KESIMPULAN /
RINGKASAN
Dari semua hal yang dapat kita pelajari
tentang pribadi Petrus, mulai dari pernyatannya tentang pribadi Yesus sebagai
Mesias, Anak Allah yang hidup. Lalu
kemudian oleh karena pernyataannya yang luar biasa tersebut yang menyebabkan ia
diangkat dijadikan bapak gereja yang pertama, di mana di atas batu karang yaitu
hidupnya; jemaat Tuhan dibangun dan alam maut tidak akan menguasainya. Lalu
selanjutnya ia diberi kunci Kerajaan Sorga, apa yang diikat di dunia ini akan
terikat di sorga dan apa yang dilepas di dunia ini akan terlepas di sorga.
Tetapi kemudian
berikutnya kita menyaksikan Petrus melakukan kesalahan demi kesalahan yang
begitu fatal, yang bukan saja dari kesalahan demi kesalahan itu membuatnya
terpuruk, tetapi juga dari kesalahan-kesalahan itu sering menyeret orang lain
ikut melakukan kesalahan yang sama! (Mat 26:35, Yoh 21:3, Gal 2:13)
Untunglah Tuhan
tetap peduli kepada Petrus. Sekalipun Petrus sudah banyak berbuat kesalahan,
namun Yesus dengan kesabaran-Nya tetap memproses Petrus, bahkan sebelumnya
telah berdoa bagi Petrus agar imannya jangan gugur.
Tetapi Aku telah berdoa untuk engkau,
supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insyaf, kuatkanlah
saudara-saudaramu. Luk 22:32.
Proses pembentukan karakter atau pribadi
Petrus, berlangsung tahap demi tahap, sampai akhirnya Petrus benar-benar siap
menjadi seorang pemimpin yang baik untuk sebuah tugas yang besar. Melalui
pertanyaan Yesus kepadanya yang diulang sampai tiga kali: “Simon, anak Yohanes,
apakah engkau mengasihi Aku?” Dan dijawab dengan jawaban yang sama sekalipun
untuk pertanyaan yang ketiga kalinya Petrus merasa sedih, karena Yesus berkata
untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Dan
ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa
aku mengasihi Engkau.”
Dan jawaban Yesus untuk ketiga kalinya,
tetap sama: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Seperti yang
telah kita lihat, Petrus sungguh-sungguh membuktikan bahwa ia mengasihi Yesus
lebih dari pada yang lain. Sehingga ia rela melepaskan kehendaknya sendiri, dan
menggantinya dengan mengikuti kehendak Tuhan! (Yoh 21:18-19).
Melalui proses
jemaat yang bersungut-sungut justru diubah menjadi sebuah terobosan dalam
pelayanan. Dengan sikap terbuka berani mengakui kesalahannya, malah
memaksimalkan dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan firman. Hasilnya
firman Allah makin tersebar, jumlah murid makin bertambah banyak, juga sejumlah
besar imam diselamatkan. (Kis 6:1-7).
Melalui tegoran Paulus karena sikapnya
yang munafik dengan membedakan golongan yang bersunat dan golongan yang tidak
bersunat, ia terima dengan tidak membantah.
Masih mengenai
sikap yang membedakan golongan yang bersunat dan golongan yang tidak bersunat,
akhirnya Tuhan meluruskan pandangannya melalui penglihatan, baik melalui
penglihatan kepada Kornelius maupun melalui penglihatan yang ia terima sendiri,
ia disadarkan dan mengerti bahwa Allah tidak membedakan orang dari bangsa
manapun.
Melalui berselisih pendapat dengan
golongan orang-orang yang bersunat, ia dapat menjelaskan dengan baik sehingga
dari berselisih pendapat berubah menjadi berdamai. Dan puncaknya, mereka
memuliakan Allah, demikian juga bangsa-bangsa lain juga memuliakan Allah.
Jadi, puncak
dari perjalanan kehidupan Petrus menuju kedewasaan dan kesempurnaan berujung
sampai pada puncaknya yaitu: Memuliakan Allah!!!
Hal ini sama persis seperti teladan sang
Guru yaitu Yesus. Semasa dalam hidup-Nya sebagai manusia, sebagai Anak, ujung
perjalanan hidup-Nya yang sampai pada puncaknya ialah: Bagi kemuliaan Allah,
Bapa!
Dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus
adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! Fil 2:11.
Namun sebelum
sampai kepada puncaknya, yaitu- “bagi kemuliaan Allah, Bapa!” Dalam hidup-Nya
sebagai manusia Yesus harus memulai segala sesuatunya dari dasar terlebih
dahulu. Seperti yang dituliskan oleh Paulus di ayat sebelumnya agar kita dapat
belajar mengikuti teladan-Nya.
Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang
terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak
menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan
telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan
menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah
merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan
kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut
segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan” bagi kemuliaan Allah,
Bapa! Fil 2:5-11.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar