa pemimpin yang
sudah berhasil mengembangkan gerejanya tersebut dianggap sebagai potret
keberhasilan.
Itulah salah satu dinamika berkembangnya
organisasi gereja pada masa kini.
Kenapa hal itu perlu dipaparkan dan apa hubungannya dengan
doktrin kemakmuran?
Sebenarnya doktrin kemakmuran tidak bersangkut paut dengan sebuah sinode
atau sebuah organisasi gereja. Lebih tepatnya doktrin kemakmuran itu berkaitan
langsung dengan pribadi-pribadi atau orang-orang, yaitu dari sebagian para
pemimpin gereja yang berpengaruh karena berhasil mengembangkan gerejanya.
Logika ini mudah difahami, pada umumnya jika seorang pemimpin berhasil
mengembangkan pelayanan dan mengembangkan gerejanya, maka ada bagian yang
secara otomatis mengikuti dari buah keberhasilannya, yaitu hidupnya menjadi
makmur.
Maka potret kemakmuran itu membawa dampak yang cukup besar bagi
pemimpin-pemimpin gereja yang lain. Karena mereka sudah melihat buktinya bahwa
gereja tersebut berkembang menjadi semakin besar dan tampak jelas pemimpinnya
diberkati semakin makmur.
Makanya tidak sedikit para pemimpin gereja yang lain berusaha meniru
ingin mengikuti jalur kesuksesan yang menggiurkan itu.
Seorang pemimpin yang sudah
dianggap sukses dan hidupnya terlihat makmur ingin menunjukkan kepada yang
melihatnya, bahwa dalam pelayanannya Tuhan telah berkenan, sehingga gerejanya
diberkati dan hidupnya diberkati berkelimpahan.
Lalu mulailah dalam khotbahnya penekanan pencitraan diri dan doktrin
kemakmuran disampaikan: “Saudara percayalah, Tuhan memberkati kita semua, kalau
saya diberkati saudara semua juga pasti diberkati. Tuhan akan mengangkat
saudara menjadi kepala dan bukan ekor, saudara akan tetap naik dan bukan turun.
Seluruh aspek kehidupan saudara diberkati Tuhan, yang miskin jadi kaya, yang
cuma punya sepeda akan menjadi punya sepeda motor, yang punya sepeda motor
menjadi punya mobil, yang rumahnya kontrak akan memiliki rumah sendiri, yang
punya toko satu atau punya pabrik satu nanti akan bertambah, sebab janji Tuhan
ya dan amin. Saudara semua akan diberkati sampai berkelimpahan…!”
Lalu terdengarlah suara tepuk tangan yang bergemuruh membahana beberapa saat
lamanya.
Kemudian khotbah pencitraan diri dilanjutkan sambil menanamkan pengaruh
doktrin kemakmuran: “Saudara, Tuhan kita Yesus Kristus adalah Tuhan yang kaya
tetapi Ia rela menjadi miskin supaya kita yang miskin menjadi kaya. Saya dahulu
miskin tapi Tuhan memberkati sehingga sekarang menjadi kaya. Jadi saya tahu
kekayaan itu datangnya dari Tuhan. Maka ketika saya membangun gereja, semua
harta saya jual dan uangnya saya taburkan untuk membangun gereja, saya menabur,
menabur dan terus menabur, juga banyak orang-orang lain ikut menabur, sampai
akhirnya gereja selesai dibangun. Saudara saya bersaksi, saya menabur semua
harta saya tetapi saya tidak menjadi miskin, malahan sekarang saya menjadi
semakin bertambah kaya!”
Kembali terdengar suara gemuruh tepuk tangan dari jemaat yang semakin
antusias. Rupanya doktrin kemakmuran alias khotbah yang isinya tentang berkat
dan kemakmuran ini semakin menancap di hati jemaat.
Tinggal sekarang waktunya si pemimpin menuai: “Jadi saudara-saudara, jangan
takut untuk menabur, ayo menabur berikan persembahan persepuluhan, menaburlah
dengan “janji iman”, menabur untuk pembangunan gereja, menabur untuk diakonia,
menaburlah untuk pekerjaan Tuhan. Menaburlah, biji yang satu biji akan tetap
tinggal satu biji kalau tidak ditaburkan, tapi kalau ditaburkan biji itu memang
akan mati, tapi setelah itu akan tumbuh tunas dan akhirnya menghasilkan buah
yang banyak!”
Maka khotbah dengan muatan doktrin kemakmuran
tersebut berhasil mempengaruhi hati jemaat dan hasilnya banyak taburan yang
mengalir, pundi-pundi gereja makin bertambah dan si pemimpin menjadi semakin
bertambah kaya dan makmur.
Khotbah semacam itu
sekarang ini begitu ngetrend, digemari dan banyak ditiru oleh pemimpin-pemimpin
gereja yang lain. Setiap ayat-ayat yang berbicara tentang berkat dapat menjadi
modal untuk bahan khotbah dengan muatan doktrin kemakmuran.
Pertanyaannya; kenapa khotbah bermuatan berkat sebagai landasan doktrin
kemakmuran itu begitu digandrungi baik oleh pengkhotbah maupun oleh jemaat?
Karena, kalau bagi si pengkhotbah, tentu ia merasa seolah-olah sudah tampil sebagai seorang pahlawan yang menjadi
berkat dan memberi kemenangan bagi jemaat bila sudah menyampaikan khotbah dari
janji Tuhan tentang berkat. Selain itu ia juga dapat menuai keuntungan bila
jemaat merasa diberkati oleh khotbahnya, lalu kemudian berlomba-lomba memberi
persembahan, maka hasilnya akan mempergemuk rekeningnya.
Sedangkan bagi jemaat sendiri mereka menyambut dengan sangat antusias
dan penuh semangat, karena si pengkhotbah telah berhasil meyakinkan mereka
bahwa janji Tuhan pasti akan digenapi, bahwa setiap orang percaya hidupnya
pasti akan diberkati sampai berkelimpahan.
Muncul pertanyaan sederhana, mengapa pada umumnya jemaat merasa begitu
senang menerima khotbah tentang berkat?
Jawabannya sederhana pula,
karena secara psikologis khotbah tentang berkat itu seakan memberi pengharapan
baru bagi jemaat.
Secara psikologis bahkan untuk orang-orang yang sudah kaya mereka juga
ingin diberkati menjadi lebih kaya lagi. Sedangkan bagi orang-orang yang
terpuruk dan susah, begitu mereka mendengar janji berkat Tuhan, mereka seperti
melihat pengharapan baru. Jadi itulah alasan mengapa kemudian mereka menerima
doktrin kemakmuran tersebut dengan antusias dan penuh harapan.
Sekali lagi, karena secara
psikologis, banyak jemaat yang sudah cukup lama merasa bosan hidup susah,
mereka bosan menderita, mereka bosan kekurangan, mereka bosan dibelit hutang,
mereka bosan menghadapi kesulitan yang datang silih berganti. Kebanyakan dari
jemaat sudah merasa kepayahan memikul berbagai rasa bosan karena persoalan ini
dan itu yang menindih hidup mereka. Maka ketika datang angin sorga berhembus
melalui janji-janji berkat Tuhan yang ditiupkan oleh para pengkhotbah, mereka
mulai merasa terhibur dan berharap.
Tapi entah sampai kapan
jemaat terus berharap untuk bisa menikmati kemakmuran, sedangkan sementara itu
ketimpangan terlihat semakin mencolok antara kehidupan sang pemimpin dan kehidupan
jemaat.
Sementara jemaat masih berkutat dengan keadaan yang ruwet, tapi sang
pemimpin semakin mencuat bak meteor berkilauan dalam gemerlap singgasananya
yang mewah. Dan tidak jarang dari mulutnya terdengar gaung pernyataan yang
menggetarkan hati jemaat, bahwa; “begitulah hidup orang yang berkenan di mata
Tuhan, hidupnya diberkati sampai berkelimpahan.”
Ah, siapakah manusia yang tidak silau dan tidak ingin menikmati keadaan
seperti itu, hidup mewah berkelimpahan, dihormati dan diagung-agungkan?
Itulah realita kehidupan, bahkan sekalipun bagi seseorang yang hidup
dalam ruang lingkup kerohanian, siapa pun orangnya jika tidak berhati-hati,
akhirnya akan silau dan memilih untuk bersukaria dalam kemewahan. Gereja
sebagai lembaga kerohanian bisa berubah menjadi lembaga keduniawian.
Kehendak Tuhan, mestinya gereja dijadikan sebagai suatu sarana bagi
kepanjangan tangan Tuhan untuk menyelamatkan manusia, tetapi bagi para pemimpin
tidak jarang gereja malah dijadikan sebagai sarana untuk membangun
kerajaan-kerajaan kecil bagi kepentingan-kepentingan pribadinya, keluarganya,
dan orang-orang disekelilingnya.
Jadi anda jangan heran bila melihat gereja-gereja terlihat seperti
kerajaan-kerajaan kecil dengan keberadaan masing-masing pemimpinnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar