Selasa, 22 April 2014

BAB 11


KESIMPULAN / RINGKASAN


       Dari semua hal yang dapat kita pelajari tentang pribadi Petrus, mulai dari pernyatannya tentang pribadi Yesus sebagai Mesias,  Anak Allah yang hidup. Lalu kemudian oleh karena pernyataannya yang luar biasa tersebut yang menyebabkan ia diangkat dijadikan bapak gereja yang pertama, di mana di atas batu karang yaitu hidupnya; jemaat Tuhan dibangun dan alam maut tidak akan menguasainya. Lalu selanjutnya ia diberi kunci Kerajaan Sorga, apa yang diikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang dilepas di dunia ini akan terlepas di sorga.
       Tetapi kemudian berikutnya kita menyaksikan Petrus melakukan kesalahan demi kesalahan yang begitu fatal, yang bukan saja dari kesalahan demi kesalahan itu membuatnya terpuruk, tetapi juga dari kesalahan-kesalahan itu sering menyeret orang lain ikut melakukan kesalahan yang sama! (Mat 26:35, Yoh 21:3, Gal 2:13)
       Untunglah Tuhan tetap peduli kepada Petrus. Sekalipun Petrus sudah banyak berbuat kesalahan, namun Yesus dengan kesabaran-Nya tetap memproses Petrus, bahkan sebelumnya telah berdoa bagi Petrus agar imannya jangan gugur.
       Tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insyaf, kuatkanlah saudara-saudaramu. Luk 22:32.
       Proses pembentukan karakter atau pribadi Petrus, berlangsung tahap demi tahap, sampai akhirnya Petrus benar-benar siap menjadi seorang pemimpin yang baik untuk sebuah tugas yang besar. Melalui pertanyaan Yesus kepadanya yang diulang sampai tiga kali: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Dan dijawab dengan jawaban yang sama sekalipun untuk pertanyaan yang ketiga kalinya Petrus merasa sedih, karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.”
       Dan jawaban Yesus untuk ketiga kalinya, tetap sama: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
       Seperti yang telah kita lihat, Petrus sungguh-sungguh membuktikan bahwa ia mengasihi Yesus lebih dari pada yang lain. Sehingga ia rela melepaskan kehendaknya sendiri, dan menggantinya dengan mengikuti kehendak Tuhan! (Yoh 21:18-19).
       Melalui proses jemaat yang bersungut-sungut justru diubah menjadi sebuah terobosan dalam pelayanan. Dengan sikap terbuka berani mengakui kesalahannya, malah memaksimalkan dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan firman. Hasilnya firman Allah makin tersebar, jumlah murid makin bertambah banyak, juga sejumlah besar imam diselamatkan. (Kis 6:1-7).
       Melalui tegoran Paulus karena sikapnya yang munafik dengan membedakan golongan yang bersunat dan golongan yang tidak bersunat, ia terima dengan tidak membantah.
       Masih mengenai sikap yang membedakan golongan yang bersunat dan golongan yang tidak bersunat, akhirnya Tuhan meluruskan pandangannya melalui penglihatan, baik melalui penglihatan kepada Kornelius maupun melalui penglihatan yang ia terima sendiri, ia disadarkan dan mengerti bahwa Allah tidak membedakan orang dari bangsa manapun.

       Melalui berselisih pendapat dengan golongan orang-orang yang bersunat, ia dapat menjelaskan dengan baik sehingga dari berselisih pendapat berubah menjadi berdamai. Dan puncaknya, mereka memuliakan Allah, demikian juga bangsa-bangsa lain juga memuliakan Allah.
       Jadi, puncak dari perjalanan kehidupan Petrus menuju kedewasaan dan kesempurnaan berujung sampai pada puncaknya yaitu: Memuliakan Allah!!!
       Hal ini sama persis seperti teladan sang Guru yaitu Yesus. Semasa dalam hidup-Nya sebagai manusia, sebagai Anak, ujung perjalanan hidup-Nya yang sampai pada puncaknya ialah: Bagi kemuliaan Allah, Bapa!
       Dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! Fil 2:11.
       Namun sebelum sampai kepada puncaknya, yaitu- “bagi kemuliaan Allah, Bapa!” Dalam hidup-Nya sebagai manusia Yesus harus memulai segala sesuatunya dari dasar terlebih dahulu. Seperti yang dituliskan oleh Paulus di ayat sebelumnya agar kita dapat belajar mengikuti teladan-Nya.
       Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
       Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan” bagi kemuliaan Allah, Bapa! Fil 2:5-11.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar