Selasa, 22 April 2014

BAB 5


MENEBARKAN INJIL MENJALA MANUSIA ITU MUDAH

        Untuk menggambarkan betapa mudahnya menebarkan Injil menjala manusia, maksudnya yaitu membawa jiwa yang tadinya masih belum percaya kepada Tuhan Yesus, lalu dengan cara memberitakan atau menebarkan Injil kepada orang yang sebelumnya adalah bukan orang percaya, kemudian dalam waktu singkat kurang lebih lima sampai sepuluh menit, orang tersebut mau membuka hatinya menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat pribadinya!

       Berikut ini penulis kisahkan sebagai kesaksian, hal ini bukan untuk kebanggaan apalagi untuk menyombongkan diri, kiranya hal ini dijauhkan oleh Tuhan. Tetapi tujuannya ialah untuk menggambarkan; bahwa menebarkan Injil untuk membawa jiwa kepada Tuhan Yesus itu mudah!

       Suatu hari di akhir bulan nopember 2010 kami satu tim pelayanan dalam perjalanan dari kota Surabaya menuju arah kota Kediri, di tengah perjalanan seorang teman bertanya kepada penulis: “Pak Hosea berapa banyak jiwa yang sudah anda bawa kepada Tuhan Yesus?”
       Penulis menjawab: “Berapa ya, agak sulit saya menghitungnya.”
       Kata teman tersebut: “Kira-kira saja berapa?”
       Jawab penulis: “Baiklah, begini gambarannya…”
       Belum sempat penulis melanjutkan, teman tersebut sudah menukas- katanya: “Ya berikan saja gambarannya!”
       Kemudian penulis menjelaskan: “Begini gambarannya, selama dua tahun terakhir ini, bila dihitung rata-rata setiap minggunya, minimal atau sedikitnya, Tuhan memberikan kesempatan kepada saya untuk membawa dua jiwa dari yang tadinya belum percaya, kemudian menjadi percaya menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat pribadinya.
       Dengan tidak sabar teman tersebut bertanya kembali: “Jadi berapa jumlahnya?”
       Ganti penulis yang bertanya: “Dalam satu tahun ada berapa minggu?”
       Ia menjawab: “Lima puluh dua minggu.”
       Penulis melanjutkan: “Nah jika dalam dua tahun terakhir ini dikalikan lima puluh dua dan dikalikan lagi minimal dua jiwa, coba berapa jumlahnya?”
       Jawabnya sambil bertanya: “Jadi jumlahnya sudah ratusan ya?”
       Jawab penulis: “Anda sendiri kan yang menghitung?!”

       Itu adalah kisah kesaksian dalam percakapan dengan seorang teman di akhir bulan nopember di tahun 2010 sewaktu dalam perjalanan dari kota Surabaya menuju kota Kediri yang pada waktu itu kami serombongan dengan beberapa teman lainnya.

       Namun sejak peristiwa percakapan dengan teman tersebut hingga saat ini, penulis tetap melakukan tugas dalam menebarkan Injil menjala manusia, di manapun penulis dipertemukan oleh Tuhan dengan orang-orang yang letih lesu dan berbeban berat.

       Ibarat pepatah; “Pisau semakin diasah akan semakin tajam.”

       Demikian juga dalam hal menebarkan Injil menjala manusia, semakin sering dilakukan maka akan semakin mudah membawa jiwa kepada Tuhan, bahkan jumlah yang “di jala” akan semakin bertambah besar.

       Sekali lagi, kesaksian tersebut bukan untuk kebanggaan atau untuk menyombongkan diri, tetapi justru untuk menekankan dan menyatakan bahwa menebarkan Injil menjala manusia itu mudah!

       Tetapi ada banyak orang berkata demikian: “Tapi saya tidak punya karunia untuk menebarkan atau memberitakan Injil!”

       Masalahnya bukan terletak pada punya karunia atau tidak, sebab menebarkan atau memberitakan Injil itu tidak perlu memakai karunia, karena menebarkan atau memberitakan Injil itu adalah perintah!

       Karena itu pergilah,…..Mat28:19.

       Jadi itu adalah perintah dan bukan karunia, dan perintah itu diberikan kepada setiap orang yang percaya. Masalahnya bukan pada punya karunia atau tidak punya karunia, tetapi masalahnya adalah: mau atau tidak mau!

       Namun demikian masalahnya tidak sesederhana itu, memberitakan Injil memang adalah perintah Tuhan Yesus kepada setiap orang yang percaya. Tetapi yang menjadi persoalan kebanyakan yang disebut sebagai orang percaya itu pada umumnya justru mereka itu adalah jemaat!

       Jika kemudian tugas memberitakan Injil itu ditaruh di atas pundak jemaat maka hal itu akan menjadi beban yang sangat berat bagi mereka. Jangankan jemaat, para pemimpin saja masih cukup banyak yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugas menebarkan Injil untuk menjala manusia, apalagi jemaat!

       Tetapi jika Tuhan Yesus memberi perintah tentulah dapat dipastikan bahwa perintah-Nya itu tidak sulit bahkan tidak berat.

       Rasul Yohanes sebagai salah seorang murid yang pernah diutus pergi memberitakan Injil, memberi kesaksian, bahwa bagi yang mengasihi Tuhan; Perintah-perintah-Nya itu tidak berat.

       Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat. 1 Yoh 5:3.

       Kenapa tidak berat? Tuhan Yesus adalah seorang Guru dan Pemimpin yang bijaksana. Sebelum Ia mengutus murid-murid-Nya untuk pergi memberitakan Injil, mereka lebih dulu diajar, dilatih, dipersiapkan, dan diperlengkapi dengan kuasa-Nya sehingga mereka berhasil dalam tugas pemberitaan Injil.

       Pertama, Tuhan Yesus mengutus dua belas rasul dan mereka berhasil. (Luk 9:1-6).

       Kedua, Tuhan Yesus mengutus tujuh puluh murid yang lain selain para rasul, dan mereka pun berhasil juga. (Luk 10:1-12,17-20).

       Hal itu membuktikan bahwa memberitakan atau menebarkan Injil menjala manusia itu mudah.

       Kenapa berat? Jika jemaat sebelumnya tidak diajar, tidak dilatih, tidak dipersiapkan, dan juga tidak diperlengkapi tapi kemudian disuruh bersaksi memberitakan Injil menjala manusia, maka hal itu memang sulit dan berat untuk dilakukan.

       Penulis bersyukur mendapat pengalaman bagaimana dengan cara yang  mudah dapat membawa jiwa kepada Tuhan untuk diselamatkan. Melalui berbagai pengalaman yang Tuhan berikan akhirnya bersama guru yang memuridkan penulis dan juga bersama teman-teman yang lain, kami membentuk sebuah tim pelayanan dalam bidang pemberitaan Injil dengan materi:

       “Cara yang mudah membawa jiwa kepada Tuhan.”

       Awal pelayanan ini dimulai dari gereja-gereja baik di desa-desa maupun di kota-kota di mana pintu–pintu gereja tersebut dibuka untuk kami dapat masuk dan menyampaikan materi pelatihan yaitu: Cara yang mudah membawa jiwa kepada Tuhan.

       Dan dalam materi pelatihan tersebut selain mendasari cara yang mudah tersebut dengan firman Tuhan, selebihnya banyak menggunakan contoh kesaksian baik dari Alkitab maupun dari orang-orang yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat melalui pemberitaan yang kami lakukan.

       Selain itu di sesi akhir dalam penyampaian satu tema, dilakukan sesi latihan bersama berdua-dua antar jemaat, bagaimana cara mempraktekkan bila membimbing seseorang untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat secara pribadi.

       Hasilnya jemaat dengan mudah dapat menerima pelatihan itu, dan gembala sidang setempat bersukacita karena nanti tugas menjala manusia dapat dilakukan bersama-sama dengan jemaat sebagai orang percaya.

       Materi pelatihan tersebut sudah disiapkan melalui sebuah buku dengan judul “Malaikat Sorga Bersorak Sorai” yang ditulis oleh seorang hamba Tuhan yang rendah hati yang tidak mau disebutkan namanya, yang menuliskan buku tersebut berdasarkan pengalaman pribadi bersama teman-teman yang lain.

       Ada 5 (lima) tema dasar dalam buku tersebut yang ditulis sebagai pola atau cara atau strategi; bagaimana dengan mudah membawa jiwa kepada Tuhan.

       1. Hanya Menawarkan Saja.
       2. Berseru Di Dalam Nama Tuhan Yesus.
       3. Menjangkau Dengan Cara Bersaksi.
       4. Membawa Orang Berbalik.
       5. Saat Mendoakan Injil Diberitakan.

       Dan masih ada satu bagian yang disisipkan dalam buku tersebut yaitu tentang: Pelayanan Kunjungan Dan Mendoakan Orang Sakit Di Rumah Sakit.

       Selain itu ada bagian yang tidak kalah pentingnya dari 5 (lima) tema dasar tersebut, yaitu: Pendahuluan.

       Pendahuluan yang dimaksud adalah agar setiap orang yang hendak membawa jiwa kepada Tuhan memahami “Dasar dan Tujuan” yang sesuai dengan yang diajarkan Alkitab. Tetapi pendahuluan tersebut biasanya hanya disampaikan secara lengkap di dalam acara seminar dan jadi satu sesi tersendiri, sedangkan apabila di gereja cukup ringkasnya saja mengingat waktu yang terbatas, jadi hanya sekitar lebih kurang sepuluh menit setelah itu langsung masuk pada bagian materi utama.

       Namun sebelum Tuhan membawa sampai pada acara mengadakan seminar-seminar, sebelumnya kami terus berkeliling lebih dahulu dari satu gereja ke gereja yang lain. Itu pun dalam satu kebaktian kami hanya bisa menyampaikan satu tema saja supaya jemaat dapat menangkap secara utuh dan menguasai materinya dengan baik. Dan biasanya materi tema yang disampaikan adalah tema yang pertama, yaitu: Hanya  Menawarkan Saja.

       Sebab tema Hanya Menawarkan Saja adalah tema dasar dari yang paling dasar, dari tema dasar yang lain- yang ditulis dalam buku tersebut. Maksudnya ketika kita membawa jiwa kepada Tuhan dengan menggunakan tema yang lain, tetap saja didasari dengan cara Hanya Menawarkan Saja. Hal itu mengambil contoh dari cara Tuhan Yesus sendiri ketika menawarkan anugrah keselamatan, bagaimana untuk sebuah anugrah keselamatan yang diberikan-Nya Tuhan Yesus tidak pernah memaksa kepada siapa pun juga, melainkan hanya menawarkan saja.

       Melalui cara hanya menawarkan saja, jemaat diajarkan bagaimana cara menawarkan yang baik yang sulit untuk ditolak oleh orang-orang yang ditawari, sekaligus mengajarkan rambu-rambu yang harus dijaga, agar tidak menimbulkan masalah- khususnya masalah SARA.

       Rambu-rambu yang harus dijaga dan diperhatikan disaat menawarkan:

- Tidak boleh memaksa, tidak boleh menakut-nakuti atau mengancam.
-   Jangan menyinggung, mengkritik, menjelekkan atau membanding-bandingkan kepercayaan dan agama orang lain maupun pemimpinnya.
-   Tidak boleh berdebat.
       Berdebat hanya akan menimbulkan gesekan dan merusak hubungan baik, berdebat tidak ada untungnya malah merugikan.

       Apa yang wajib dan patut dilakukan saat menawarkan:

       -Hendaklah dengan sikap ramah, lembut, sopan, sabar dan penuh kasih dalam memberikan penawaran.

       Untuk lebih jelas, di bawah ini penulis kutip materinya dengan menggunakan bahasa sehari-hari tanpa merubah isinya atas seijin dari penulis buku tersebut.

HANYA MENAWARKAN SAJA.

       Sejak awal Tuhan telah memberikan hak kebebasan untuk memilih dan menentukan kepada manusia, apakah mereka mau mendengar dan menuruti fiman-Nya atau bertindak menurut kehendaknya sendiri.

      Contoh:
  • Tuhan berfirman: “Pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat itu, janganlah kaumakan buahnya...” (Kej 2:16-17).
Tetapi Adam dan Hawa memilih melanggar firman Tuhan. (Kej 3:6).
  • Setelah mereka jatuh dalam dosa Tuhan memanggil, tetapi mereka memilih bersembunyi. (Kej 3:8-9).
  • Saat Nuh membuat bahtera, Tuhan memperingatkan manusia agar bertobat dari dosanya, ternyata hanya 8 orang yang masuk ke dalam bahtera.  (Kej 6).
Yang lain memilih tetap tinggal dalam dosanya dan  akhirnya binasa.
  • 2000 tahun yang lalu Tuhan Yesus datang ke dalam dunia untuk memberikan anugrah keselamatan hidup yang kekal melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib kepada umat manusia yang berdosa, Dia juga tidak pernah memaksa, tetapi; HANYA MENAWARKAN SAJA.
       Tuhan Yesus berkata:
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, SUPAYA setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Yoh 3:16.

Jawab Yesus:
“Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.
PERCAYAKAH ENGKAU AKAN HAL INI?” Yoh 11:25-26.
  • Bukti bahwa Tuhan Yesus tidak pernah memaksa kepada setiap orang, bahkan untuk sebuah anugrah keselamatan hidup yang kekal- dengan tetap memberikan hak kebebasan untuk memilih- dinyatakan melalui kalimat bagian akhir ini: Percayakah engkau akan hal ini? Artinya boleh percaya boleh tidak percaya.
Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya saat memberitakan Injil tidak pernah memaksa, menakut-nakuti, atau mengancam orang lain untuk bertobat menerima Kristus.

Contoh  Alkitab:
  1. Setelah Tuhan Yesus berbicara tentang “Akulah Roti Hidup” Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.
Oleh karena pernyataan Yesus bahwa yang dimaksud roti itu adalah daging-Nya, menimbulkan pertengkaran di antara orang-orang Yahudi: “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.”
Juga banyak murid-murid-Nya yang berkata: “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” (Yoh 6:51,52,60).

Maka akibat yang terjadi adalah;
Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia. Yoh 6:66.
        Bagaimana cara Tuhan Yesus menanggapi hal itu? Mari kita lihat;

       Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Yoh 6:67.

       Ketika banyak murid-murid yang lain mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia, Tuhan Yesus tidak berkata demikian kepada kedua belas rasul yang dipilih-Nya: Biarkan saja mereka pergi karena mereka tidak mengerti, tetapi kalian jangan pergi ya, bukankah kalian sudah Kupilih dan Kujadikan sebagai rasul?

       Apakah Tuhan Yesus berkata demikian? Tidak! Justru Tuhan Yesus memberi kesempatan kepada para rasul untuk memilih, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?”

       Jadi dalam memberitakan Injil keselamatan kita pun harus mencontoh seperti cara Tuhan Yesus, tidak memaksa melainkan; hanya menawarkan saja!

     2.    Filipus sebagai murid Tuhan Yesus juga mengikuti jejak Gurunya, ketika bertemu dengan sida-sida dari Ethiopia yang dalam perjalanan sedang membaca kitab nabi Yesaya tetapi tidak mengerti apa yang dimaksud dengan nubuatan di dalamnya, maka bertolak dari situ Filipus menjelaskan tentang pribadi Tuhan Yesus dan anugrah keselamatan yang diberikan-Nya. Tuhan Yesus pernah berkata: Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan. (Mrk 16:16).

       Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba disuatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: “Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?” Kis 8:36.

       Sahut Filipus: “Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.” Kis 8:37a.

       Di sini kita dapat melihat bagaimana cara Filipus menanggapi seorang yang sudah jelas-jelas percaya dan minta dibaptis. Filipus bukan serta merta menyambut: “Baiklah tuan, ayo saya baptis sekarang!” Lalu orang tersebut di tenggelamkan ke air kemudian di angkat tanda sudah dibaptis. Tidak demikian! Tetapi dengan cara yang benar Filipus menyahut: “Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.” Artinya, jika tuan tidak percaya dengan segenap hati, jangan. Jika masih bimbang, jangan. Jika masih ragu-ragu, jangan.
      
        Sehingga dengan kesadaran penuh sida-sida tersebut menjawab: “Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.” (Kis 8:37b).

       Oleh karena itu, saat kita bersaksi dan menyampaikan tentang Juruselamat dunia, yaitu Tuhan Yesus Kristus, kita; “Hanya Menawarkan Saja.”

Lima Langkah Hanya Menawarkan Saja.

       Dengan hanya menawarkan saja, kita dapat membawa orang-orang yang berdosa, yang letih lesu dan berbeban berat, untuk datang kepada Tuhan Yesus Juruselamat dunia, agar mereka menerima pertolongan dan anugrah keselamatan hidup yang kekal. (Yoh 3:16).

1.   Menawarkan dan mendoakan permasalahannya. (Mat 11:28).
2.   Beritakan kabar baik dan tawarkan anugrah keselamatan. (Kis 4:12, Rm 1:16).
3.   Bimbing berdoa menerima Kristus. (Yoh 1:12, Rm 10:10, Why3:20).
4.   Mengingatkan bahwa Tuhan Yesus menyertai sepanjang hidupnya. (Mat 28:20).
5.   Mengajar berdoa sendiri, miliki hubungan pribadi dengan Tuhan. (Rm 10:13, Yoh 15:4).

       Bagaimana cara menerapkan lima langkah tersebut di atas?

       Berikut ini caranya seperti contoh kasus melalui kesaksian di bawah ini yang sungguh pernah terjadi.

       Suatu hari di waktu pagi, istri penulis berkata bahwa ada beberapa teman dari kota Blitar sedang menuju ke Surabaya mengantar ibunya ke bandara Juanda, setelah itu hendak mampir ke rumah. Singkatnya mereka sampai di rumah kami dan karena waktu masih pagi maka kami ajak sarapan bersama. Teman kami bersama dua orang yang lain yang dalam kesempatan itu kami berkenalan, salah satu di antara mereka adalah seorang pria sedang dua lainnya wanita. Melalui perbincangan yang kami lakukan, penulis menyadari bahwa pria tersebut, ia masih belum mengenal Tuhan Yesus. Jadi sesudah sarapan penulis menawarkan untuk tinggal sebentar, tetapi mereka berkata sedang terburu-buru karena mereka masih ada urusan ke kota Malang terlebih dahulu sebelum mereka kembali ke kota Blitar.

       Lalu dengan nada ringan sedikit bercanda penulis berkata: “Tapi masih ada waktu kan- sepuluh menit saja agar nasi yang baru kita makan melorot ke perut…” Mereka tersenyum dan setuju.

       Nah bagaimana caranya dalam waktu sepuluh menit, pria tersebut bisa membuka hati menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat pribadinya?

       Penulis mengawali dengan menanyakan bagaimana keadaannya, dan ia menjawab: baik, sambil ia tersenyum. Penulis terkesan dengan wajah orang tersebut karena mukanya bulat dan suka tersenyum.

       Lalu penulis melanjutkan bertanya bagaimana dengan keadaan keluarga? Begitu penulis bertanya tentang bagaimana keadaan keluarga, tiba-tiba raut wajahnya berubah dan ia kelihatan sedang menanggung beban yang berat. Dengan nada simpatik penulis bertanya; apakah ada suatu beban yang berat yang ia rasakan?

       Kemudian dengan suara berat pria tersebut bercerita, bahwa ia mempunyai seorang anak perempuan yang sebenarnya sudah berumah tangga dan memiliki seorang anak laki-laki baru berumur dua tahun. Tapi karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain akhirnya rumah tangga mereka hancur berantakan. Lalu anak perempuan dari pria tersebut mengambil keputusan pergi bekerja ke luar negri dan meninggalkan anaknya laki-laki yaitu cucunya kepadanya dan sekarang ia asuh. Dihadapan penulis bapak tersebut kelihatan sangat sedih karena masalah yang dihadapi anak perempuannya yang menyebabkan ia juga ikut menanggung beban yang berat.
  
    Inilah yang disebut oleh Tuhan Yesus ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai yaitu orang yang letih lesu dan berbeban berat. (Yoh 4:35, Mat 11:28).

       Sekaranglah saatnya untuk menuai.

       Penulis berkata kepadanya: “Saudara jangan kuatir dan jangan takut, saya juga pernah mengalami kesulitan dan beban yang berat, tetapi ketika saya berdoa, maka Tuhan menolong saya.”

       Kemudian penulis menawarkan kepadanya: “Bolehkah saya berdoa agar Tuhan menolong masalah rumah tangga yang dihadapi anak bapak?” (langkah pertama)

       Inilah yang penulis maksudkan dengan bagaimana cara menawarkan yang baik yang sulit untuk ditolak, itu adalah kata kunci yang membuat seseorang sulit untuk menolak. Tidak mungkin bapak tersebut berkata: “Tidak usah, Tuhan tidak menolong juga tidak mengapa, biar saja kehidupan rumah tangga anak saya makin hancur…” Tetapi tentu tidak demikian, bapak tersebut segera menjawab: “Boleh”.

       Penulis kemudian berdoa singkat sesuai dengan masalah yang sedang dihadapi.

       “Tuhan Yesus tolonglah masalah rumah tangga anak perempuan dari bapak ini. Sadarkan suaminya agar segera kembali pulang kerumahnya dan pulihkan rumah tangganya. Tuhan juga memelihara, melindungi dan memberkati seluruh keluarga bapak ini. Dalam nama Tuhan Yesus amin.”

       Sampai di sini penulis ingin memberi catatan: Bila sedang mengajar dan melatih jemaat, berilah contoh doa yang singkat saja, karena perlu diingat bahwa jemaat adalah pemula yang baru belajar, bila diberi contoh doa yang panjang-panjang nanti mereka akan bingung dan bisa-bisa doanya akan berputar-putar ke mana-mana dan orang yang didoakan pun sulit untuk mengerti.

       Bila jemaat diajar dan dilatih hingga bisa mendoakan orang lain, itu sudah suatu langkah kemajuan yang sangat bagus.

       Itu tadi adalah petunjuk langkah latihan awal buat jemaat untuk bisa mendoakan orang lain.

       Melanjutkan kisah kesaksian kepada bapak yang telah penulis doakan tersebut, penulis tinggal meneruskan untuk menuai, kalau tadi menawarkan untuk mendoakan, kali ini menawarkan anugrah keselamatan. (langkah kedua):

       “Tuhan Yesus bukan saja ingin menolong dan memulihkan rumah tangga seluruh keluarga saudara, tetapi Ia juga ingin memberikan anugrah keselamatan hidup yang kekal.”

       (Di bawah ini adalah Injil yang singkat dan sederhana yang selalu disampaikan terlebih dahulu kepada jiwa-jiwa yang akan dituai, hendaknya Injil yang singkat dan sederhana ini diajarkan kepada jemaat untuk dihafalkan, karena dengan “mendengar Injil” seseorang yang tadinya belum percaya, dapat menjadi percaya)

      Tuhan Yesus mengasihi saudara, Dia rindu menolong dan memberkati kita. Bahkan oleh karena dosa manusia, Dia rela mati di atas kayu salib, menebus- menanggung dan mengampuni dosa-dosa kita, serta akibat dari dosa yaitu kematian dan kebinasaan yang kekal. Tetapi pada hari yang ketiga Dia telah bangkit dan hidup untuk selama-lamanya, karena Dia adalah Tuhan dan Juruselamat dunia ini. Sekarang Dia menawarkan: “Barangsiapa percaya kepada-Nya tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.”

       Setelah menyampaikan Injil yang singkat dan sederhana tersebut, dilanjutkan dengan kata kunci untuk menawarkan keselamatan hidup yang kekal.

       “Maukah saudara selain menerima pertolongan dari Tuhan juga menerima anugrah keselamatan hidup yang kekal?”

       Menurut anda apakah kata kunci untuk menawarkan anugrah keselamatan hidup yang kekal tersebut, mudah untuk ditolak atau sulit untuk ditolak?

       Tentu saja sulit untuk ditolak, karena kata kunci untuk menawarkan anugrah keselamatan hidup yang kekal tersebut merupakan hal yang dibutuhkan dan menguntungkan bagi setiap orang yang letih lesu dan berbeban berat, yaitu; untuk mendapat pertolongan dari Tuhan dan menerima anugrah keselamatan hidup yang kekal.

       Selain itu hal yang paling mendasar sebelum menawarkan anugrah keselamatan hidup yang kekal, hal yang paling menentukan adalah karena sebelumnya telah didahului dengan menyampaikan “Injil” yang singkat dan sederhana tadi terlebih dahulu. Itulah yang dimaksud dengan menebarkan Injil menjala “jiwa” manusia.

       Karena rahasia untuk menuai jiwa adalah dengan melibatkan kekuatan Allah melalui menebarkan Injil. Injil itulah kekuatan Allah!

       Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi,  tetapi juga orang Yunani. Rm 1:16. (Artinya, siapa saja yang percaya diselamatkan).

       Rasul Paulus menegaskan tentang Injil yang sanggup mengubahkan hati seseorang yang tadinya tidak percaya kemudian dengan cepat diubah menjadi percaya, itu semua karena ia mendengar Injil keselamatan yaitu firman Kristus!

       Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. Rm 10:17.

       Jadi setelah penulis berkata: “Maukah saudara selain menerima pertolongan dari Tuhan, juga menerima anugrah keselamatan hidup yang kekal?”
       Dengan cepat ia menjawab: “Ya saya mau!”

       Kemudian penulis membimbingnya: “Kalau begitu mari bukalah hati saudara, undanglah Yesus masuk ke dalam hatimu, menjadi Tuhan dan juruselamat pribadimu. (langkah ketiga)

       Mari kita berdoa, ikuti doa saya dengan suara yang jelas.”

        (Di sini orang yang dibimbing untuk berdoa menerima Tuhan Yesus, diajak mengikuti atau menirukan doa yang diucapkan, tujuannya agar ia mengundang Yesus masuk ke dalam hatinya dan mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan. Dasarnya dari Rm 10:10; Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Jadi “doa terima Yesus” ini juga harus diajarkan ke jemaat agar dihafalkan, lebih kurang seperti contoh doa di bawah ini, supaya nanti apabila membimbing orang- doa terima Yesus- dapat dilakukan dengan baik, dan caranya; diucapkan untuk diikuti “kalimat per kalimat”)

       Bapa di dalam sorga, aku mengaku orang berdosa, ampunilah dosaku, aku percaya dan mau membuka hati, menerima Yesus menjadi Tuhan dan Juruselamat pribadiku. Terima kasih Tuhan, atas keselamatan dan pemeliharaan-Mu, mulai hari ini sampai selama-lamanya. Di dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.

       Selesai membimbing doa terima Yesus, penulis bertanya: “Boleh saya bertanya, sekarang Tuhan Yesus ada di mana?”
       Dengan jelas dia berkata: “Ada di dalam hatiku.”

       Pria tersebut sejak awal dapat memahami dengan baik.

       Tetapi ada kalanya penulis membimbing orang- doa terima Yesus- ketika ditanya, Tuhan Yesus ada di mana,- ia menjawab- ada di mana-mana atau ada di sorga.

       Tidak mengapa, perlu kesabaran untuk menjelaskan agar dia mengerti. Biasanya penulis membenarkan, baru kemudian menjelaskan agar dia mengerti. Ya, Tuhan Yesus memang ada di mana-mana atau, Tuhan Yesus memang ada di sorga; tetapi Dia berjanji untuk menyertai setiap orang yang percaya kepada-Nya sampai selama-lamanya. Dia berkata: Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. (Why 3:20).

       Lalu penulis menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan pintu tersebut adalah pintu hati kita, jadi kalau kita membuka pintu hati dan mengundang Tuhan Yesus masuk, maka Tuhan Yesus akan masuk ke dalam hati kita.

       Tetapi jika kita mengajar jemaat tentu perlu disederhanakan, karena belum tentu jemaat menguasai ayat tersebut dan mampu mengucapkannya. Jadi cukup dengan penjelasan yang mudah saja agar dapat dipraktekkan, walaupun nanti jemaat juga akan bertumbuh kalau diajar dan dilatih terus.

       Jadi penjelasannya, ya- Tuhan Yesus memang ada di mana-mana atau, Tuhan Yesus memang ada di sorga; tetapi Dia berjanji untuk menyertai setiap orang yang percaya kepada-Nya. Bukankah tadi saya mengajak saudara untuk membuka hati mengundang Tuhan Yesus masuk, jadi kalau kita membuka hati dan mengundang Tuhan Yesus masuk, maka Tuhan Yesus akan masuk ke dalam hati kita.

       “Jadi sekarang Tuhan Yesus ada di mana?”
       Maka dia akan mengerti dan menjawab: “Ada di dalam hatiku.”
       Jika ia sudah mengerti dan menjawab: ada di dalam hatiku. Maka kita tinggal melanjutkan, hal ini seperti yang penulis lakukan setelah pria tersebut menjawab: “Ada di dalam hatiku.” Penulis segera melanjutkan:

       (Langkah keempat)“Sekarang saudara tidak sendiri lagi karena Tuhan Yesus ada di dalam hati saudara selama-lamanya. Dia lebih dekat dari baju yang saudara pakai, karena Dia ada di dalam hati saudara. Jadi di saat saudara perlu pertolongan berdoalah…..Tuhan Yesus tolong aku! Tuhan Yesus pulihkan rumah tangga anakku! Tuhan Yesus selamatkan keluargaku!”

       Lalu penulis mengajar pria tersebut agar dia berseru; berdoa sendiri dengan kalimat doa yang singkat seperti yang telah diajarkan tadi. Coba ulangi, lalu dia mengulangi (Langkah kelima):

      “Tuhan Yesus tolong aku! Tuhan Yesus pulihkan rumah tangga anakku! Tuhan Yesus selamatkan keluargaku!”

       Dia berseru; berdoa sendiri. Dan penulis meminta dia untuk mengulangi doa yang sama, sekali lagi, dan dia mengulangi.

       Kenapa penekanannya mengajarkan doa yang singkat dan agar dia belajar berdoa sendiri?

       Karena kalau diajar dengan doa yang panjang-panjang belum tentu dia bisa menirukan dan pasti lupa bagaimana cara berdoa, sebab dia baru saja menjadi orang percaya. Sedangkan dengan mengajar dia berdoa sendiri, supaya dia berurusan secara pribadi dengan Tuhan Yesus.

       Seperti Petrus ketika hendak tenggelam, ia berseru singkat: “Tuhan, tolonglah aku!” Dan Tuhan mengulurkan tangan-Nya memberi pertolongan. (Mat 14:30).

       Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Rm 10:13.

       Pemimpin yang baik tidak selalu mendoakan masalah jemaatnya, tapi mengajar jemaatnya untuk bergumul berdoa, berseru sendiri, meminta pertolongan kepada Tuhan.

       Karena terbatasnya waktu, sesaat kemudian tamu-tamu kami ini berpamitan hendak melanjutkan perjalanan ke kota Malang lalu kembali ke kota Blitar Jawa Timur.

       Penulis terharu betapa pria tersebut terlihat berbahagia karena ia sekarang memiliki jaminan kepastian hidup yang kekal setelah ia percaya kepada Tuhan Yesus dan memiliki pengharapan agar masalah rumah tangga anaknya mendapat pertolongan dari Tuhan. Sementara itu salah seorang tamu kami yang wanita, ia adalah seorang hamba Tuhan dan ikut menyaksikan bagaimana pria tersebut dalam waktu yang singkat dan dengan cara yang mudah hidupnya telah diubahkan menjadi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus.

      Akhirnya kami berpisah dan kepada hamba Tuhan wanita tersebut penulis memberikan hadiah buku “Malaikat Sorga Bersorak Sorai” agar dipelajari dan digunakan apabila bertemu dengan orang-orang yang letih lesu dan berbeban berat yang belum percaya kepada Tuhan Yesus untuk dapat segera dituai dengan mudah.

       Penulis hendak menggaris-bawahi bahwa keberhasilan dalam membawa jiwa kepada Tuhan itu bukan karena kemampuan, kecakapan, atau kefasihan dalam berbicara, sama sekali bukan!

       Tetapi karena “Injil” atau “Firman Kristus” itulah dasarnya.

       Dengan memberitakan atau menebarkan Injil maka kita sedang melibatkan kekuatan Allah untuk bekerja di dalam hati seseorang. Jika “kekuatan Allah” masuk ke dalam hati seseorang, adakah kekuatan lain yang sanggup menahan-Nya??? Injil kekuatan Allah itulah yang bekerja sehingga apa yang tidak mungkin menjadi mungkin, hati yang tadinya tidak percaya oleh karena kekuatan Allah yang tidak terbatas itulah yang secara ajaib mengubah hatinya sehingga menjadi percaya!!! (Rm 1:16, Rm 10:17).

       Ingatlah khotbah Petrus, dengan Injil sebagai kekuatan Allah membuat ribuan orang menjadi percaya kepada Yesus Kristus! (Kis 2:41, Kis 4:4).

       Di bawah ini materi untuk latihan.

       Jemaat Berlatih:

       Supaya jemaat Tuhan/orang percaya dapat dengan mudah dan cepat menguasai, maka latihan ini dibagi dalam 2 bagian:

       Latihan 1: Menawarkan pertolongan Tuhan Yesus bagi mereka yang letih lesu dan berbeban berat, dengan cara: Mendoakan.

Dua orang saling berlatih. Saling menyapa dan memberi salam.
A: “Apa kabar? Bagaimana keadaanmu sekarang?”
B: Mengeluh tentang: pekerjaan / usaha / kesehatan / keluarga. (pilih salah satu)
A: “Jangan takut dan jangan kuatir, saya juga pernah mengalami masalah dan kesusahan, tetapi Tuhan menolong saya.”
-Bolehkah saya berdoa untuk saudara? (atau)
-Bolehkah saya berdoa memohon kepada Tuhan Yesus untuk menolong saudara? (atau)
-Bolehkah kita bersama-sama berdoa minta pertolongan Tuhan Yesus? (pilih salah satu)
B: “Boleh” atau “Ya, mau!”
A: Doakan apa yang dialaminya, minta pertolongan dan mujizat Tuhan terjadi. Berkati keluarga, kesehatan, pekerjaan, atau lainnya. (Doa singkat saja, Mat 10:7-8).

      Contoh doa:
1.   Tuhan Yesus tolonglah bapak/ibu/saudara ini (bisa sebutkan nama orang yang didoakan), sembuhkan sakit penyakit yang dideritanya, kami percaya kuasa kesembuhan dari Tuhan sedang terjadi, Tuhan juga memelihara dan memberkati keluargannya, pekerjaannya…..dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.
2    Bapa di dalam sorga, kami menyerahkan bapak/ibu/saudara ini (bisa sebutkan nama orang yang didoakan) ke dalam tangan-Mu. Kami mohon belas kasihan-Mu turun atasnya dan seluruh keluarganya. Tuhan campur tangan dan bukakan jalan keluar untuk masalah dan persoalannya. Berkati mereka, terima kasih Bapa, dalam nama Tuhan Yesus kami mengucap syukur, amin.
3.   Tuhan Yesus tolonglah ibu ini, dia sangat menderita oleh karena ditinggal suaminya yang tidak bertanggung jawab. Dia harus bekerja keras menghidupi dirinya dan memelihara anak-anaknya. Tuhan Yesus tolong kembalikan suaminya, buatlah dia bertobat. Utuslah malaikatmu membawanya pulang kembali ke rumah. Terima kasih Tuhan, dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa amin.
4.   Bapa di sorga, ampunilah anak dari bapak ini yang sedang berada di penjara karena menjual dan terikat oleh sabu-sabu dan obat-obatan terlarang. Tuhan kasihanilah keluarga ini, tolonglah mereka agar terlepas dari jerat yang jahat ini. Sadarkan anaknya sehingga bertobat! Kuatkanlah dan hiburlah hati kedua orang tuanya. Terima kasih Bapa, dalam nama Tuhan Yesus, amin.

       Sebelum berpisah; sampaikan pesan: “Bapak/ibu/saudara dapat berdoa sendiri kapan saja.” (Rm 10:13, Yoh 14:14). Contoh doa yang bisa diucapkan sebagai berikut: (sesuaikan kasusnya)

-Tuhan Yesus tolong aku! Tuhan Yesus sembuhkan sakitku!
-Tuhan Yesus tolong aku! Tuhan Yesus ubahlah suamiku!
-Tuhan Yesus tolong aku! Tuhan Yesus beri aku pekerjaan!
-Tuhan Yesus tolong aku! Tuhan Yesus pulihkan keluargaku!

Latihan 2: Menawarkan pertolongan dan anugrah keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus.

Dua orang saling berlatih. Saling menyapa dan memberi salam.
A: “Apa kabar? Bagaimana keadaanmu sekarang?”
B: Mengeluh tentang: pekerjaan / usaha / kesehatan / keluarga (pilih salah satu)
A:“Jangan takut dan jangan kuatir, saya juga pernah mengalami masalah dan kesusahan, tetapi ketika saya berdoa Tuhan menolong saya.”
-“Bolehkah saya berdoa untuk saudara?” (atau)
-“Bolehkah saya berdoa memohon kepada Tuhan Yesus untuk menolong saudara?” (atau)
-“Bolehkah kita bersama-sama berdoa minta pertolongan Tuhan Yesus?”
B: “Boleh” atau “Ya, mau!”
A: Doakan sesuai apa yang dialaminya, minta pertolongan dan mujizat Tuhan terjadi. Berkati keluarga, kesehatan, pekerjaan, usaha atau lainnya. (doa singkat saja, Mat 10:7-8).

       Selanjutnya tawarkan: “Tuhan Yesus bukan saja ingin menolong saudara, tetapi Dia juga ingin memberikan anugrah keselamatan hidup yang kekal.”

       (Lalu sampaikan Injil yang singkat dan sederhana ini dengan jelas)

       “Tuhan Yesus mengasihi saudara, Dia rindu menolong dan memberkati kita, Bahkan oleh karena dosa manusia, Dia rela mati di atas kayu salib, menebus- menanggung dan mengampuni dosa-dosa kita, serta akibat dari dosa, yaitu kematian dan kebinasaan yang kekal. Tetapi pada hari yang ketiga- Dia telah bangkit dan hidup untuk selama-lamanya, karena Dia adalah Tuhan dan Juruselamat dunia ini. Sekarang Dia menawarkan: “Barangsiapa yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.”

       (Sesudah menyampaikan Injil yang singkat dan sederhana tersebut, lanjutkan- tawarkan anugrah keselamatan hidup yang kekal kepadanya)

A: “Maukah saudara selain menerima pertolongan dari Tuhan, juga menerima anugrah keselamatan hidup yang kekal?”
B: “Ya, mau!”
A: Jika saudara bersedia, mari kita berdoa, bukalah hati saudara, undanglah Yesus masuk ke dalam hatimu, menjadi Tuhan dan Juruselamat pribadimu. Mari kita berdoa, ikuti doa saya dengan suara yang jelas”

       (Kemudian bimbing dia- doa terima Yesus- dengan mengucapkan kalimat per kalimat dengan jelas agar mudah diikuti).

       “Bapa di dalam sorga, aku mengaku orang berdosa, ampunilah dosaku, aku percaya dan mau membuka hati, menerima Yesus menjadi Tuhan- dan Juruselamat pribadiku. Terima kasih Tuhan, atas keselamatan dan pemeliharaan-Mu, mulai hari ini sampai selama-lamanya. Di dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.”

B: Mengikuti doa satu kalimat per satu kalimat dengan suara jelas sampai selesai.
A: Selesai berdoa, tanyakan: “Sekarang Tuhan Yesus ada di mana?” (Sambil meletakkan tangan saudara di dada. Jika dia tidak bisa dengan jelas dan tegas menjawab, jelaskan dan ulangi- doa terima Yesus)
B: “Ada di dalam hatiku.”
A: “Sekarang Tuhan Yesus bersama dengan saudara selama-lamanya. Dia lebih dekat dari baju yang saudara pakai, karena Dia ada di dalam hati saudara. Tuhan berjanji sekali-kali tidak akan meninggalkan saudara. Di saat saudara sakit. Kuatir, gelisah, bimbang, atau takut…..Berdoalah kepada Tuhan dengan mengatakan: Tuhan Yesus tolong aku! Tuhan Yesus sembuhkan sakitku! Tuhan Yesus pulihkan keluargaku! Coba diulang…”
B: Tuhan Yesus tolong aku! Tuhan Yesus sembuhkan sakitku! Tuhan Yesus pulihkan keluargaku! (Sesuaikan kasusnya)
A: “Sampai bertemu kembali, Tuhan Yesus memberkati saudara.”
B: “Terima kasih.”

       Lalu lanjutkan di follow up: dikunjungi, didoakan, dimuridkan secara pribadi, diajak ikut pertemuan komsel atau persekutuan agar bertumbuh dan dikuatkan imannya sampai memberi diri dibaptis dan digembalakan di rumah Tuhan.

       Sekali lagi, hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat Hanya Menawarkan Saja:

  • Tidak boleh memaksa, menakut-nakuti atau mengancam.
  • Jangan menyinggung, mengkritik, menjelekkan atau membanding-bandingkan kepercayaan dan agama orang lain maupun pemimpinnya.
  • Tidak boleh berdebat.
Berdebat hanya akan menimbulkan gesekan dan merusak hubungan baik. Berdebat tidak ada untungnya malah merugikan.

       Apa yang wajib dan patut dilakukan saat menawarkan:

  • Hendaklah dengan sikap ramah, lembut, sopan, sabar, dan penuh kasih dalam memberikan penawaran.

       Kemungkinan-kemungkinan yang terjadi saat saudara menawarkan berdoa kepada seseorang.

       Setelah saudara menawarkan berdoa bagi orang-orang yang letih lesu dan berbeban berat, ada kemungkinan respon mereka sebagai berikut:

1.   Ya, aku mau! : Doakan masalahnya. Selanjutnya saudara    tawarkan bagian kedua yaitu anugrah keselamatan hidup yang kekal. Akhirnya mereka menerima kasih karunia dari Tuhan dengan sukacita. Saudara sudah berhasil menyampaikan 5 (lima)  langkah: Hanya Menawarkan Saja.
2.   Jika dia diam saja: Katakan, “Biarlah saya yang berdoa untuk saudara, memohon pertolongan dan berkat-berkat dari Tuhan, saudara hanya meng-aminkan saja!
-          Jika jawabannya: “Ya, boleh.” Segera doakan, minta pertolongan, kesembuhan, kesehatan, umur panjang, pekerjaan, keluarga diberkati oleh Tuhan Yesus.
-          Terakhir mohon anugrah keselamatan hidup yang kekal bagi dia dan seluruh keluarganya.
-          Selanjutnya Tuhan akan menggenapi doa mereka. (Mat 18:18-20).
  1. Maaf saya belum siap, saya sudah punya keyakinan sendiri.
-          Katakan dengan sikap yang ramah dan  wajah tetap tersenyum: “Baik, semoga Tuhan Yesus memberkati saudara, pekerjaan, keluarga, kesehatan, panjang umur dan menganugerahkan keselamatan hidup yang kekal. (1 Pet 3:8,9).

       Itulah cara yang sederhana bagaimana dengan mudah membawa jiwa kepada Tuhan. Jika cara hanya menawarkan saja ini diajarkan kepada jemaat, maka jemaat yang paling sederhana sekalipun akan dapat melakukan karena caranya: hanya menawarkan saja!

       Sebenarnya apakah yang hendak kita tawarkan?

       Kita sedang menawarkan hal yang paling berharga yaitu: Pribadi Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat serta anugrah keselamatan yang Dia berikan. (Yoh 3:16).

       Lalu kepada siapa kita menawarkan?

       Jawabnya: kepada setiap orang yang letih lesu dan berbeban berat. (Mat 11:28).

       Siapakah mereka yang letih lesu dan berbeban berat, dan di manakah mereka berada?!

       Sebagai catatan, kami dalam menyampaikan semua materi ini menegaskan kepada jemaat sebagai pemula, dan membatasi kepada siapa mereka harus menawarkan supaya jangan sampai kebablasan dan bisa menimbulkan masalah. Jadi untuk jemaat sebagai pemula mereka perlu diarahkan untuk menawarkan melalui tahapan yang paling mudah. Hal ini sejalan dengan tahapan seperti yang diajarkan firman Tuhan bila seseorang menjadi saksi Kristus.

       Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem…… (Kis 1:8).

       Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. Yoh 4:35.

       Jadi tahapan awal yang paling mudah untuk menawarkan kepada mereka yang letih lesu dan berbeban berat, merekalah yang dimaksud dengan ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai, yaitu dimulai dari lingkungan terdekat yakni- Yerusalem.

       Yerusalem menggambarkan lingkungan terdekat seperti keluarga, famili, sahabat, teman baik, maupun orang-orang yang akrab disekeliling kehidupan kita. Tuhan Yesus berkata: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah,- itu sama halnya dengan jangkauan pandang yang tidak jauh dari sekitar kehidupan kita.

       Jadi mari membuka mata lihatlah sekelilingmu dan pandanglah, ternyata di situ ada ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai; yaitu jiwa-jiwa!

       Jika jemaat diberdayakan dengan diajar, dilatih, dipersiapkan, dan diperlengkapi maka hasilnya akan banyak bermunculan penuai-penuai bagi ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai!

       Ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai disekeliling kehidupan jemaat, bukan pemimpin jemaat yang mengetahui, tetapi jemaat itu sendiri yang mengetahui. Apabila jemaat sudah diajar, dilatih, dipersiapkan dan diperlengkapi, maka merekalah yang akan menjadi penuai-penuainya!

       Jika sudah demikian program pertumbuhan dan pelipat-gandaan di gereja bukan lagi sekedar slogan kosong atau hanya sebatas impian, tetapi semua itu mungkin dan dapat menjadi kenyataan!

       Ada cukup banyak kesaksian dari hamba-hamba Tuhan yang telah mengikuti program seminar “Malaikat Sorga Bersorak Sorai” yang memberdayakan jemaat dan aktivisnya menjadi suatu gerakan yang saling bersinergi dalam membawa jiwa-jiwa baru yang diselamatkan dan mempercepat pertumbuhan jumlah jemaat di gereja.

       Jika jemaat sudah berhasil melalui tahapan yang paling mudah yaitu menawarkan kepada mereka yang letih lesu dan berbeban berat dari orang-orang disekeliling kehidupannya yang paling dekat yang dia kenal dengan baik, yaitu Yerusalem, maka dapat meneruskan pada tahapan berikutnya yaitu melangkah lebih jauh lagi yaitu- ke Yudea, kemudian ke Samaria, bahkan sampai ke ujung bumi. (Kis 1:8).

       Demikianlah materi cara yang mudah bagaimana cara membawa jiwa kepada Tuhan yang awalnya kami sampaikan di gereja-gereja, telah disambut dengan sukacita baik oleh jemaat maupun oleh para hamba-hamba Tuhan, sehingga kami sering diminta untuk menyelesaikan semua materi yaitu 5 (lima) tema seluruhnya.

       Sekedar sebagai gambaran, bahwa 5 (lima) tema yang ditulis dalam buku “Malaikat Sorga Bersorak Sorai.” SEMUANYA merupakan cara yang mudah bagaimana membawa jiwa kepada Tuhan. Dan masing-masing tema mempunyai cara atau strategi yang berbeda tetapi semua sama mudahnya!

       Bila sebuah gereja minta dilayani setiap minggu, maka dibutuhkan waktu 5 (lima) minggu untuk menyelesaikan. Tetapi bila minta dilayani setiap bulan maka untuk menyelesaikan dibutuhkan waktu selama 5 (lima) bulan!

       Padahal bukan hanya satu gereja yang minta dilayani, tetapi ada cukup banyak gereja yang juga minta dilayani. Tentu saja jika demikian  yang terjadi maka akan dibutuhkan waktu yang panjang dan lama untuk dapat menyebarkan materi yang sederhana ini kepada banyak jemaat Tuhan. Padahal kerinduan kami supaya cara yang mudah ini dapat dengan cepat tersebar dan dapat dikuasai oleh jemaat-jemaat Tuhan sehingga, dengan segera terjadi penuaian besar-besaran di Indonesia!

       Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar dan masih banyak yang belum diselamatkan bagaikan ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai!

       Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Luk 10:2.

       Tuhan Yesus tahu kerinduan kami, akhirnya kami dipertemukan dengan kelompok hamba-hamba Tuhan dari Garis Depan, Bamag, juga Persekutuan-persekutuan hamba-hamba Tuhan yang lain. Di mana kami diundang untuk melayani dan menyampaikan cara yang mudah tersebut. Kepada para hamba-hamba Tuhan kami menyampaikan garis besar dari lima tema tersebut dalam bentuk presentasi dan mendapat sambutan yang sungguh luar biasa.

       Rupanya apa yang kami sampaikan membuat kelompok para hamba-hamba Tuhan tersebut tertarik dan berminat untuk mendalami, sehingga kami kembali diundang untuk menyampaikan materi tersebut dengan lebih detil.

       Inilah kesempatan emas, lalu muncullah sebuah gagasan besar untuk sebuah tujuan yang sangat besar pula. Pemimpin kami yaitu guru yang memuridkan penulis menyatakan gagasannya kepada penulis: “Kita diundang kembali untuk menyampaikan materinya dengan lebih detil, bagaimana jika setelah kita diundang ini, giliran kita nanti ganti yang mengundang para hamba-hamba Tuhan tersebut?”
       “Maksudnya bagaimana?” Penulis bertanya.
       Jawabnya: “Selama ini kita yang diundang dan selalu memenuhi undangan mereka dengan datang ke tempatnya, bagaimana kalau nanti sebaliknya ganti kita yang mengundang agar mereka yang datang ke tempat kita di Surabaya.”

       Sedikit penjelasan, awalnya kami diundang oleh kelompok-kelompok hamba-hamba Tuhan di kota-kota di Jawa Timur.

       “Menarik. Tapi apa yang akan kita lakukan jika mereka benar-benar sudah datang ke Surabaya?” Tanya penulis untuk memperjelas.
  
    “Begini,- ia menjelaskan: saya berpikir agar materi yang Tuhan berikan ini dapat lebih cepat tersebar, bagaimana kalau kita membuka kelas khusus bagi para pemimpin jemaat, dan kita sampaikan detilnya kepada mereka agar mereka menguasai materinya dengan baik, dan nanti mereka sendiri yang akan mengajar kepada jemaatnya masing-masing di gerejanya sendiri-sendiri, sehingga dengan demikian semakin banyak jemaat Tuhan yang diajar, dilatih, dipersiapkan, dan diperlengkapi menjadi penjala manusia! Mengenai tempat yang akan kita pakai, puji Tuhan, ada kawan kita seorang hamba Tuhan, yang menawarkan sebuah ruko yang telah di sewa tetapi sekarang tidak di tempati, dan kita ditawari untuk menggunakannya, bagaimana menurut pendapat anda?” Jelasnya diakhiri dengan menanyakan pendapat dari penulis.

       Dengan antusias penulis menyampaikan pendapat: “Ini adalah sebuah langkah besar, jika rencana ini terlaksana maka akan menjadi suatu terobosan dan babak baru bagi percepatan pemberitaan Injil secara efektif oleh karena melibatkan hamba-hamba Tuhan yang memiliki kesadaran untuk memperlengkapi jemaatnya dengan cara yang sederhana- yaitu hanya menawarkan saja, sehingga hasilnya bisa terjadi penuaian secara besar-besaran dan pelipat-gandaan secara nyata! Saya mau terlibat dalam proyek yang besar ini!” Sambut penulis bersemangat.

       “Ya. Itulah harapan kita! Tapi kira-kira apakah para hamba-hamba Tuhan tersebut mau kita undang untuk datang ke Surabaya  mengikuti kelas pelatihan penginjilan yang kita buka?” Jawabnya juga antusias tapi diiringi tanda tanya.

       Percakapan yang kami lakukan memang mengandung sebuah harapan besar, tetapi kami harus tetap berpikir realistis karena sebenarnya kami hanyalah sekelompok orang-orang awam yang rindu bisa mengambil bagian dalam pelayanan, tetapi sebatas dalam kapasitas yang kami miliki. Sedikit latar belakang mengenai kelompok kami; kami, terdiri dari beberapa orang yang masing-masing ber-gereja di gereja yang berbeda, dan terus terang bahkan di gereja, kami masing-masing adalah sebagai anggota jemaat biasa yang tidak mempunyai jabatan apa-apa. Jadi itulah yang menjadi alasan, mengapa sebabnya untuk sebuah rencana yang besar ini masih menjadi tanda tanya bagi kami, apakah para hamba Tuhan yang akan kami undang itu mau datang atau tidak?

       Kemudian penulis berkata: “Pak, selama ini Tuhan telah turut bekerja menolong kita memulai dari awalnya, sehingga apa yang kita lakukan membawa kita sampai dipertemukan kepada kelompok para hamba-hamba Tuhan. Saya yakin jika kita terus berada dijalur-Nya maka Tuhan akan meneruskannya hingga pada akhirnya. Tentang rencana besar yang hendak kita lakukan ini apakah dapat terlaksana atau tidak, jawabannya akan kita ketahui dari para hamba-hamba Tuhan yang kita undang itu, apakah mereka mau mendaftar atau tidak sebagai peserta pelatihan.”

       Lalu kami mempersiapkan formulir pendaftaran peserta seminar yang diberi nama: “Training For Trainer” Angkatan Pertama, yang diselenggarakan di Surabaya.

       Kemudian dalam kesempatan ketika kami diundang oleh kelompok-kelompok para hamba-hamba Tuhan, setelah kami menyampaikan presentasi, maka melalui koordinator kelompok hamba-hamba Tuhan setempat tersebut, ganti kami yang mengundang mereka untuk mendaftar sebagai peserta seminar “Training For Trainer” untuk menyelesaikan 5 (lima) tema dari buku “Malaikat Sorga Bersorak Sorai” yang pelaksanaannya berlangsung selama dua hari di Surabaya.

       Dan hasilnya sungguh tidak terduga, lebih dari 130  hamba Tuhan mendaftar sebagai peserta seminar!

       Kami telah mendapat konfirmasi jawaban dari Tuhan melalui para hamba-hamba Tuhan! Sehingga hal itu semakin meneguhkan kami untuk terus melangkah dengan lebih giat lagi.

       Untuk acara seminar, sehubungan karena terbatasnya kapasitas ruangan kamar atau tempat untuk tidur yang hanya cukup menampung 15 sampai 20 orang saja, maka kami menjadwal para peserta dengan membaginya per kelompok-kelompok.

       Singkatnya, seminar “Training For Trainer” dapat kami laksanakan di Surabaya yang dalam satu minggu menyelesaikan 2 (dua) Angkatan. Hal ini dimulai dari awal yaitu Angkatan Ke 1, setelah makan siang, lalu mulai dari pukul satu siang hingga pukul sembilan malam menyelesaikan 3 (tiga) session pada hari itu (termasuk tentang Pendahuluan yang menjadi satu session di depan), tentu saja dalam jangka waktu tersebut diselingi waktu untuk coffe break plus snack, mandi, dan makan malam.

       Besoknya setelah sarapan, seminar dimulai kembali mulai pukul tujuh hingga pukul setengah satu siang, juga menyelesaikan 3 (tiga) session yang juga diselingi coffe break plus snack, lalu setelah session terakhir dan acara penutup, barulah makan siang, dan seminar Angkatan Ke 1 selesai.

       Sementara itu sebelum seminar Angkatan Ke 1 selesai, sebelumnya peserta Angkatan Ke 2 telah datang lebih dahulu, dan ada tim kami yang bertugas mengatur makan siang bagi mereka tersendiri lebih dahulu agar kemudian mereka dapat melakukan persiapan untuk mengikuti acara seminar Angkatan Ke 2, setelah Angkatan Ke 1 selesai.

       Jadi setelah makan siang bersama peserta Angkatan Ke 1, tim kami kembali melanjutkan seminar untuk Angkatan Ke 2 dengan jadwal waktu seperti yang sebelumnya.

       Berarti dalam satu minggu, selama empat hari berturut-turut kami menyelesaikan 2 (dua) Angkatan sekaligus. Cukup melelahkan tetapi kami bersyukur karena hasilnya yang membuat kami bersukacita. Hal itu dapat kami rasakan bagaimana ketika setiap kali acara seminar berakhir, sebelum acara penutup, di situ ada acara singkat khusus yaitu, kesan dan pesan dari peserta. Di situlah kami dapat melihat hasilnya melalui sambutan yang tulus dari para hamba-hamba Tuhan yang merasa diberkati dengan materi yang kami bagikan, yaitu cara yang mudah tersebut. Kami melihat dan mendengar komitmen para hamba-hamba Tuhan yang dengan tegas mau meneruskan cara yang sederhana dan mudah tersebut kepada jemaat. Puji Tuhan! Segala kemuliaan hanya bagi Yesus Kristus Tuhan kita!

       Demikianlah Angkatan demi Angkatan berjalan terus, dan sementara itu lebih banyak lagi peserta susulan yang mendaftar hendak mengikuti program tersebut karena rupanya telah mendengar cerita dari para hamba Tuhan yang telah mengikuti acara seminar “Training For Trainer”, sehingga berita mengenai hal itu dengan cepat segera tersebar. Namun demikian akhirnya kami putuskan untuk menyelesaikan program tersebut cukup sampai Angkatan Ke 8 saja di Surabaya. Bagi peserta susulan yang menyusul kemudian, kami informasikan untuk menunggu kesempatan berikutnya.

       Kenapa demikian? Karena setelah kami evaluasi, kami menganggap bahwa dari sisi waktu dan tenaga, apa yang kami lakukan masih kurang efektif dan sangat melelahkan. Kami harus menjaga kesehatan kami karena tugas ke depan masih panjang. Mengingat keberadaan kami bukan sebagai full timer, tetapi sebagai profesional dan masih ada tugas pekerjaan yang lain. Untuk menyelesaikan sampai Angkatan Ke 8 saja butuh waktu selama dua bulan, yang setiap minggunya selama empat hari dilaksanakan berturut-turut, sedang yang selama dua hari dimulai dari pagi hingga malam!

       Akhirnya ada ide baru untuk suatu terobosan dan percepatan, baik dari sisi waktu maupun hasilnya. Maka kami putuskan untuk tidak lagi mengundang para hamba-hamba Tuhan datang ke Surabaya, tetapi justru kamilah yang datang di kota, di tempat di mana para hamba-hamba Tuhan tinggal dan dapat berkumpul!

       Semenjak waktu itu mulai Angkatan Ke 9 dan seterusnya hingga saat ini acara seminar diadakan keliling dari satu daerah ke daerah yang lain, bahkan hingga ke luar pulau Jawa! Dan benar setelah kami yang datang mengadakan seminar ke tempat-tempat di mana hamba-hamba Tuhan dapat berkumpul, maka tugas ini menjadi lebih efektif dan lebih efisien karena jumlah peserta seminar tidak lagi terbatas. Seberapa banyak jumlah peserta yang ikut seminar, semuanya dapat dilangsungkan dengan sekali jalan.

       Seperti ketika melanjutkan Angkatan Ke 9 yang berlangsung di kota Krian, Jawa Timur, pesertanya sudah mencapai hampir 50 orang. Kemudian selanjutnya Angkatan Ke 10 kami sudah memasuki wilayah Jawa Tengah yaitu di El Bethel Karanganyar, dan peserta seminar sudah lebih dari seratus orang! Di Jawa Tengah selain di Karanganyar kami mengadakan seminar di beberapa kota yang lain yaitu di kota Solo, Salatiga, Temanggung, lalu kembali ke Karanganyar di Bukit Hermon, dan kota Semarang.

       Seminar berkembang dalam pelaksanaannya, bisa diadakan di gereja-gereja, atau di tempat-tempat semacam untuk retreat dengan peserta menginap di tempat acara berlangsung.

       Kami juga diundang untuk melayani seminar di sebuah gereja di kota Jakarta dan diundang di salah satu gereja di kota Bandung, lalu setelah selesai kami kembali lagi ke Jawa Timur, karena masih banyak hamba-hamba Tuhan di wilayah Jawa Timur yang masih belum mengikuti acara seminar tersebut dan meminta kami untuk melayani. Maka sebelum kami berkeliling ke daerah-daerah yang lain, kami mengadakan seminar terlebih dahulu di Jawa Timur yaitu di kota Madiun, Caruban, Sarangan- yang masih termasuk wilayah kota Madiun, Jombang, Kediri, Blitar, Lumajang, Jember, dan kota Banyuwangi, dengan diikuti peserta selain dari kota-kota tersebut juga diikuti peserta dari kota-kota yang berdekatan dari masing-masing kota tersebut.

       Tetapi kami juga membatasi, bagi peserta seminar apabila sudah pernah mengikuti seminar “Training For Trainer” maka tidak diperbolehkan mengikuti kembali, kecuali dengan membayar biaya yang ditentukan panitia, sebab acara seminar tersebut gratis tanpa dipungut biaya apa pun. Karena prioritas dan tujuan diadakannya seminar ini adalah bagi para hamba-hamba Tuhan yang belum pernah mengikuti acara seminar tersebut.

       Untuk Biaya seminar selama ini ditanggung oleh pemimpin kami, seorang yang murah hati dan diberkati Tuhan. Tetapi ada kekecualian apabila ada sebuah sinode yang meminta diadakan seminar khusus untuk sinodenya, maka biaya dan pelaksanaannya, pihak sinode tersebut yang mengatur, sedang kami hanya datang untuk menyampaikan materi dan menyediakan berkas untuk seminar termasuk buku “Malaikat Sorga Bersorak Sorai”.

       Namun demikian ada beberapa hamba Tuhan yang juga ambil bagian memberkati pelayanan kami, ketika diadakan seminar untuk hamba-hamba Tuhan, mereka menabur dengan menanggung biaya acara seminar tersebut. Bahkan ada, yang selain bukan saja menanggung biaya seminar, serta menyambut kami menyediakan penginapan di hotel, tetapi lebih dari itu masih “menaburkan berkat” yang walaupun telah ditolak dengan halus tetapi tetap memaksa memberikan- dengan alasan mau ambil bagian agar taburannya dapat dipakai dalam pelaksanaan seminar yang berikutnya yaitu untuk memberkati hamba-hamba Tuhan yang lain! Sungguh Luar biasa!

       Selanjutnya Tuhan membawa pelayanan ini berkeliling terus mengadakan seminar di beberapa daerah di luar pulau Jawa, yaitu di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatra Selatan, Sulawesi, kepulauan Riau dan tempat-tempat lainnya di Indonesia.

       Demikianlah, sebuah tim pelayanan yang terdiri dari sekelompok orang-orang awam, yang bermula dari diajar, dilatih, dipersiapkan, dan diperlengkapi, penulis dapat memberi kesaksian bahwa suatu pekerjaan yang besar dapat terjadi.

       Hal yang sama juga dapat terjadi kepada jemaat jika mereka juga diajar, dilatih, dipersiapkan, dan diperlengkapi, maka akan terjadi suatu gerakan besar dan dahsyat yang akan melanda Indonesia!

       Tanggung jawab Tuhan Yesus semasa di dunia sudah selesai ketika berhasil memuridkan murid-murid-Nya. Sekarang tanggung jawab yang sama ada di pundak para pemimpin, untuk juga hendaknya berhasil memuridkan jemaatnya!

       Jika anda yang sedang membaca buku ini, ternyata adalah salah seorang yang pernah mengikuti acara seminar “Malaikat Sorga Bersorak Sorai”, hal ini bukan kebetulan, anggap saja Tuhan sedang mengingatkan anda kembali untuk melaksanakan kewajiban tugas anda guna mengajar, melatih, mempersiapkan, dan memperlengkapi jemaat yang dipercayakan kepada anda.

       Kembali kepada kehidupan Petrus, setelah ia kehilangan visi sebagai penjala manusia, hal itu tidak mengurangi kasih Yesus kepadanya. Tuhan Yesus tetap peduli kepada Petrus dan murid-murid-Nya yang lain.

       Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka: “Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk pauk?” Jawab mereka: “Tidak ada.”
       Maka kata Yesus kepada mereka: “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.” Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan.
       Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: “Itu Tuhan.” Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. Yoh 21:4-7.

       Kehadiran Yesus di pantai danau Tiberias pada saat yang tepat, ketika Petrus dan murid-murid yang lain telah kehilangan visi dan kembali pergi menangkap ikan, Dia hadir untuk menolong mereka. Dengan perintah agar mereka menebarkan jala di sebelah kanan perahu, dan setelah mereka menebarkannya, mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan yang tertangkap masuk ke dalam jala mereka.

       Hal itu untuk mengingatkan kembali kepada peristiwa ketika mereka mendapat visi sebagai penjala manusia. Murid pertama yang mengingat hal itu adalah Yohanes yaitu murid yang dikasihi oleh Yesus, sehingga dialah orang pertama yang mengenali bahwa itu adalah Yesus dan berkata kepada Petrus: “Itu Tuhan.”

       Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau.

       Yang menarik adalah keadaan Petrus pada waktu kembali pergi menangkap ikan akibat ia kehilangan visi, yaitu dalam keadaan telanjang. Betapa memalukan!

       Semoga saja para pemimpin tidak sampai kehilangan visi sehingga jangan sampai dalam keadaan telanjang seperti Petrus.

       Untunglah Yesus hadir, dan Petrus segera sadar sehingga ia cepat mengenakan pakaiannya.

       Yesus hadir untuk meneguhkan Petrus dan murid-murid lainnya.

       Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati. Yoh 21:14.

       Itulah untuk ketiga kalinya dan yang terakhir kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya setelah kebangkitan-Nya dari antara orang mati, sebelum Dia terangkat ke sorga.

       Dan itulah juga menjadi yang terakhir kalinya bagi Petrus dan murid-murid yang lain untuk menebarkan jala menangkap ikan! Ya, itu adalah tebaran jala yang terakhir!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar