Selasa, 22 April 2014

BAB 10


BELAJAR DARI KESALAHAN PETRUS

       Terakhir, ada satu hal, walaupun Petrus sudah penuh Roh Kudus, ia masih perlu disempurnakan, diluruskan dari prinsip hidupnya yang masih dilandasi oleh sikapnya yang tidak konsisten.

       Sikap hidupnya yang tidak konsisten atau mudah berubah tersebut, tercermin dari sikapnya yang membatasi hubungan antara golongan bersunat dengan golongan yang tidak bersunat. Hal itu terjadi ketika ia datang ke Antiokhia, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, kemudian datang kalangan Yakobus yang bersunat, lalu Petrus mengundurkan diri, sehingga Paulus menentangnya, sebab ia salah.

       Sikap yang tidak konsisten ini bisa menyebabkan kemunafikan, yang juga bisa menyeret orang lain bersikap munafik, termasuk Barnabas.

       Sebaiknya peristiwa tersebut kita baca agar dapat terlihat jelas.

       Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang terang menentangnya, sebab ia salah.
        Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat.
       Dan orang-orang Yahudi yang lain pun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka.
       Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: “Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?” Gal 2:11-14.

       Jika kita mau jujur, seperti halnya Petrus yang dalam bagian hidupnya ada hal-hal yang harus diluruskan, demikian juga kita, dalam bagian hidup kita tentu ada hal-hal yang juga harus diluruskan.

       Petrus kembali melakukan kesalahan, walaupun kelihatannya bukan karena disengaja, atau mungkin karena tidak disadarinya. Kesalahan yang dilakukannya karena ia masih mau terikat dalam keberadaannya sebagai golongan orang bersunat, walaupun ia sudah berusaha membebaskan diri dengan mau bergaul dengan golongan orang-orang yang tidak bersunat. Namun ketika datang kalangan Yakobus dari golongan orang-orang bersunat, ia takut kepada teman-temannya yang dari golongan bersunat tersebut. Kemudian ia menjauhi mereka yang dari golongan yang tidak bersunat, sehingga hal ini dipandang sebagai sikap munafik oleh Paulus. Apalagi kemudian sikap munafik itu menyeret orang-orang Yahudi yang lain, termasuk Barnabas jadi ikut melakukannya.

       Paulus melihat, kelakuan seperti itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil.

       Sikap Petrus yang tidak sesuai dengan kebenaran Injil tersebut langsung ditegor oleh Paulus. Karena bagi Paulus sikap yang membedakan golongan, adalah sikap munafik. Dan sikap munafik tidak sesuai dengan kebenaran Injil.

       Dewasa ini banyak pemimpin memiliki sikap seperti Petrus, munafik. Sebagai pemimpin mereka suka membedakan golongan yang satu dengan golongan yang lain. Sinode yang satu dengan sinode yang lain. Suku yang satu dengan suku yang lain. Pemimpin yang satu dengan pemimpin yang lain. Gereja yang satu dengan gereja yang lain. Ada gereja yang komunitasnya mulai dari pemimpin, pengurus gereja dan kebanyakan jemaatnya juga berasal dari daerah dan suku yang sama! Bahkan ada pemimpin gereja yang tidak mau mengundang pembicara di luar sinode gerejanya dengan alasan takut nanti kalau ajarannya tidak sama, tapi kalau ia sendiri diundang oleh gereja lain, mau. Selain itu banyak juga pemimpin yang gerejanya sudah menjadi besar, dan ia sendiri juga sudah merasa menjadi pemimpin besar, tidak lagi mau berkumpul dalam kelompok hamba-hamba Tuhan dari gereja-gereja kecil. Berbeda, itu intinya! Dan sikap membedakan itu adalah sikap munafik! Sikap tersebut tidak sesuai dengan kebenaran Injil!!!

       Andai, Tuhan Yesus mempunyai sikap seperti itu, membedakan golongan yang satu dengan golongan yang lain. Ia hanya peduli pada golongan dari mana Ia berasal, yaitu bangsa Israel atau orang-orang Yahudi saja. Maka, selain bangsa Israel dan orang-orang Yahudi, tidak ada satu pun suku bangsa di dunia ini yang selamat!

       Untung Tuhan Yesus tidak seperti itu. Ia adalah pribadi yang terbuka. Ia bisa menerima siapa saja dengan cara yang benar.

       Paulus mengikuti teladan Tuhan Yesus, dan ia menempatkan dirinya dalam posisi menjadikan dirinya segala-galanya bagi semua orang.

       Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.
       Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.
       Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.
       Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. 1 Kor 9:19-22.

       Paulus mempunyai alasan dalam melakukan semua itu.

       Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya. 1 Kor 9:23.

       Jika anda juga mempunyai alasan seperti Paulus, yaitu karena Injil, maka anda juga akan melakukannya. Mari kita melakukannya, supaya kita mendapat bagian dalam kemuliaan kekal memerintah bersama Tuhan Yesus. (2 Tim 2:12a).

       Selagi kita masih hidup di dalam tubuh manusiawi ini, sikap dan karakter kita, selalu perlu diperbaharui terus menerus sampai mencapai kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. (Ef 4:13).

       Atas seijin dan rencana Bapa yang sempurna, Petrus melakukan hal itu- tepat pada saat Paulus ada di situ, supaya hidupnya bisa diluruskan, didewasakan dan disempurnakan.

       Perlu ada orang yang tepat, agar hidup Petrus diluruskan dan disempurnakan. Perlu ada kejadian yang tepat, dan orang-orang yang tepat, agar hidup Petrus diluruskan dan disempurnakan.

       Sebelumnya melalui jemaat yang bersungut-sungut, hidup dan pelayanan Petrus diluruskan dan disempurnakan, sehingga hasilnya pelayanannya semakin dimaksimalkan!

       Kini, melalui kesalahannya yang membeda-bedakan golongan, Tuhan menempatkan Paulus sebagai orang yang tepat untuk meluruskan, mendewasakan dan menyempurnakan hidupnya.

       Petrus tidak menolak, sebelumnya, sebagai seorang pemimpin ia diluruskan oleh jemaatnya, sekalipun dengan cara bersungut-sungut.

       Petrus juga tidak menolak, sebagai seorang rasul senior ia ditegor dan diluruskan oleh Paulus, yuniornya.

       Tuhan rindu setiap hamba-hamba-Nya peka dalam menyikapi sesuatu. Setiap hamba-hamba Tuhan yang rindu hidupnya didewasakan dan disempurnakan, Tuhan punya berbagai cara untuk menggenapinya.

       Yakinlah, saat ini bagi anda, Tuhan menempatkan orang-orang yang tepat disekeliling hidup anda untuk mendewasakan dan menyempurnakan hidup anda. Jadilah peka, bisa saja proses tersebut melalui persungutan yang terdengar di telinga anda. Bisa juga anda ditegor secara tak terduga oleh seseorang karena telah melakukan kesalahan yang tidak anda sadari. Yang jelas Tuhan bisa berbuat apa saja dan melalui sarana apa saja yang tepat, untuk memproses hidup anda agar didewasakan dan disempurnakan. Yang penting bersikaplah dengan respon yang benar seperti Petrus. Atau bisa saja, melalui buku yang sampai di tangan anda ini, menjadi alat yang tepat bagi anda.

       Tuhan menyadarkan Petrus dalam waktu yang tepat, keadaan yang tepat, melalui orang-orang yang tepat.
       Melalui jemaat yang bersungut-sungut, Petrus disadarkan dari kesalahannya melalaikan firman Allah untuk melayani meja. Melalui tegoran Paulus, Petrus juga disadarkan dari sikapnya yang salah karena membeda-bedakan golongan yang menyebabkan ia bersikap munafik bahkan menyeret orang lain juga bersikap yang sama, menjadi munafik.

       Tuhan dapat dengan mudah membentuk karakter seseorang asal ia mau menjadi rendah hati. Petrus mau menjadi rendah hati. Itu sebabnya Tuhan dapat berbicara kepadanya dengan berbagai cara.

       Dalam kaitan untuk meluruskan sikap Petrus yang membeda-bedakan golongan, Tuhan juga berbicara kepadanya melalui penglihatan. Hal itu dapat kita lihat dalam kitab Kisah Para Rasul pasal 10 dan pasal 11.

       Tuhan tidak saja berbicara melalui penglihatan kepada Petrus, tetapi juga berbicara melalui penglihatan kepada Kornelius, tetapi untuk sebuah maksud yang sama. Dua penglihatan untuk dua orang yang berbeda, tapi untuk tujuan dan maksud yang sama yaitu bagi kemuliaan-Nya.

       Di Kaisarea ada seorang yang bernama Kornelius, seorang perwira pasukan yang disebut pasukan Italia. Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah.
       Dalam suatu penglihatan, kira-kira jam tiga petang, jelas tampak kepadanya seorang malaikat Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya: “Kornelius!” Ia menatap malaikat itu dan dengan takut berkata: “Ada apa, Tuhan?” Jawab malaikat itu: “Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau. Dan sekarang, suruhlah beberapa orang ke Yope untuk menjemput seorang yang bernama Simon dan yang disebut Petrus. Ia menumpang di rumah seorang penyamak kulit yang bernama Simon, yang tinggal di tepi laut.”
       Setelah malaikat yang berbicara kepadanya itu meninggalkan dia, dipanggilnya dua orang hambanya beserta seorang prajurit yang saleh dari orang-orang yang selalu bersama-sama dengan dia. Dan sesudah ia menjelaskan segala sesuatu kepada mereka, ia menyuruh mereka ke Yope. Kis 10:1-8.

       Tuhan berbicara kepada Kornelius melalui penglihatan agar ia menyuruh beberapa orang untuk menjemput Petrus yang tinggal di Yope, yang menumpang di rumah seorang penyamak kulit bernama Simon. Sementara orang-orang suruhan itu berjalan sudah dekat ke Yope, Petrus juga menerima penglihatan, yang berhubungan dengan penglihatan yang telah diterima oleh Kornelius.

       Sedikit menyinggung mengenai penglihatan, penglihatan yang benar yang datangnya dari Tuhan selalu ada peneguhan untuk menyatakan kebenaran dari penglihatan itu sendiri.

       Mari kita melihat, penglihatan seperti apakah yang akan diterima oleh Petrus dan pernyataan seperti apakah yang akan dinyatakan kepadanya.

       Keesokan harinya ketika ketiga orang itu berada dalam perjalanan dan sudah dekat Yope, kira-kira pukul dua belas tengah hari, naiklah Petrus ke atas rumah untuk berdoa.
       Ia merasa lapar dan ingin makan, tetapi sementara makanan disediakan, tiba-tiba rohnya diliputi kuasa illahi. Tampak olehnya langit terbuka dan turunlah suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya, yang diturunkan ke tanah. Di dalamnya terdapat pelbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar dan burung.
       Kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata: “Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!” Tetapi Petrus menjawab: “Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan tidak tahir.” Kedengaran pula untuk kedua kalinya suara yang berkata kepadanya: “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.” Hal ini terjadi sampai tiga kali dan segera sesudah itu terangkatlah benda itu ke langit.
       Petrus bertanya-tanya di dalam hatinya, apa kiranya arti penglihatan yang telah dilihatnya itu. Sementara itu telah sampai di muka pintu orang-orang yang disuruh oleh Kornelius dan yang berusaha mengetahui di mana rumah Petrus. Mereka memanggil seorang dan bertanya, apakah Simon yang disebut Petrus ada menumpang di rumah itu. Dan ketika Petrus sedang berpikir tentang penglihatan itu, berkatalah Roh: “Ada tiga orang mencari engkau. Bangunlah, turunlah ke bawah dan berangkatlah bersama-sama dengan mereka, jangan bimbang, sebab Aku yang menyuruh mereka kemari.” Kis 10:9-20.

       Penglihatan yang diterima oleh Petrus membuat ia bertanya-tanya di dalam hatinya, tetapi pernyataan Roh yang menyuruhnya berangkat bersama tiga orang suruhan Kornelius adalah suatu peneguhan, baik bagi Kornelius maupun bagi Petrus.

       Lalu turunlah Petrus ke bawah dan berkata kepada orang-orang itu: “Akulah yang kamu cari; apakah maksud kedatangan kamu?”
       Jawab mereka: “Kornelius, seorang perwira yang tulus hati dan takut akan Allah, dan yang terkenal baik di antara seluruh bangsa Yahudi, telah menerima penyataan Allah dengan perantaraan seorang malaikat kudus, supaya ia mengundang engkau ke rumahnya dan mendengar apa yang kaukatakan.” Kis 10:21-22.

       Kemudian Petrus mempersilahkan mereka untuk bermalam di situ dan esoknya ia bersama beberapa orang lainnya berangkat dari Yope menuju ke Kaisarea. Sesampainya mereka di Kaisarea, Kornelius sedang menantikan mereka dan ia telah memanggil sanak saudaranya dan sahabat-sahabatnya berkumpul. Kedatangan Petrus disambut Kornelius dengan tersungkur di depan kakinya menyembah, tapi Petrus mencegahnya: “Bangunlah, aku hanya manusia saja.” (Kis 10:23-26).

       Di dalam setelah masuk ia mendapati banyak orang berkumpul dan ia berkata kepada mereka: “Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir. Itulah sebabnya aku tidak berkeberatan ketika aku dipanggil, lalu datang kemari. Sekarang aku ingin  tahu, apa sebabnya kamu memanggil aku.” (Kis 10:27-29).

       Melalui perkataan Petrus tersebut kita dapat mengerti bahwa pada masa itu tradisi kehidupan orang-orang Yahudi sangatlah kolot. Mereka sangat tertutup dan tidak mau bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi. Petrus mengungkapkan “betapa kerasnya larangan” bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan kalangan yang non Yahudi atau masuk ke rumah mereka.

       Tetapi melalui penglihatan benda yang berbentuk kain lebar yang di dalamnya berisi pelbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar dan burung, akhirnya Petrus mengerti bahwa dihadapan Tuhan tidak ada lagi binatang yang haram, dan dihadapan Tuhan tidak ada bangsa atau orang yang najis. Itu sebabnya ia tidak keberatan ketika dipanggil, dan sesudah datang ia ingin tahu dan bertanya kepada Kornelius untuk apa ia dipanggil.

       Jawab Kornelius: “Empat hari yang lalu kira-kira pada waktu yang sama seperti sekarang, yaitu jam tiga petang, aku sedang berdoa di rumah. Tiba-tiba ada seorang berdiri di depanku, pakaiannya berkilau-kilauan dan ia berkata: “Kornelius, doamu telah didengarkan Allah dan sedekahmu telah diingatkan dihadapan-Nya. Suruhlah orang ke Yope untuk menjemput Simon yang disebut Petrus; ia sedang menumpang di rumah Simon seorang penyamak kulit, yang tinggal di tepi laut. Karena itu segera kusuruh orang kepadamu, dan dengan senang hati engkau telah datang. Sekarang kami semua hadir di sini dihadapan Allah untuk mendengarkan apa yang ditugaskan Allah kepadamu.” Kis 10:30-33.

      Jelaslah sekarang bagi Petrus bahwa Tuhan telah berbicara kepada bangsa-bangsa lain dan menunjukkan kasih-Nya tanpa membedakan kepada setiap orang.

       Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang. Kis 10:34-37. (Penekanan pada huruf dalam ayat tersebut oleh penulis).

       Seorang rasul yang besar seperti Petrus, yang telah melakukan hal-hal yang besar, membawa ribuan orang bertobat dan  percaya kepada Yesus, membuat banyak mujizat dan keajaiban, ternyata tidak serta merta dapat mengerti semua hal! Pernyataannya: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang”,- menunjukkan bahwa sebelumnya, ia belum mengerti!

       Sikap Petrus yang rendah hati dan bersahaja inilah yang menjadikan ia dipilih oleh Tuhan Yesus sebagai kepala para rasul, agar Petrus menjadi panutan dan teladan bagi rasul-rasul yang lain dan juga semua orang percaya. Sikapnya yang rendah hati menggenapi perkataan Tuhan Yesus, “Barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Luk 14:11).

       Petrus pantas untuk ditinggikan karena sikapnya yang suka merendahkan diri. Sebab jika Petrus bersikap sebagai orang penting pun itu tidak salah, karena oleh Kornelius ia diperlakukan sebagai orang penting.

       Mari kita perhatikan bagaimana sikap Kornelius dalam memperlakukan Petrus sebagai orang penting, “Sekarang kami semua hadir di sini dihadapan Allah untuk mendengarkan apa yang ditugaskan Allah kepadamu.”

       Coba anda bayangkan jika dihadapan anda berdiri seorang yang diberi tugas oleh seorang raja atau seorang presiden untuk menyampaikan sebuah pesan, bukankah orang tersebut adalah orang yang penting? Apalagi Kornelius menempatkan Petrus sebagai orang yang mendapat tugas dari Allah sendiri, betapa sangat pentingnya Petrus! Bisa saja Petrus sebagai orang penting berkata demikian: “Baiklah saudara sekalian, dengarkan apa yang ditugaskan Allah kepadaku, perhatikan baik-baik apa yang hendak kusampaikan kepadamu……” Sah-sah saja andai Petrus berkata seperti itu.

       Tapi Petrus tidak berkata seperti itu. Kornelius meminta Petrus mengatakan sesuatu seperti apa yang ditugaskan Allah kepadanya, dan ia beserta semua orang yang ada di rumahnya siap untuk mendengar. Tetapi bukannya Petrus berkata untuk menjawab kepada Kornelius, melainkan Petrus menjawab seperti ia sedang berbicara kepada dirinya sendiri. Mari kita perhatikan bagaimana Petrus berbicara, katanya:

       “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang.”

       Bukankah dalam perkataan itu, Petrus seolah-olah sedang berbicara kepada dirinya sendiri, walaupun perkataannya itu dapat didengar oleh semua orang? Petrus sedang berbicara kepada dirinya sendiri dan ia menyadari, bahwa sebelumnya ada hal-hal yang tidak ia mengerti, tetapi sekarang ia mengerti.

       Salah satu proses untuk seseorang dapat menuju kedewasaan dan kesempurnaan, adalah menyadari bahwa tidak semua hal ia mengerti!

       Jika anda melihat ada orang-orang yang merasa dirinya hebat dan mengaku telah melakukan hal-hal yang besar, dan menganggap seolah-olah dirinya telah mengerti semua hal, maka orang tersebut berhenti untuk menuju kedewasaan dan kesempurnaan!

       Setelah Petrus menyadari tentang hal yang sebelumnya tidak ia mengerti, lalu kemudian ia mengerti, selanjutnya Petrus meneruskan perkataannya; kali ini dengan jelas tertuju kepada Kornelius dan semua orang yang ada di rumah itu.

       “Kamu tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di seluruh Yudea, mulai dari Galilea, sesudah baptisan yang diberitakan oleh Yohanes, yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.
       Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu yang diperbuatnya di tanah Yudea maupun di Yerusalem; dan mereka telah membunuh Dia dan menggantung Dia pada kayu salib.
       Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan, bahwa Ia menampakkan diri, bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara orang mati.
       Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati.
       Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya.” Kis 10:37-43.

       Perkataan Petrus sebagai seorang saksi yang ditugaskan Allah, ia lakukan dengan cara yang benar. Walaupun ia diperlakukan sebagai orang penting, ia tidak berbicara tentang dirinya sendiri. Tetapi ia berbicara tentang pribadi yang lebih penting; yaitu tentang pribadi Yesus secara utuh.

       Pribadi Yesus yang diurapi Roh Kudus dan kuat kuasa. Pribadi yang sepanjang hidup-Nya berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis. Pribadi yang rela mati dibunuh dan digantung pada kayu salib. Tetapi juga Pribadi yang telah mengalahkan kuasa atas alam maut, yang dibangkitkan oleh Allah pada hari yang ketiga. Pribadi yang mengutus para rasul dan semua murid-Nya untuk bersaksi tentang Injil keselamatan. Pribadi yang ditentukan oleh Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati. Pribadi yang semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya.

       Demikianlah Petrus berbicara sesuai tugas yang diberikan Allah kepadanya, yaitu berbicara tentang pribadi Yesus secara utuh. Dan ketika Petrus telah menyampaikan semuanya itu maka terjadilah suatu peristiwa yang sangat luar biasa, Roh Kudus turun ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. Sehingga mereka semua dibaptis Roh Kudus dan berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah! Seperti ayat yang kita baca berikut ini:

       Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah.
       Lalu kata Petrus: “Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?” Lalu ia menyuruh mereka dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Kemudian mereka meminta Petrus, supaya ia tinggal beberapa hari lagi bersama-sama dengan mereka. Kis 10:44-48.

       Perubahan demi perubahan dalam kehidupan Petrus terus mengarah kepada kedewasaan dan kesempurnaan. Dan perubahan demi perubahan itu dibarengi dengan ia mendapat otoritas yang semakin besar. Melalui perkataannya yang memberitakan tentang pribadi Yesus kepada orang-orang yang mendengarnya, maka terjadi suatu transformasi kuasa, yaitu Roh Kudus turun dicurahkan, sehingga mereka seketika dibaptis dengan Roh Kudus!

       Kehidupan Petrus terus diluruskan oleh Tuhan, tetapi bukan tanpa hambatan.

       Setelah melalui penglihatan baik oleh Kornelius maupun penglihatan oleh Petrus, kemudian keduanya dipertemukan dan akhirnya Petrus disadarkan, ia mengerti bahwa Allah tidak membedakan orang. Sikapnya yang sebelumnya membedakan antara golongan bersunat dan golongan tidak bersunat, sekarang telah berubah. Lebih-lebih setelah Kornelius dan keluarganya beserta sanak saudaranya dan juga sahabat-sahabatnya, yang semuanya dari golongan tidak bersunat, telah menerima baptisan Roh Kudus dan berkata-kata dalam bahasa roh, membuat ia semakin mengerti, bahwa; setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. (Lihat kembali Kis 10:35).

       Tetapi ia masih menghadapi hambatan, yaitu berselisih pendapat dengan orang-orang dari golongan yang bersunat.

       Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia. Kata mereka: “Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka.”
       Tetapi Petrus menjelaskan segala sesuatu berturut-turut, katanya: Kis 11:2-4.

       Kemudian Petrus menjelaskan kepada mereka bagaimana ketika sedang berdoa ia melihat suatu penglihatan: suatu benda berbentuk kain lebar yang berisi segala jenis binatang berkaki empat dan binatang liar dan binatang menjalar dan burung-burung.
       Lalu terdengar suara yang menyuruhku untuk menyembelih dan memakannya, tetapi aku menolaknya. Untuk kedua kalinya suara itu berkata kepadaku: Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram! Hal itu terjadi sampai tiga kali, kemudian datanglah tiga orang yang mencariku, dan Roh berkata kepadaku agar aku pergi dengan tidak bimbang, hingga aku sampai ke Yope, untuk menyampaikan berita keselamatan kepada Kornelius dan bagi seluruh isi rumahnya. (Kis 11:5-14). *Penjelasan Petrus tersebut adalah menggunakan ungkapan bahasa bebas dari penulis.

       “Dan ketika aku masih berbicara, turunlah Roh kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita. Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus. Jadi jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?”
       Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.” Kis 11:15-18.

       Demikianlah dengan penjelasan yang baik, perselisihan antara Petrus dengan orang-orang dari golongan yang bersunat berakhir dengan perdamaian. Melalui penjelasan yang baik membuat mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah.

       Dari kesalahan Petrus yang ditegor oleh Paulus, Petrus menerima tegoran itu dengan sikap rendah hati. Dari kesalalahan Petrus, Tuhan meluruskan sehingga Petrus mengerti bahwa sikap membedakan antara golongan bersunat dan golongan tidak bersunat itu adalah sikap munafik. Dari penglihatan yang telah diterima kornelius dan juga yang telah diterimanya, akhirnya Petrus mengerti bahwa Allah tidak membedakan orang dari bangsa manapun. Dari berselisih pendapat dengan golongan orang bersunat, Petrus dapat menjelaskan dengan baik, sehingga mereka berdamai. Bahkan sampai mereka memuliakan Allah, katanya: “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.”

       Inilah gol atau tujuan dari maksud Tuhan menuntun Petrus dalam meluruskan dari segala kesalahannya, yaitu berujung bagi kemuliaan Allah! Selain menuntun Petrus kepada kebenaran, juga untuk membawa orang lain, sekalipun tadinya orang-orang tersebut berselisih pendapat dengan dia, akhirnya mereka juga “memuliakan Allah.” Dan juga “bangsa-bangsa lain” juga memuliakan Allah.

       Luar biasa bukan, cara Tuhan menuntun, meluruskan dan membentuk pribadi Petrus?

       Semua maksud Tuhan itu berujung pada sebuah tujuan yaitu: Bagi kemuliaan Allah!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar