Selasa, 22 April 2014

BAB 1


POLA DAN STRATEGI


               Membahas tentang doktrin kemakmuran, adalah seperti menggali sebuah topik yang tidak pernah ada habisnya. Namun demikian jarang ada gereja ataupun hamba Tuhan yang mau berterus terang bahwa ajaran yang diajarkannya itu merupakan suatu doktrin kemakmuran. Tentu saja hal itu untuk menghindari supaya jangan sampai timbul tudingan miring bahwa gereja ataupun hamba Tuhan tersebut dianggap matre.

       Hal itu wajar karena gereja sebagai lembaga pembinaan rohani dan hamba Tuhan sebagai pelayan Tuhan, jangan sampai dituduh dalam penerapan ajarannya berorientasi atau arah tujuannya lebih kepada hal-hal yang bersifat materi.

       Lalu kenapa kemudian sampai muncul sebutan atau ungkapan doktrin kemakmuran?

       Hal ini sangat menarik untuk dicermati, kenapa sampai kemudian muncul sebutan atau ungkapan doktrin kemakmuran.

       Seiring berkembangnya zaman, berkembang pula dinamika di dalam organisasi gereja. Sedangkan di Indonesia sendiri gereja terbagi dalam beberapa sinode yang jumlahnya mencapai puluhan sinode, yang masing-masing sinode memiliki anggaran dasar atau anggaran rumah tangga sendiri-sendiri.

       Di dalam masing-masing sinode itu biasanya ada gereja pusat dan gereja cabang. Sinode-sinode itu sendiri keadaan organisasinya bervariatif, ada yang masih kecil, ada yang sedang, dan ada yang sudah berkembang menjadi besar.

       Bagi organisasi gereja yang sinodenya sudah berkembang menjadi besar, sinode tersebut memiliki gereja dalam jumlah yang banyak dan bisa tersebar ke hampir atau ke seluruh pelosok wilayah di Indonesia, bahkan ada yang memiliki cabang di luar negri.

       Menariknya antar gereja yang satu dengan gereja yang lain bisa terjadi adanya semacam persaingan dalam usaha, khususnya dalam hal untuk menambah jumlah jemaat. Untuk itu para pemimpinnya berupaya mencari cara dan strategi untuk pola yang dikembangkan.

       Ada gereja yang mengembangkan di dalam pola ibadah atau pola kebaktian, yang lebih menekankan pada musik dan pujian. Ada yang lebih menekankan pada doa dan penyembahan. Ada yang lebih pada materi pengajaran firman Tuhan. Atau ada yang mengkombinasikan semuanya agar seimbang. Ada pula yang menekankan pada karunia-karunia Roh Kudus yaitu karunia mujizat kesembuhan, karunia nubuatan, karunia penglihatan, karunia berbahasa Roh, dan seterusnya. Ada pula yang dengan minyak urapan, dan ada pula yang dalam kebaktian disertai altar call dan tumpang tangan.

       Begitulah berbagai pola yang berkembang di gereja-gereja, walaupun dari sinode-sinode gereja yang bersangkutan telah dibuat kebijakan atau aturan-aturan dasar dalam ibadah atau kebaktian, tetapi belum tentu pola ibadah atau kebaktian dari sebuah sinode dalam hal kebaktian mulai dari gereja pusat hingga ke cabang-cabang semuanya bisa sama seragam.

       Bagi sebuah organisasi kerohanian tentu hal-hal demikian masih dianggap wajar sejauh itu semua tidak melanggar aturan-aturan dasar organisasinya. Sebab seorang pemimpin gereja lokal tentu ingin menyesuaikan dan menerapkan pola-pola yang dianggap tepat untuk memenuhi kebutuhan rohani jemaatnya.

       Bahkan seperti gereja katolik yang dikenal sebagai sebuah organisasi gereja yang terpusat, karena hanya ada satu organisasi gereja katolik di seluruh dunia dan itu berpusat di kota Roma, Itali, juga mengembangkan pola dalam ajarannya. Seperti di Indonesia terjadi gerakan yang disebut gerakan katolik karismatik yaitu gerakan pembaharuan bagi umat katolik untuk menerima karunia-karunia Roh Kudus seperti salah satunya karunia berbahasa roh.

       Disamping itu selain pola yang dikembangkan masih ada satu hal lagi yang juga dikembangkan yaitu: Strategi.

       Namun sebelum masuk pada bagian dari strategi, sebenarnya disadari atau tidak, bahwa di dalam pola yang telah dikembangkan tersebut sudah termasuk dalam bagian strategi, hanya strateginya lebih bersifat “ke dalam”. Contoh; dengan dikemasnya pola di dalam ibadah yang sedemikian rupa, tujuannya ialah agar membuat jemaat yang hadir menjadi lebih kerasan, lebih bertumbuh, lebih setia, sehingga akhirnya jemaat akan tetap terus bertahan dan setia.

       Bagi pemimpin yang jeli, strategi ke dalam ini akan membuahkan keuntungan yang tak ternilai karena jemaat yang bertumbuh dan yang setia adalah aset yang berharga dan berpotensi untuk dimuridkan, yang nantinya dapat dilibatkan dalam pelayanan.

       Bagaimana dengan strategi ke luar atau yang berdampak ke luar? Mari kita mulai melihat strategi yang bisa berdampak ke luar lebih dahulu.

       Gereja yang memprogram jadwal khotbah dengan mengundang pembicara tamu, apalagi pembicara tamu yang sudah cukup terkenal, selain menyegarkan rohani jemaat, juga dapat menimbulkan dampak keluar yaitu mendorong rasa antusias jemaat untuk mengajak orang lain agar ikut hadir dalam kebaktian. Ini semacam promosi, dengan mengundang pembicara yang sudah cukup terkenal membuat respon jemaat ikut mempromosikan dengan mengajak orang lain untuk ikut hadir dalam acara kebaktian tersebut.

       Juga program mengadakan doa ucapan syukur keliling atau kelompok sel (komsel) di rumah-rumah jemaat secara bergantian, merupakan strategi yang berdampak ke luar. Karena selain menumbuhkan iman, keakraban dalam kebersamaan, dan mendewasakan rohani jemaat, juga dapat menjangkau jiwa melalui acara doa ucapan syukur keliling tersebut. Karena masing-masing anggota jemaat tentu memiliki keluarga, tetangga, atau komunitas yang berbeda.

       Bagi anggota jemaat yang sedang berketempatan acara tersebut di rumahnya, di mana jika ada anggota keluarganya yang belum diselamatkan, dan juga tetangga akrab sekitar rumah, serta sahabat dan teman baik, dapat diundang untuk ikut hadir sehingga mereka dapat dijangkau dan dimenangkan, kemudian di follow up lalu selanjutnya diajak ke gereja, di gembalakan. Dengan demikian jumlah jemaat akan semakin terus bertambah.

       Lalu bagaimana dengan strategi ke luar atau strategi yang langsung ke luar?

       Untuk strategi yang langsung ke luar ini tidak semua gereja dan tidak semua hamba Tuhan dapat melakukan.

       Biasanya yang dapat melakukan hanya gereja-gereja yang sudah berkembang dan menjadi besar. Karena untuk melaksanakan strategi ke luar tersebut perlu didukung dengan dana yang cukup besar dan kemampuan seorang hamba Tuhan yang cakap, yaitu melalui kebaktian-kebaktian kebangunan rohani (kkr) dan melalui seminar-seminar.

       Tujuan strategi ke luar ini selain untuk melebarkan sayap pelayanan, tentu juga untuk mengembangkan pengaruh gereja yang dipimpinnya agar gerejanya berkembang menjadi semakin besar.

       Untuk hal tersebut, agar dapat dibedakan penulis pisahkan menjadi dua.

       Yang pertama, memang ada hamba-hamba Tuhan yang mengadakan kkr atau seminar yang tujuannya bukan untuk kepentingan pribadi atau gerejanya, tetapi tujuannya untuk memberkati semua orang. Hal-hal yang lebih yang mereka miliki, baik itu berupa karunia mujizat kesembuhan atau karunia-karunia yang lain maupun pengetahuan yang dalam tentang rahasia-rahasia firman Tuhan atau pengalaman-pengalaman melalui kesaksian-kesaksian, mereka bagikan agar memberkati semua orang, termasuk hamba-hamba Tuhan yang lain dan juga gereja-gereja.

       Yang kedua, ada hamba-hamba Tuhan yang mengadakan kkr atau seminar yang memang orientasinya bertujuan untuk kepentingan meningkatkan pengaruh pelayanannya, juga sekaligus untuk mengembangkan gerejanya, walaupun hal ini tentu tidak diakui secara terang-terangan.

       Tanda-tanda yang terlihat dari mereka yang melakukan hal yang demikian, ketika mengadakan kkr selalu disertai altar call, bagi yang bertobat atau yang mau didoakan mereka disuruh maju ke depan. Pada waktu mereka maju ke depan, tim dari panitia yang sudah dipersiapkan akan menyambut mendampingi orang-orang yang maju ke depan tersebut, lalu setelah didoakan, satu persatu dicatat nama, alamat, dan nomer teleponnya dengan alasan agar bisa di follow up. Dan memang benar beberapa hari kemudian orang-orang tersebut dihubungi untuk diajak bergabung di gerejanya.

       Ini strategi yang langsung ke luar untuk menambah jumlah jemaat, tapi sayang dengan cara memindahkan jemaat dari gereja yang lain ke gerejanya. Karena pada umumnya orang-orang yang pergi ikut acara kkr adalah orang-orang yang sudah bergereja. Makanya yang begini sering mengakibatkan terjadinya gesekan antara hamba Tuhan yang satu dengan hamba Tuhan yang lain.

       Mestinya yang benar, strategi langsung ke luar itu dengan cara mempersiapkan jemaat dengan melatihnya agar jemaat bisa bersaksi ke luar dan hasilnya membawa masuk jiwa yang baru ke dalam gereja!

       Berikut ini strategi melalui seminar yang digunakan untuk mengembangkan gereja yang sudah besar.

       Sebuah gereja yang besar dan terus berkembang tentu memiliki pengaruh yang cukup besar pula bagi gereja-gereja yang lebih kecil dan ingin berkembang. Ketika gereja yang sudah besar seperti itu mengadakan sebuah seminar dengan tema: “Pertumbuhan Gereja” atau semacamnya, dengan menghadirkan para pembicara terkenal baik dari dalam maupun dari luar negri, maka akan membuat hamba-hamba Tuhan dari gereja-gereja yang lain dan banyak orang ingin menghadiri acara tersebut.

       Apalagi secara terbuka acara tersebut dikumandangkan dengan gencar melalui iklan dan promosi-promosi lainnya dan itu gaungnya terdengar hingga ke pelosok nusantara, sehingga peserta seminar ini berdatangan dari berbagai daerah hingga dari luar pulau atau luar daerah. Sebuah acara seminar yang besar dan ditangani secara profesional, baik dalam persiapan maupun pelaksanaan, hingga penanganan peserta dengan kebutuhan akomodasi penginapan semuanya dipersiapkan. Semua peserta seminar di data melalui proses registrasi atau pendaftaran peserta agar nanti bisa di follow up. Bagi peserta dari tempat-tempat yang jauh didukung bantuan transportasi sekaligus penginapan.

       Acara pun siap digelar, harapan peserta khususnya para hamba Tuhan sudah tidak sabar mendengarkan bagaimana langkah-langkah terobosan tentang “Pertumbuhan Gereja” dibentangkan.

       Akhirnya acara seminar dimulai dan berlangsung selama beberapa hari dengan dihadiri oleh ribuan orang. Suasana yang begitu riuh penuh sorak menambah gempita yang membahana berkepanjangan.

       Tetapi kenyataannya acara seminar tentang “Pertumbuhan Gereja” tersebut ternyata tidak banyak mengupas tentang seluk beluk pertumbuhan gereja. Justru para pembicara yang terkenal itu berkhotbah seperti dalam sebuah acara kkr yang penuh dengan suasana gegap gempita di mana sambutan tepuk tangan yang merebak terus bergema.

       Namun paling tidak semua peserta seminar termasuk para hamba-hamba Tuhan sudah merasa cukup puas karena telah melihat dan mendengar para pembicara yang hebat-hebat itu.

       Tetapi seminar tersebut bukan tanpa tujuan. Bagi gereja penyelenggara seminar, mereka sudah banyak mengeluarkan biaya untuk semua itu, mereka juga ingin menuai hasilnya. Jadi setelah acara seminar usai digelar, beberapa waktu kemudian ada gereja-gereja peserta seminar dihubungi dan ditanya bagaimana kesan mereka terhadap acara tersebut, apakah mereka diberkati?

       Tentu saja rata-rata menjawab cukup puas dan diberkati. Selanjutnya jurus pembuka digunakan dalam bentuk pertanyaan seolah menaruh peduli kepada gereja-gereja peserta seminar, apakah ada di antara gereja-gereja peserta seminar yang selama ini mengalami kesulitan dalam program pertumbuhan gereja atau mengalami kesulitan lainnya?

       Itu adalah jurus pertanyaan yang cerdik, karena program pertumbuhan gereja memang merupakan problem bagi banyak gereja. Rupanya dengan pertanyaan tersebut berhasil menjaring sasaran karena memang tidak sedikit gereja-gereja yang sedang mengalami kesulitan semacam itu.

       Maka kemudian jurus pamungkas digunakan yaitu dengan jurus menawarkan kepada mereka yang sedang menghadapi kesulitan, apakah mau bergabung dibawah payung organisasi gereja penyelenggara seminar tersebut? Dengan suatu negosiasi yang halus akhirnya beberapa gereja ikut bergabung.

       Ini seperti kata pepatah: “Memancing ikan di air keruh.”

       Oh bukan memancing, tepatnya- menangkap ikan di air keruh, sebab, ikan di air keruh tidak dapat dipancing, tapi- ikan di air keruh dapat dengan mudah ditangkap!

       Strategi seminar semacam itu perlu dipaparkan sebagai contoh karena memang ada beberapa seminar, supaya tidak dianggap berlebihan penulis tuliskan; ada beberapa seminar yang semacam itu, mengakibatkan beberapa sinode kehilangan beberapa anak cabang gerejanya. Dan menyebabkan mereka protes dan melaporkan peristiwa tersebut kepada badan gereja yang lebih tinggi.

       Memang tidak semua peristiwa berpindahnya suatu gereja ke sinode gereja yang lain semata-mata akibat karena adanya seminar yang semacam itu. Tetapi banyak hal yang lebih kompleks yang bisa menyebabkan terjadinya berpindahnya suatu gereja ke sinode gereja yang lain.

       Namun bagi gereja penyelenggara seminar, mereka telah mencapai tujuannya, mereka bukan lagi berhitung berapa jumlah jiwa yang berhasil dituai, tetapi berapa banyak anak cabang dari gereja lain yang berhasil dicaplok. Selain itu, belum lagi peserta aktivis dari gereja lain yang potensial, yang juga berhasil direkrut.

       Tetapi dalam hal ini tidak banyak hamba Tuhan yang mengetahui atau menyadari akan hal itu. Pandangan mereka tetap menganggap bahwa pemimpin yang sudah berhasil mengembangkan gerejanya tersebut dianggap sebagai potret keberhasilan.

       Itulah salah satu dinamika berkembangnya organisasi gereja pada masa kini.

       Kenapa hal itu perlu dipaparkan dan apa hubungannya dengan doktrin kemakmuran?

       Sebenarnya doktrin kemakmuran tidak bersangkut paut dengan sebuah sinode atau sebuah organisasi gereja. Lebih tepatnya doktrin kemakmuran itu berkaitan langsung dengan pribadi-pribadi atau orang-orang, yaitu dari sebagian para pemimpin gereja yang berpengaruh karena berhasil mengembangkan gerejanya.

       Logika ini mudah difahami, pada umumnya jika seorang pemimpin berhasil mengembangkan pelayanan dan mengembangkan gerejanya, maka ada bagian yang secara otomatis mengikuti dari buah keberhasilannya, yaitu hidupnya menjadi makmur.

       Maka potret kemakmuran itu membawa dampak yang cukup besar bagi pemimpin-pemimpin gereja yang lain. Karena mereka sudah melihat buktinya bahwa gereja tersebut berkembang menjadi semakin besar dan tampak jelas pemimpinnya diberkati semakin makmur.

       Makanya tidak sedikit para pemimpin gereja yang lain berusaha meniru ingin mengikuti jalur kesuksesan yang menggiurkan itu.

       Seorang pemimpin yang sudah dianggap sukses dan hidupnya terlihat makmur ingin menunjukkan kepada yang melihatnya, bahwa dalam pelayanannya Tuhan telah berkenan, sehingga gerejanya diberkati dan hidupnya diberkati berkelimpahan.

       Lalu mulailah dalam khotbahnya penekanan pencitraan diri dan doktrin kemakmuran disampaikan: “Saudara percayalah, Tuhan memberkati kita semua, kalau saya diberkati saudara semua juga pasti diberkati. Tuhan akan mengangkat saudara menjadi kepala dan bukan ekor, saudara akan tetap naik dan bukan turun. Seluruh aspek kehidupan saudara diberkati Tuhan, yang miskin jadi kaya, yang cuma punya sepeda akan menjadi punya sepeda motor, yang punya sepeda motor menjadi punya mobil, yang rumahnya kontrak akan memiliki rumah sendiri, yang punya toko satu atau punya pabrik satu nanti akan bertambah, sebab janji Tuhan ya dan amin. Saudara semua akan diberkati sampai berkelimpahan…!”

       Lalu terdengarlah suara tepuk tangan yang bergemuruh membahana beberapa saat lamanya.

       Kemudian khotbah pencitraan diri dilanjutkan sambil menanamkan pengaruh doktrin kemakmuran: “Saudara, Tuhan kita Yesus Kristus adalah Tuhan yang kaya tetapi Ia rela menjadi miskin supaya kita yang miskin menjadi kaya. Saya dahulu miskin tapi Tuhan memberkati sehingga sekarang menjadi kaya. Jadi saya tahu kekayaan itu datangnya dari Tuhan. Maka ketika saya membangun gereja, semua harta saya jual dan uangnya saya taburkan untuk membangun gereja, saya menabur, menabur dan terus menabur, juga banyak orang-orang lain ikut menabur, sampai akhirnya gereja selesai dibangun. Saudara saya bersaksi, saya menabur semua harta saya tetapi saya tidak menjadi miskin, malahan sekarang saya menjadi semakin bertambah kaya!”

       Kembali terdengar suara gemuruh tepuk tangan dari jemaat yang semakin antusias. Rupanya doktrin kemakmuran alias khotbah yang isinya tentang berkat dan kemakmuran ini semakin menancap di hati jemaat.

       Tinggal sekarang waktunya si pemimpin menuai: “Jadi saudara-saudara, jangan takut untuk menabur, ayo menabur berikan persembahan persepuluhan, menaburlah dengan “janji iman”, menabur untuk pembangunan gereja, menabur untuk diakonia, menaburlah untuk pekerjaan Tuhan. Menaburlah, biji yang satu biji akan tetap tinggal satu biji kalau tidak ditaburkan, tapi kalau ditaburkan biji itu memang akan mati, tapi setelah itu akan tumbuh tunas dan akhirnya menghasilkan buah yang banyak!”

       Maka khotbah dengan muatan doktrin kemakmuran tersebut berhasil mempengaruhi hati jemaat dan hasilnya banyak taburan yang mengalir, pundi-pundi gereja makin bertambah dan si pemimpin menjadi semakin bertambah kaya dan makmur.

       Khotbah semacam itu sekarang ini begitu ngetrend, digemari dan banyak ditiru oleh pemimpin-pemimpin gereja yang lain. Setiap ayat-ayat yang berbicara tentang berkat dapat menjadi modal untuk bahan khotbah dengan muatan doktrin kemakmuran.

       Pertanyaannya; kenapa khotbah bermuatan berkat sebagai landasan doktrin kemakmuran itu begitu digandrungi baik oleh pengkhotbah maupun oleh jemaat?

       Karena, kalau bagi si pengkhotbah, tentu ia merasa seolah-olah sudah tampil sebagai seorang pahlawan yang menjadi berkat dan memberi kemenangan bagi jemaat bila sudah menyampaikan khotbah dari janji Tuhan tentang berkat. Selain itu ia juga dapat menuai keuntungan bila jemaat merasa diberkati oleh khotbahnya, lalu kemudian berlomba-lomba memberi persembahan, maka hasilnya akan mempergemuk rekeningnya.

       Sedangkan bagi jemaat sendiri mereka menyambut dengan sangat antusias dan penuh semangat, karena si pengkhotbah telah berhasil meyakinkan mereka bahwa janji Tuhan pasti akan digenapi, bahwa setiap orang percaya hidupnya pasti akan diberkati sampai berkelimpahan.

       Muncul pertanyaan sederhana, mengapa pada umumnya jemaat merasa begitu senang menerima khotbah tentang berkat?

       Jawabannya sederhana pula, karena secara psikologis khotbah tentang berkat itu seakan memberi pengharapan baru bagi jemaat.

       Secara psikologis bahkan untuk orang-orang yang sudah kaya mereka juga ingin diberkati menjadi lebih kaya lagi. Sedangkan bagi orang-orang yang terpuruk dan susah, begitu mereka mendengar janji berkat Tuhan, mereka seperti melihat pengharapan baru. Jadi itulah alasan mengapa kemudian mereka menerima doktrin kemakmuran tersebut dengan antusias dan penuh harapan.

       Sekali lagi, karena secara psikologis, banyak jemaat yang sudah cukup lama merasa bosan hidup susah, mereka bosan menderita, mereka bosan kekurangan, mereka bosan dibelit hutang, mereka bosan menghadapi kesulitan yang datang silih berganti. Kebanyakan dari jemaat sudah merasa kepayahan memikul berbagai rasa bosan karena persoalan ini dan itu yang menindih hidup mereka. Maka ketika datang angin sorga berhembus melalui janji-janji berkat Tuhan yang ditiupkan oleh para pengkhotbah, mereka mulai merasa terhibur dan berharap.

       Tapi entah sampai kapan jemaat terus berharap untuk bisa menikmati kemakmuran, sedangkan sementara itu ketimpangan terlihat semakin mencolok antara kehidupan sang pemimpin dan kehidupan jemaat.

       Sementara jemaat masih berkutat dengan keadaan yang ruwet, tapi sang pemimpin semakin mencuat bak meteor berkilauan dalam gemerlap singgasananya yang mewah. Dan tidak jarang dari mulutnya terdengar gaung pernyataan yang menggetarkan hati jemaat, bahwa; “begitulah hidup orang yang berkenan di mata Tuhan, hidupnya diberkati sampai berkelimpahan.”

       Ah, siapakah manusia yang tidak silau dan tidak ingin menikmati keadaan seperti itu, hidup mewah berkelimpahan, dihormati dan diagung-agungkan?

       Itulah realita kehidupan, bahkan sekalipun bagi seseorang yang hidup dalam ruang lingkup kerohanian, siapa pun orangnya jika tidak berhati-hati, akhirnya akan silau dan memilih untuk bersukaria dalam kemewahan. Gereja sebagai lembaga kerohanian bisa berubah menjadi lembaga keduniawian.

       Kehendak Tuhan, mestinya gereja dijadikan sebagai suatu sarana bagi kepanjangan tangan Tuhan untuk menyelamatkan manusia, tetapi bagi para pemimpin tidak jarang gereja malah dijadikan sebagai sarana untuk membangun kerajaan-kerajaan kecil bagi kepentingan-kepentingan pribadinya, keluarganya, dan orang-orang disekelilingnya.

       Jadi anda jangan heran bila melihat gereja-gereja terlihat seperti kerajaan-kerajaan kecil dengan keberadaan masing-masing pemimpinnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar