BELAJAR SEPERTI PETRUS
MENUJU KEDEWASAAN DAN KESEMPURNAAN
Sekarang penulis mengajak anda untuk melihat babak baru kehidupan Petrus
yang akan menuju kedewasaan dan kesempurnaan!
Sesudah sarapan Yesus berkata kepada
Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari
mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku
mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua
kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus
kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus
kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Kata Yesus untuk ketiga kalinya:
“Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus
karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan
ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa
aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Yoh
21:15-17.
Ada hal yang istimewa dalam pertanyaan
Yesus kepada Petrus yang ditanyakan sampai tiga kali dengan pertanyaan yang
sama: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan tiga kali pula Petrus menjawab dengan
jawaban yang sama: “Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Walaupun ketika
sampai pada pertanyaan yang ketiga kalinya hati Petrus menjadi sedih.
Dan yang sangat istimewa lagi adalah
jawaban Yesus yang tetap sama untuk ketiga kalinya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Apa maksudnya?
Inilah hal yang istimewa, Yesus
sedang mempersiapkan Petrus untuk benar-benar menjadi seorang gembala yang
baik. Gembala yang baik memberi makan
domba-dombanya.
Yesus sudah pernah memberi contoh dan teladan kepada murid-murid-Nya,
pada waktu Ia memberi makan lima
ribu orang. Sebelumnya Ia melihat sejumlah besar orang banyak, hati-Nya tergerak oleh belas kasihan,
karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala.
Ia mengajar mereka, tetapi karena hari mulai malam, murid-murid-Nya
berkata kepada-Nya: “ Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah
mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di
kampung-kampung di sekitar ini.”
Tetapi jawab-Nya: “Kamu
harus memberi mereka makan!” (Mrk 6:34-37). (Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut
oleh penulis).
Kemudian dengan lima roti dan dua ikan,
Yesus membuat mujizat dan memberi makan lima
ribu orang laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak-anak. ((Mrk 6:38-44)).
Yesus sebagai Gembala yang baik sedang mempersiapkan Petrus untuk juga
menjadi seorang gembala yang baik!
Dan terbukti dengan peneguhan
melalui pertanyaan yang sama kepada Petrus sampai ketiga kalinya, dan jawaban
Yesus yang sama juga untuk ketiga kalinya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Petrus menjadi gembala yang baik dengan kepribadian seperti pribadi Yesus.
Petrus memberi makan domba-domba yang digembalakannya!
Menjadi gembala yang baik
atau menjadi pemimpin yang baik, adalah karena mengasihi Yesus lebih dari yang
lain.
Itulah yang dilakukan oleh Petrus bersama
rasul-rasul yang lain di Yerusalem sesudah khotbah Petrus dalam peristiwa
Pentakosta, di mana jemaat Tuhan yang mula-mula dibangun, dan juga setelah
bertambahnya jumlah orang percaya, setelah khotbahnya di Serambi Salomo. Para rasul bertanggung-jawab kepada kehidupan orang-orang
percaya, seperti gembala bertanggung jawab memberi makan domba-dombanya.
Dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu
membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.
Kis 2:45. (Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).
Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena
semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil
penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul;
lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. Kis
4:34-35. (Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).
Sebagai gembala Petrus seharusnya punya kesempatan untuk hidup makmur.
Betapa tidak, hasil dari khotbahnya pada waktu Pentakosta saja kira-kira dia
sudah punya jemaat tiga ribu orang. Apalagi ditambah setelah dia berkhotbah di
Serambi Salomo, kira-kira jumlah jemaatnya menjadi lima ribu orang laki-laki, belum ditambah
perempuan dan anak-anak. Pasti kesempatan hidup makmur semakin terbuka.
Tetapi Petrus bukan gembala yang tamak dan serakah, dia bukan hamba
uang, dia adalah hamba Kristus yang bersahaja dengan mencukupkan diri dari apa
yang ada. Sehingga ketika banyak persembahan yang melimpah diletakkan di bawah
kakinya dan kaki rasul-rasul yang lain; apa yang mereka lakukan?
Alkitab menuliskan: lalu
dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.
Petrus dan rasul-rasul yang lain tidak mau memperkaya diri sendiri.
Bukti nyata yang menggambarkan bahwa mereka tidak mau memperkaya diri sendiri
terlihat saat Petrus dan Yohanes masuk ke Bait Allah.
Bagaimana mereka bertemu dengan seorang yang sakit lumpuh sejak
lahirnya, orang yang lumpuh ini meminta sedekah kepada mereka dan Petrus
berkata: “Lihatlah kepada kami.”
Lalu orang itu menatap mereka dengan harapan akan mendapat sesuatu dari
mereka. Tetapi Petrus berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa
yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus orang Nazaret itu,
berjalanlah!” (Kis 3:1-6).
Sulit untuk dapat dipercaya, bagaimana mungkin seorang gembala dengan
jemaat lebih dari tiga ribu orang dapat berkata: “Emas dan perak tidak ada
padaku”, tetapi itulah faktanya; Petrus benar-benar menepati janjinya
kepada Tuhan Yesus, ia menjadi gembala yang baik dengan lebih
mementingkan memelihara domba-domba Tuhan dibandingkan mengumpulkan harta untuk
dirinya.
Sampai di sini kita melihat
perjalanan kepribadian Petrus yang mulai menuju kedewasaan dan kesempurnaan,
tetapi ini baru awalnya.
Jika Yesus sebagai
Tuhan adalah contoh Gembala yang sempurna, maka Petrus sebagai manusia adalah
contoh seorang gembala atau seorang pemimpin yang patut untuk diteladani,
karena ia memberi contoh bagaimana menjadi gembala yang baik. Yesus
mempersiapkan Petrus untuk menjadi gembala yang baik karena Ia tahu sejak zaman
nabi Yehezkiel sudah banyak gembala-gembala yang jahat!
Gembala-gembala yang jahat itu adalah
mereka yang menggembalakan dirinya sendiri. Jadi rupa-rupanya doktrin
kemakmuran yaitu memperkaya diri sendiri sudah ada sejak zaman dahulu!
Gembala-gembala yang jahat itu menjadi gembala dengan motivasi untuk menikmati
susu dari domba-dombanya, menggunting bulunya untuk dijadikan mantel,
menyembelih yang gemuk untuk berpesta pora, tetapi domba-domba itu sendiri
tidak digembalakan!
Beginilah pembacaan lengkapnya;
Lalu datanglah firman Tuhan kepadaku: “Hai anak manusia, bernubuatlah
melawan gembala-gembala Israel,
bernubuatlah dan katakanlah kepada mereka, kepada gembala-gembala itu:
Beginilah firman Tuhan Allah: Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya
sendiri! Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala
itu?
Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu
sembelih, tetapi domba-domba itu tidak kamu gembalakan.
Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka
tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu
cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman. Yeh 34:1-4.
Kehidupan gembala-gembala
yang jahat di zaman nabi Yehezkiel bisa terulang kembali terjadi di zaman
sekarang. Bahkan mungkin bisa lebih buruk lagi!
Ciri-ciri gembala yang jahat yang hanya menggembalakan dirinya sendiri
ialah; senang dengan domba yang sehat untuk diperah dinikmati susunya, suka
yang bulunya lebat untuk dipotong dijadikan pakaian hangatnya, mencari yang
gemuk untuk disembelih dimakan dagingnya, tetapi domba-domba itu dibiarkan
mencari rumput sendiri tidak digembalakan.
Yang mencolok dari perilaku gembala-gembala yang jahat ini sikapnya
sungguh keterlaluan; yang lemah tidak dikuatkan, yang sakit tidak diobati, yang
luka tidak dirawat, yang tersesat dibiarkan, yang hilang tidak dipedulikan
untuk dicari, melainkan mereka bertindak semena-mena menginjak-injak
domba-domba yang malang
itu dengan kekerasan dan kekejaman!
Domba yang gemuk sehat
berbulu lebat dielus-elus, dibelai-belai, disayang-sayang untuk kemudian
diperas susunya, digunting bulunya, dan disembelih diambil dagingnya.
Bagi gembala-gembala yang jahat
domba-domba tersebut sangat berharga, makanya domba-domba yang seperti itu
lebih mendapat perhatian dan lebih sering dikunjungi, bila perlu lehernya
diikat dan talinya diikatkan ke tiang-tiang gereja, maksudnya diberi
tugas-tugas yang mengikat di gereja agar tidak sampai terlepas. Kalau sampai
terlepas, apalagi sampai pindah kandang, mereka akan berusaha menemukannya dan
memperjuangkannya. Bila domba-domba tersebut ditemukan dikandang yang lain,
bila perlu kandangnya dibongkar agar dombanya dapat digiring dibawa kembali
pulang.
Perilaku gembala-gembala yang
jahat itu suka memperebutkan domba-domba yang gemuk sehat berbulu lebat.
Sebaliknya terhadap domba-domba yang kurus, yang lemah, yang
sakit, yang luka, yang tersesat, bahkan yang hilang, masa bodoh dengan semua
itu! Malahan domba-domba yang seperti itu hanya dianggap menjadi beban saja,
makanya domba-domba yang seperti itu dianggap tidak berharga sehingga
diinjak-injak pun tidak menjadi masalah! Sikapnya terhadap domba-domba yang malang itu tanpa belas
kasihan, tidak ada rasa hormat, sikap yang ditunjukkan sebatas formalitas,
hanya dikarenakan “predikatnya” sebagai gembala.
Tetapi kepada domba yang
gemuk tambun dengan lemak berjibun, sikapnya berubah, mukanya dipasang ramah,
sanjungan dan pujian basi dilontarkan, matanya memandang jeli penuh taksiran,
seperti mata seorang penaksir permata yang jempolan.
Kepada gembala-gembala yang jahat itu Tuhan berfirman;
Oleh karena itu, hai gembala-gembala, dengarlah firman Tuhan:
Beginilah firman Tuhan Allah: Aku sendiri akan menjadi lawan
gembala-gembala itu dan Aku akan menuntut kembali domba-domba-Ku dari mereka
dan akan memberhentikan mereka menggembalakan domba-domba-Ku. Gembala-gembala
itu tidak akan terus lagi menggembalakan dirinya sendiri; Aku akan melepaskan
domba-domba-Ku dari mulut mereka, sehingga tidak terus lagi menjadi makanannya.
Yeh 34:9-10.
Celakalah gembala-gembala yang jahat itu karena berhadapan langsung
dengan Tuhan sebagai lawannya! Jika Tuhan yang berdiri sebagai lawannya maka
gembala-gembala yang jahat itu pasti tidak akan terluput!
Akibat perilaku gembala-gembala yang jahat itu dengan lebih
memperhatikan dan menyanjung-nyanjung domba-domba yang gemuk itu, menyebabkan
terjadinya masalah antara domba-domba yang gemuk dengan domba-domba yang kurus.
Domba-domba yang gemuk itu bersikap lebih agresif dengan mendesakkan lambung
dan bahunya serta menanduk domba-domba yang kurus sampai mereka terhalau keluar
kandang.
Tuhan sebagai Gembala
menjadi hakim antara domba yang gemuk dengan domba yang kurus.
Oleh sebab itu, beginilah firman Tuhan Allah terhadap mereka. Dengan
sesungguhnya Aku sendiri akan menjadi hakim di antara domba yang gemuk dan
domba yang kurus;
Oleh karena semua yang lemah kamu desak dengan lambungmu dan bahumu
serta kamu tanduk dengan tandukmu, sehingga kamu menghalau mereka ke luar
kandang, maka Aku akan menolong domba-domba-Ku, supaya mereka jangan lagi
menjadi mangsa dan Aku akan menjadi hakim di antara domba dengan domba. Yeh 34:20-22.
Beruntunglah nasib domba-domba yang kurus dan malang tersebut, karena masih ada Tuhan
sebagai Gembala yang baik yang menolong melindungi mereka sehingga terlepas
dari mulut gembala-gembala yang jahat serta domba-domba yang gemuk yang suka
menyeruduk itu.
Firman Tuhan menyatakan bahwa Tuhan membebaskan domba-domba-Nya yang
kurus dan malang
tersebut dari mulut gembala-gembala yang jahat, tapi itu nanti pada waktu
penghakiman terakhir.
Kenyataannya sekarang masih banyak
berkeliaran gembala-gembala yang jahat yang menggunakan tongkat gembala dengan
mengatas-namakan Tuhan. Tapi mata Tuhan tidak dapat dikelabui, setiap kedok dan
topeng akan ditelanjangi, semua itu akan dibukakan pada waktu Penghakiman
Terakhir terjadi! Dan akan terbukti karena tidak ada satu pun hal yang dapat
ditutupi!
Tuhan Yesus berkata:
Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke
dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di
sorga.
Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan,
bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan
mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata:
Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat
kejahatan!” Mat 7:21-23.
Manusia bisa ditipu, manusia
bisa dikelabui, manusia bisa dibodohi. Tetapi di mata Tuhan tidak ada yang
tersembunyi!
Mereka yang ditolak bukanlah orang-orang biasa, tetapi mereka adalah
orang-orang yang dalam melakukan tugasnya sudah biasa dengan mengatas-namakan
Tuhan; bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, mengusir setan demi nama-Mu,
mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga! Pendek kata dihadapan
manusia mereka mampu memanipulasi segala perbuatannya atas nama Tuhan!
Tuhan Yesus sudah memperingatkan, siapa sebenarnya mereka, di ayat
sebelumnya.
“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan
menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.”
Mat 7:15. (Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).
Ternyata orang-orang seperti itulah yang ditolak, yaitu utusan-utusan
yang palsu! Mereka mengaku sebagai utusan Tuhan, tapi ternyata nabi-nabi palsu!
Kalau ada rasul yang sebenarnya- maka ada juga rasul palsu, kalau ada
nabi yang sebenarnya- maka ada juga nabi palsu, kalau ada gembala yang
sebenarnya- maka ada juga gembala palsu, kalau ada pemberita Injil yang
sebenarnya- maka ada juga pemberita Injil palsu, kalau ada pengajar atau guru
yang sebenarnya- maka ada juga pengajar atau
guru palsu!
Yang palsu-palsu itu pandai menyamar, walaupun sebenarnya mereka adalah
serigala yang buas, tapi dapat tampil seperti domba yang lemah dan manis.
Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai
malaikat Terang.
Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar
sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan
perbuatan mereka.
2 Kor 11:14-15.
(Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).
Tetapi Tuhan Yesus sudah memberi
tahu tanda-tanda dari mereka yang palsu- yaitu; Jadi dari buahnyalah kamu akan
mengenal mereka.
Mat 7:20. (Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).
Perhatikanlah buah-buah kehidupan dari orang-orang yang suka
menonjol-nonjolkan pelayanannya dengan mengatas-namakan Tuhan, apakah benar
yang dilakukannya murni untuk Tuhan atau justru untuk kepentingannya sendiri.
Seperti apakah gambaran mereka yang seolah-olah melakukan tugasnya untuk
Tuhan tetapi ternyata hanya untuk kepentingannya sendiri?
Ayat-ayat firman Tuhan
di bawah ini yang akan menjelaskan.
Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada
terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima.
Menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka!
Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi
melayani perut mereka sendiri. Dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan
bahasa mereka yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya. Rm 16:17-18.
(Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).
Kesudahan mereka ialah
kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada
perkara duniawi. (Fil 3:19). (Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut
oleh penulis).
Urusan perut dan perkara duniawi itulah yang menjadi tanda dari mereka
yang palsu. Serigala yang buas yang menyamar seperti domba!
Gembala-gembala yang jahat yang
menjadi lawannya Tuhan adalah gembala-gembala yang palsu. Gembala-gembala yang
palsu itu adalah gembala-gembala upahan yang sebenarnya bukan gembala.
Sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan bukan pemilik
domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan
domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan
domba-domba itu. Yoh 10:12.
Orang-orang upahan atau
gembala-gembala yang palsu itulah yang mengajarkan doktrin kemakmuran. Mereka
tidak menyayangkan nasib domba-domba yang malang
tersebut. Mereka tidak peduli, sebaliknya mereka hanya peduli kepada domba yang
sehat untuk diperas susunya, yang berbulu tebal untuk digunting bulunya
dijadikan pakaian, dan dipilih yang tambun-tambun yang dagingnya empuk untuk
disembelih.
Makanya tidak heran, dari
contoh para pemimpin yang demikian tersebut, muncullah orang-orang yang
mengikuti jejak mereka yaitu ingin melayani, tetapi dengan motivasi hanya untuk
supaya dapat menikmati hidup makmur sekaligus dihormati banyak orang!
Pelayanan itu hanya dianggap sebagai pekerjaan atau bisnis. Bahkan
banyak yang membuka gereja seperti orang yang sedang membuka usaha bisnis. Di
kalkulasi, dihitung-hitung untung ruginya. Dengan modal sekian nanti kira-kira
bisa kembali berapa.
Karena perhitungannya antara untung dan rugi, maka tempat yang akan
dipakai gereja tersebut di survei lebih dahulu- cukup strategis atau tidak, di
situ banyak domba yang gemuk atau tidak. Pendek kata perhitungan seorang
pebisnis handal digunakan, jangan sampai meleset dan merugi! Jadi jelas, jika
tujuannya membuka gereja dengan perhitungan untung rugi, maka dapat dipastikan
mereka itu tidak akan mungkin membuka gereja di daerah pinggiran atau di
desa-desa! Bisa bangkrut, modalnya ludes! Jangankan di daerah pinggiran atau di
desa-desa, di kota
saja karena persaingan dan banyaknya gereja yang menjamur bisa membuat gereja
yang berhitung untung rugi, bisa tekor! Karena bagi gereja yang sudah besar,
apalagi yang mengajarkan doktrin kemakmuran, mereka ini biasanya lebih suka
menancapkan akarnya kuat-kuat di tengah-tengah kota. Gereja-gereja yang lain bukan dianggap
sebagai bagian dari tubuh Kristus, tetapi sebagai pesaing! Karena ini sudah
seperti bisnis, maka mereka enggan ber-investasi di daerah-daerah pinggiran,
apalagi ber-investasi di desa-desa yang masih tertinggal!
Mereka itu melayani dan menjadi pemimpin hanya untuk mengambil
kesempatan menikmati hidup makmur. Minum susu segar, berpakaian bulu domba yang
hangat, dan mengecap daging domba tambun berlemak yang lezat. Alkitab menulis,
pemimpin dengan gaya
hidup makmur itu sudah ada dan sudah terjadi sejak zaman nabi Yehezkiel. Jadi
kalau sekarang kembali muncul doktrin kemakmuran itu adalah kemunduran! Bukan
kemajuan!
Jadi jelas; ALKITAB MENJAWAB:
Doktrin Kemakmuran itu adalah; Kemunduran bukan Kemajuan!
Doktrin Kemakmuran itu adalah; Kesalahan bukan Kebenaran!
Itu sebabnya pemimpin-pemimpin
yang kesukaannya hanya untuk mengambil kesempatan menikmati hidup makmur,
dijadikan musuh oleh Tuhan! (Yeh 34:10).
Berbahagialah para gembala yang baik, berbahagialah para pemimpin yang baik,
yang melakukan tugasnya dengan bertanggung jawab menjaga, merawat, dan
memelihara domba-domba yang dipercayakan kepadanya. Seperti Petrus dan para
rasul yang lain, mereka berani menghadapi resiko apa pun untuk menggembalakan
umat Tuhan.
Petrus karena keseriusannya
untuk menggembalakan domba-domba milik Tuhan, maka Yesus pun menetapkan Petrus
untuk menghadapi situasi dengan suatu resiko yang- bahkan Petrus pun tidak
menghendakinya!
Setiap pemimpin yang baik akan mengikuti jejak Petrus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar