Selasa, 22 April 2014

BAB 6


BELAJAR SEPERTI PETRUS
MENUJU KEDEWASAAN DAN KESEMPURNAAN

 Sekarang penulis mengajak anda untuk melihat babak baru kehidupan Petrus yang akan menuju kedewasaan dan kesempurnaan!

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Kata Yesus untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Yoh 21:15-17.

Ada hal yang istimewa dalam pertanyaan Yesus kepada Petrus yang ditanyakan sampai tiga kali dengan pertanyaan yang sama: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan tiga kali pula Petrus menjawab dengan jawaban yang sama: “Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Walaupun ketika sampai pada pertanyaan yang ketiga kalinya hati Petrus menjadi sedih.
Dan yang sangat istimewa lagi adalah jawaban Yesus yang tetap sama untuk ketiga kalinya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

Apa maksudnya?

       Inilah hal yang istimewa, Yesus sedang mempersiapkan Petrus untuk benar-benar menjadi seorang gembala yang baik. Gembala yang baik memberi makan domba-dombanya.

       Yesus sudah pernah memberi contoh dan teladan kepada murid-murid-Nya, pada waktu Ia memberi makan lima ribu orang. Sebelumnya Ia melihat sejumlah besar orang banyak, hati-Nya tergerak oleh belas kasihan, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala.

       Ia mengajar mereka, tetapi karena hari mulai malam, murid-murid-Nya berkata kepada-Nya: “ Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini.”
       Tetapi jawab-Nya: “Kamu harus memberi mereka makan!” (Mrk 6:34-37). (Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).

       Kemudian dengan lima roti dan dua ikan, Yesus membuat mujizat dan memberi makan lima ribu orang laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak-anak. ((Mrk 6:38-44)).

       Yesus sebagai Gembala yang baik sedang mempersiapkan Petrus untuk juga menjadi seorang gembala yang baik!

       Dan terbukti dengan peneguhan melalui pertanyaan yang sama kepada Petrus sampai ketiga kalinya, dan jawaban Yesus yang sama juga untuk ketiga kalinya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Petrus menjadi gembala yang baik dengan kepribadian seperti pribadi Yesus. Petrus memberi makan domba-domba yang digembalakannya!

       Menjadi gembala yang baik atau menjadi pemimpin yang baik, adalah karena mengasihi Yesus lebih dari yang lain.

       Itulah yang dilakukan oleh Petrus bersama rasul-rasul yang lain di Yerusalem sesudah khotbah Petrus dalam peristiwa Pentakosta, di mana jemaat Tuhan yang mula-mula dibangun, dan juga setelah bertambahnya jumlah orang percaya, setelah khotbahnya di Serambi Salomo. Para rasul bertanggung-jawab kepada kehidupan orang-orang percaya, seperti gembala bertanggung jawab memberi makan domba-dombanya.

       Dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Kis 2:45. (Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).

       Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. Kis 4:34-35. (Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).

       Sebagai gembala Petrus seharusnya punya kesempatan untuk hidup makmur. Betapa tidak, hasil dari khotbahnya pada waktu Pentakosta saja kira-kira dia sudah punya jemaat tiga ribu orang. Apalagi ditambah setelah dia berkhotbah di Serambi Salomo, kira-kira jumlah jemaatnya menjadi lima ribu orang laki-laki, belum ditambah perempuan dan anak-anak. Pasti kesempatan hidup makmur semakin terbuka.

       Tetapi Petrus bukan gembala yang tamak dan serakah, dia bukan hamba uang, dia adalah hamba Kristus yang bersahaja dengan mencukupkan diri dari apa yang ada. Sehingga ketika banyak persembahan yang melimpah diletakkan di bawah kakinya dan kaki rasul-rasul yang lain; apa yang mereka lakukan?

       Alkitab menuliskan: lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.

       Petrus dan rasul-rasul yang lain tidak mau memperkaya diri sendiri. Bukti nyata yang menggambarkan bahwa mereka tidak mau memperkaya diri sendiri terlihat saat Petrus dan Yohanes masuk ke Bait Allah.

       Bagaimana mereka bertemu dengan seorang yang sakit lumpuh sejak lahirnya, orang yang lumpuh ini meminta sedekah kepada mereka dan Petrus berkata: “Lihatlah kepada kami.”

       Lalu orang itu menatap mereka dengan harapan akan mendapat sesuatu dari mereka. Tetapi Petrus berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus orang Nazaret itu, berjalanlah!” (Kis 3:1-6).

       Sulit untuk dapat dipercaya, bagaimana mungkin seorang gembala dengan jemaat lebih dari tiga ribu orang dapat berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku”, tetapi itulah faktanya; Petrus benar-benar menepati janjinya kepada Tuhan Yesus, ia menjadi gembala yang baik dengan lebih mementingkan memelihara domba-domba Tuhan dibandingkan mengumpulkan harta untuk dirinya.

       Sampai di sini kita melihat perjalanan kepribadian Petrus yang mulai menuju kedewasaan dan kesempurnaan, tetapi ini baru awalnya.

       Jika Yesus sebagai Tuhan adalah contoh Gembala yang sempurna, maka Petrus sebagai manusia adalah contoh seorang gembala atau seorang pemimpin yang patut untuk diteladani, karena ia memberi contoh bagaimana menjadi gembala yang baik. Yesus mempersiapkan Petrus untuk menjadi gembala yang baik karena Ia tahu sejak zaman nabi Yehezkiel sudah banyak gembala-gembala yang jahat!

       Gembala-gembala yang jahat itu adalah mereka yang menggembalakan dirinya sendiri. Jadi rupa-rupanya doktrin kemakmuran yaitu memperkaya diri sendiri sudah ada sejak zaman dahulu! Gembala-gembala yang jahat itu menjadi gembala dengan motivasi untuk menikmati susu dari domba-dombanya, menggunting bulunya untuk dijadikan mantel, menyembelih yang gemuk untuk berpesta pora, tetapi domba-domba itu sendiri tidak digembalakan!

       Beginilah pembacaan lengkapnya;

       Lalu datanglah firman Tuhan kepadaku: “Hai anak manusia, bernubuatlah melawan gembala-gembala Israel, bernubuatlah dan katakanlah kepada mereka, kepada gembala-gembala itu: Beginilah firman Tuhan Allah: Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala itu?
       Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu tidak kamu gembalakan.
       Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman. Yeh 34:1-4.

       Kehidupan gembala-gembala yang jahat di zaman nabi Yehezkiel bisa terulang kembali terjadi di zaman sekarang. Bahkan mungkin bisa lebih buruk lagi!

       Ciri-ciri gembala yang jahat yang hanya menggembalakan dirinya sendiri ialah; senang dengan domba yang sehat untuk diperah dinikmati susunya, suka yang bulunya lebat untuk dipotong dijadikan pakaian hangatnya, mencari yang gemuk untuk disembelih dimakan dagingnya, tetapi domba-domba itu dibiarkan mencari rumput sendiri tidak digembalakan.

       Yang mencolok dari perilaku gembala-gembala yang jahat ini sikapnya sungguh keterlaluan; yang lemah tidak dikuatkan, yang sakit tidak diobati, yang luka tidak dirawat, yang tersesat dibiarkan, yang hilang tidak dipedulikan untuk dicari, melainkan mereka bertindak semena-mena menginjak-injak domba-domba yang malang itu dengan kekerasan dan kekejaman!

       Domba yang gemuk sehat berbulu lebat dielus-elus, dibelai-belai, disayang-sayang untuk kemudian diperas susunya, digunting bulunya, dan disembelih diambil dagingnya.

       Bagi gembala-gembala yang jahat domba-domba tersebut sangat berharga, makanya domba-domba yang seperti itu lebih mendapat perhatian dan lebih sering dikunjungi, bila perlu lehernya diikat dan talinya diikatkan ke tiang-tiang gereja, maksudnya diberi tugas-tugas yang mengikat di gereja agar tidak sampai terlepas. Kalau sampai terlepas, apalagi sampai pindah kandang, mereka akan berusaha menemukannya dan memperjuangkannya. Bila domba-domba tersebut ditemukan dikandang yang lain, bila perlu kandangnya dibongkar agar dombanya dapat digiring dibawa kembali pulang.

       Perilaku gembala-gembala yang jahat itu suka memperebutkan domba-domba yang gemuk sehat berbulu lebat.

       Sebaliknya terhadap domba-domba yang kurus, yang lemah, yang sakit, yang luka, yang tersesat, bahkan yang hilang, masa bodoh dengan semua itu! Malahan domba-domba yang seperti itu hanya dianggap menjadi beban saja, makanya domba-domba yang seperti itu dianggap tidak berharga sehingga diinjak-injak pun tidak menjadi masalah! Sikapnya terhadap domba-domba yang malang itu tanpa belas kasihan, tidak ada rasa hormat, sikap yang ditunjukkan sebatas formalitas, hanya dikarenakan “predikatnya” sebagai gembala.

       Tetapi kepada domba yang gemuk tambun dengan lemak berjibun, sikapnya berubah, mukanya dipasang ramah, sanjungan dan pujian basi dilontarkan, matanya memandang jeli penuh taksiran, seperti mata seorang penaksir permata yang jempolan.

       Kepada gembala-gembala yang jahat itu Tuhan berfirman;

       Oleh karena itu, hai gembala-gembala, dengarlah firman Tuhan:
       Beginilah firman Tuhan Allah: Aku sendiri akan menjadi lawan gembala-gembala itu dan Aku akan menuntut kembali domba-domba-Ku dari mereka dan akan memberhentikan mereka menggembalakan domba-domba-Ku. Gembala-gembala itu tidak akan terus lagi menggembalakan dirinya sendiri; Aku akan melepaskan domba-domba-Ku dari mulut mereka, sehingga tidak terus lagi menjadi makanannya. Yeh 34:9-10.

       Celakalah gembala-gembala yang jahat itu karena berhadapan langsung dengan Tuhan sebagai lawannya! Jika Tuhan yang berdiri sebagai lawannya maka gembala-gembala yang jahat itu pasti tidak akan terluput!

       Akibat perilaku gembala-gembala yang jahat itu dengan lebih memperhatikan dan menyanjung-nyanjung domba-domba yang gemuk itu, menyebabkan terjadinya masalah antara domba-domba yang gemuk dengan domba-domba yang kurus. Domba-domba yang gemuk itu bersikap lebih agresif dengan mendesakkan lambung dan bahunya serta menanduk domba-domba yang kurus sampai mereka terhalau keluar kandang.

       Tuhan sebagai Gembala menjadi hakim antara domba yang gemuk dengan domba yang kurus.

       Oleh sebab itu, beginilah firman Tuhan Allah terhadap mereka. Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan menjadi hakim di antara domba yang gemuk dan domba yang kurus;
       Oleh karena semua yang lemah kamu desak dengan lambungmu dan bahumu serta kamu tanduk dengan tandukmu, sehingga kamu menghalau mereka ke luar kandang, maka Aku akan menolong domba-domba-Ku, supaya mereka jangan lagi menjadi mangsa dan Aku akan menjadi hakim di antara domba dengan domba. Yeh 34:20-22.

       Beruntunglah nasib domba-domba yang kurus dan malang tersebut, karena masih ada Tuhan sebagai Gembala yang baik yang menolong melindungi mereka sehingga terlepas dari mulut gembala-gembala yang jahat serta domba-domba yang gemuk yang suka menyeruduk itu.

       Firman Tuhan menyatakan bahwa Tuhan membebaskan domba-domba-Nya yang kurus dan malang tersebut dari mulut gembala-gembala yang jahat, tapi itu nanti pada waktu penghakiman terakhir.

        Kenyataannya sekarang masih banyak berkeliaran gembala-gembala yang jahat yang menggunakan tongkat gembala dengan mengatas-namakan Tuhan. Tapi mata Tuhan tidak dapat dikelabui, setiap kedok dan topeng akan ditelanjangi, semua itu akan dibukakan pada waktu Penghakiman Terakhir terjadi! Dan akan terbukti karena tidak ada satu pun hal yang dapat ditutupi!

       Tuhan Yesus berkata:

       Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
       Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
       Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Mat 7:21-23.

       Manusia bisa ditipu, manusia bisa dikelabui, manusia bisa dibodohi. Tetapi di mata Tuhan tidak ada yang tersembunyi!

       Mereka yang ditolak bukanlah orang-orang biasa, tetapi mereka adalah orang-orang yang dalam melakukan tugasnya sudah biasa dengan mengatas-namakan Tuhan; bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, mengusir setan demi nama-Mu, mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga! Pendek kata dihadapan manusia mereka mampu memanipulasi segala perbuatannya atas nama Tuhan!

       Tuhan Yesus sudah memperingatkan, siapa sebenarnya mereka, di ayat sebelumnya.

       “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.” Mat 7:15. (Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).

       Ternyata orang-orang seperti itulah yang ditolak, yaitu utusan-utusan yang palsu! Mereka mengaku sebagai utusan Tuhan, tapi ternyata nabi-nabi palsu!

       Kalau ada rasul yang sebenarnya- maka ada juga rasul palsu, kalau ada nabi yang sebenarnya- maka ada juga nabi palsu, kalau ada gembala yang sebenarnya- maka ada juga gembala palsu, kalau ada pemberita Injil yang sebenarnya- maka ada juga pemberita Injil palsu, kalau ada pengajar atau guru yang sebenarnya- maka ada juga pengajar atau  guru palsu!

       Yang palsu-palsu itu pandai menyamar, walaupun sebenarnya mereka adalah serigala yang buas, tapi dapat tampil seperti domba yang lemah dan manis.

       Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang.
       Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka. 2 Kor 11:14-15. (Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).

       Tetapi Tuhan Yesus sudah memberi tahu tanda-tanda dari mereka yang palsu- yaitu; Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Mat 7:20. (Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).

       Perhatikanlah buah-buah kehidupan dari orang-orang yang suka menonjol-nonjolkan pelayanannya dengan mengatas-namakan Tuhan, apakah benar yang dilakukannya murni untuk Tuhan atau justru untuk kepentingannya sendiri.

       Seperti apakah gambaran mereka yang seolah-olah melakukan tugasnya untuk Tuhan tetapi ternyata hanya untuk kepentingannya sendiri?

       Ayat-ayat firman Tuhan di bawah ini yang akan menjelaskan.

       Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima. Menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka!
       Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya. Rm 16:17-18. (Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).

       Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi. (Fil 3:19). (Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).

       Urusan perut dan perkara duniawi itulah yang menjadi tanda dari mereka yang palsu. Serigala yang buas yang menyamar seperti domba!

       Gembala-gembala yang jahat yang menjadi lawannya Tuhan adalah gembala-gembala yang palsu. Gembala-gembala yang palsu itu adalah gembala-gembala upahan yang sebenarnya bukan gembala.

       Sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. Yoh 10:12.

       Orang-orang upahan atau gembala-gembala yang palsu itulah yang mengajarkan doktrin kemakmuran. Mereka tidak menyayangkan nasib domba-domba yang malang tersebut. Mereka tidak peduli, sebaliknya mereka hanya peduli kepada domba yang sehat untuk diperas susunya, yang berbulu tebal untuk digunting bulunya dijadikan pakaian, dan dipilih yang tambun-tambun yang dagingnya empuk untuk disembelih.

       Makanya tidak heran, dari contoh para pemimpin yang demikian tersebut, muncullah orang-orang yang mengikuti jejak mereka yaitu ingin melayani, tetapi dengan motivasi hanya untuk supaya dapat menikmati hidup makmur sekaligus dihormati banyak orang!

       Pelayanan itu hanya dianggap sebagai pekerjaan atau bisnis. Bahkan banyak yang membuka gereja seperti orang yang sedang membuka usaha bisnis. Di kalkulasi, dihitung-hitung untung ruginya. Dengan modal sekian nanti kira-kira bisa kembali berapa.

       Karena perhitungannya antara untung dan rugi, maka tempat yang akan dipakai gereja tersebut di survei lebih dahulu- cukup strategis atau tidak, di situ banyak domba yang gemuk atau tidak. Pendek kata perhitungan seorang pebisnis handal digunakan, jangan sampai meleset dan merugi! Jadi jelas, jika tujuannya membuka gereja dengan perhitungan untung rugi, maka dapat dipastikan mereka itu tidak akan mungkin membuka gereja di daerah pinggiran atau di desa-desa! Bisa bangkrut, modalnya ludes! Jangankan di daerah pinggiran atau di desa-desa, di kota saja karena persaingan dan banyaknya gereja yang menjamur bisa membuat gereja yang berhitung untung rugi, bisa tekor! Karena bagi gereja yang sudah besar, apalagi yang mengajarkan doktrin kemakmuran, mereka ini biasanya lebih suka menancapkan akarnya kuat-kuat di tengah-tengah kota. Gereja-gereja yang lain bukan dianggap sebagai bagian dari tubuh Kristus, tetapi sebagai pesaing! Karena ini sudah seperti bisnis, maka mereka enggan ber-investasi di daerah-daerah pinggiran, apalagi ber-investasi di desa-desa yang masih tertinggal!

       Mereka itu melayani dan menjadi pemimpin hanya untuk mengambil kesempatan menikmati hidup makmur. Minum susu segar, berpakaian bulu domba yang hangat, dan mengecap daging domba tambun berlemak yang lezat. Alkitab menulis, pemimpin dengan gaya hidup makmur itu sudah ada dan sudah terjadi sejak zaman nabi Yehezkiel. Jadi kalau sekarang kembali muncul doktrin kemakmuran itu adalah kemunduran! Bukan kemajuan!

       Jadi jelas; ALKITAB MENJAWAB:

       Doktrin Kemakmuran itu adalah; Kemunduran bukan Kemajuan!

       Doktrin Kemakmuran itu adalah; Kesalahan bukan Kebenaran!

       Itu sebabnya pemimpin-pemimpin yang kesukaannya hanya untuk mengambil kesempatan menikmati hidup makmur, dijadikan musuh oleh Tuhan! (Yeh 34:10).

       Berbahagialah para gembala yang baik, berbahagialah para pemimpin yang baik, yang melakukan tugasnya dengan bertanggung jawab menjaga, merawat, dan memelihara domba-domba yang dipercayakan kepadanya. Seperti Petrus dan para rasul yang lain, mereka berani menghadapi resiko apa pun untuk menggembalakan umat Tuhan.

       Petrus karena keseriusannya untuk menggembalakan domba-domba milik Tuhan, maka Yesus pun menetapkan Petrus untuk menghadapi situasi dengan suatu resiko yang- bahkan Petrus pun tidak menghendakinya!

       Setiap pemimpin yang baik akan mengikuti jejak Petrus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar