BELAJAR DARI
KESALAHAN PETRUS
Terakhir, ada satu hal,
walaupun Petrus sudah penuh Roh Kudus, ia masih perlu disempurnakan, diluruskan
dari prinsip hidupnya yang masih dilandasi oleh sikapnya yang tidak konsisten.
Sikap hidupnya yang tidak
konsisten atau mudah berubah tersebut, tercermin dari sikapnya yang membatasi
hubungan antara golongan bersunat dengan golongan yang tidak bersunat. Hal itu
terjadi ketika ia datang ke Antiokhia, ia makan sehidangan dengan
saudara-saudara yang tidak bersunat, kemudian datang kalangan Yakobus yang
bersunat, lalu Petrus mengundurkan diri, sehingga Paulus menentangnya, sebab ia
salah.
Sikap yang tidak konsisten
ini bisa menyebabkan kemunafikan, yang juga bisa menyeret orang lain bersikap
munafik, termasuk Barnabas.
Sebaiknya peristiwa tersebut kita baca agar dapat terlihat jelas.
Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang terang
menentangnya, sebab ia salah.
Karena sebelum beberapa orang dari
kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak
bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi
mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat.
Dan orang-orang Yahudi yang lain pun turut berlaku munafik dengan dia,
sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka.
Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan
kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: “Jika
engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi,
bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk
hidup secara Yahudi?” Gal 2:11-14.
Jika kita mau jujur, seperti halnya Petrus yang dalam bagian hidupnya
ada hal-hal yang harus diluruskan, demikian juga kita, dalam bagian hidup kita
tentu ada hal-hal yang juga harus diluruskan.
Petrus kembali melakukan
kesalahan, walaupun kelihatannya bukan karena disengaja, atau mungkin karena
tidak disadarinya. Kesalahan yang dilakukannya karena ia masih mau terikat
dalam keberadaannya sebagai golongan orang bersunat, walaupun ia sudah berusaha
membebaskan diri dengan mau bergaul dengan golongan orang-orang yang tidak
bersunat. Namun ketika datang kalangan Yakobus dari golongan orang-orang bersunat,
ia takut kepada teman-temannya yang dari golongan bersunat tersebut. Kemudian
ia menjauhi mereka yang dari golongan yang tidak bersunat, sehingga hal ini
dipandang sebagai sikap munafik oleh Paulus. Apalagi kemudian sikap munafik itu
menyeret orang-orang Yahudi yang lain, termasuk Barnabas jadi ikut
melakukannya.
Paulus melihat, kelakuan
seperti itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil.
Sikap Petrus yang tidak
sesuai dengan kebenaran Injil tersebut langsung ditegor oleh Paulus. Karena bagi
Paulus sikap yang membedakan golongan, adalah sikap munafik. Dan sikap munafik
tidak sesuai dengan kebenaran Injil.
Dewasa ini banyak pemimpin memiliki sikap seperti Petrus, munafik.
Sebagai pemimpin mereka suka membedakan golongan yang satu dengan golongan yang
lain. Sinode yang satu dengan sinode yang lain. Suku yang satu dengan suku yang
lain. Pemimpin yang satu dengan pemimpin yang lain. Gereja yang satu dengan
gereja yang lain. Ada
gereja yang komunitasnya mulai dari pemimpin, pengurus gereja dan kebanyakan
jemaatnya juga berasal dari daerah dan suku yang sama! Bahkan ada pemimpin
gereja yang tidak mau mengundang pembicara di luar sinode gerejanya dengan
alasan takut nanti kalau ajarannya tidak sama, tapi kalau ia sendiri diundang
oleh gereja lain, mau. Selain itu banyak juga pemimpin yang gerejanya sudah
menjadi besar, dan ia sendiri juga sudah merasa menjadi pemimpin besar, tidak
lagi mau berkumpul dalam kelompok hamba-hamba Tuhan dari gereja-gereja kecil.
Berbeda, itu intinya! Dan sikap membedakan itu adalah sikap munafik! Sikap
tersebut tidak sesuai dengan kebenaran Injil!!!
Andai, Tuhan Yesus mempunyai
sikap seperti itu, membedakan golongan yang satu dengan golongan yang lain. Ia
hanya peduli pada golongan dari mana Ia berasal, yaitu bangsa Israel atau orang-orang Yahudi
saja. Maka, selain bangsa Israel
dan orang-orang Yahudi, tidak ada satu pun suku bangsa di dunia ini yang
selamat!
Untung Tuhan Yesus tidak seperti itu. Ia adalah pribadi yang terbuka. Ia
bisa menerima siapa saja dengan cara yang benar.
Paulus mengikuti teladan Tuhan Yesus, dan ia menempatkan dirinya dalam
posisi menjadikan dirinya segala-galanya bagi semua orang.
Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan
diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin
orang.
Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya
aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum
Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun
aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan
mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.
Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi
seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup
di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat
memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.
Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya
aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi
segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari
antara mereka. 1 Kor 9:19-22.
Paulus mempunyai alasan
dalam melakukan semua itu.
Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian
dalamnya. 1 Kor 9:23.
Jika anda juga mempunyai
alasan seperti Paulus, yaitu karena Injil, maka anda juga akan melakukannya.
Mari kita melakukannya, supaya kita mendapat bagian dalam kemuliaan kekal
memerintah bersama Tuhan Yesus. (2 Tim 2:12a).
Selagi kita masih hidup di dalam tubuh manusiawi ini, sikap dan karakter
kita, selalu perlu diperbaharui terus menerus sampai mencapai kedewasaan penuh,
dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. (Ef 4:13).
Atas seijin dan rencana Bapa yang sempurna, Petrus melakukan hal itu-
tepat pada saat Paulus ada di situ, supaya hidupnya bisa diluruskan,
didewasakan dan disempurnakan.
Perlu ada orang yang tepat,
agar hidup Petrus diluruskan dan disempurnakan. Perlu ada kejadian yang tepat,
dan orang-orang yang tepat, agar hidup Petrus diluruskan dan disempurnakan.
Sebelumnya melalui jemaat yang bersungut-sungut, hidup dan pelayanan
Petrus diluruskan dan disempurnakan, sehingga hasilnya pelayanannya semakin
dimaksimalkan!
Kini, melalui kesalahannya yang membeda-bedakan golongan, Tuhan
menempatkan Paulus sebagai orang yang tepat untuk meluruskan, mendewasakan dan
menyempurnakan hidupnya.
Petrus tidak menolak, sebelumnya, sebagai seorang pemimpin ia diluruskan
oleh jemaatnya, sekalipun dengan cara bersungut-sungut.
Petrus juga tidak menolak, sebagai seorang rasul senior ia ditegor dan
diluruskan oleh Paulus, yuniornya.
Tuhan rindu setiap hamba-hamba-Nya peka dalam menyikapi sesuatu. Setiap
hamba-hamba Tuhan yang rindu hidupnya didewasakan dan disempurnakan, Tuhan
punya berbagai cara untuk menggenapinya.
Yakinlah, saat ini bagi anda, Tuhan menempatkan orang-orang yang tepat
disekeliling hidup anda untuk mendewasakan dan menyempurnakan hidup anda.
Jadilah peka, bisa saja proses tersebut melalui persungutan yang terdengar di
telinga anda. Bisa juga anda ditegor secara tak terduga oleh seseorang karena
telah melakukan kesalahan yang tidak anda sadari. Yang jelas Tuhan bisa berbuat
apa saja dan melalui sarana apa saja yang tepat, untuk memproses hidup anda
agar didewasakan dan disempurnakan. Yang penting bersikaplah dengan respon yang
benar seperti Petrus. Atau bisa saja, melalui buku yang sampai di tangan anda
ini, menjadi alat yang tepat bagi anda.
Tuhan menyadarkan Petrus
dalam waktu yang tepat, keadaan yang tepat, melalui orang-orang yang tepat.
Melalui jemaat yang
bersungut-sungut, Petrus disadarkan dari kesalahannya melalaikan firman Allah
untuk melayani meja. Melalui tegoran Paulus, Petrus juga disadarkan dari
sikapnya yang salah karena membeda-bedakan golongan yang menyebabkan ia
bersikap munafik bahkan menyeret orang lain juga bersikap yang sama, menjadi
munafik.
Tuhan dapat dengan mudah membentuk karakter seseorang asal ia mau
menjadi rendah hati. Petrus mau menjadi rendah hati. Itu sebabnya Tuhan dapat
berbicara kepadanya dengan berbagai cara.
Dalam kaitan untuk meluruskan sikap Petrus yang membeda-bedakan
golongan, Tuhan juga berbicara kepadanya melalui penglihatan. Hal itu dapat
kita lihat dalam kitab Kisah Para Rasul pasal 10 dan pasal 11.
Tuhan tidak saja berbicara melalui penglihatan kepada Petrus, tetapi
juga berbicara melalui penglihatan kepada Kornelius, tetapi untuk sebuah maksud
yang sama. Dua penglihatan untuk dua orang yang berbeda, tapi untuk tujuan dan
maksud yang sama yaitu bagi kemuliaan-Nya.
Di Kaisarea ada seorang yang bernama Kornelius, seorang perwira pasukan
yang disebut pasukan Italia. Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah
dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada
Allah.
Dalam suatu penglihatan, kira-kira jam tiga petang, jelas tampak
kepadanya seorang malaikat Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya:
“Kornelius!” Ia menatap malaikat itu dan dengan takut berkata: “Ada apa, Tuhan?” Jawab
malaikat itu: “Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah
mengingat engkau. Dan sekarang, suruhlah beberapa orang ke Yope untuk menjemput
seorang yang bernama Simon dan yang disebut Petrus. Ia menumpang di rumah
seorang penyamak kulit yang bernama Simon, yang tinggal di tepi laut.”
Setelah malaikat yang berbicara kepadanya itu meninggalkan dia,
dipanggilnya dua orang hambanya beserta seorang prajurit yang saleh dari
orang-orang yang selalu bersama-sama dengan dia. Dan sesudah ia menjelaskan
segala sesuatu kepada mereka, ia menyuruh mereka ke Yope. Kis 10:1-8.
Tuhan berbicara kepada Kornelius melalui penglihatan agar ia menyuruh
beberapa orang untuk menjemput Petrus yang tinggal di Yope, yang menumpang di
rumah seorang penyamak kulit bernama Simon. Sementara orang-orang suruhan itu
berjalan sudah dekat ke Yope, Petrus juga
menerima penglihatan, yang berhubungan dengan penglihatan yang telah diterima
oleh Kornelius.
Sedikit menyinggung mengenai
penglihatan, penglihatan yang benar yang datangnya dari Tuhan selalu ada
peneguhan untuk menyatakan kebenaran dari penglihatan itu sendiri.
Mari kita melihat, penglihatan seperti apakah yang akan diterima oleh
Petrus dan pernyataan seperti apakah yang akan dinyatakan kepadanya.
Keesokan harinya ketika ketiga orang itu berada dalam perjalanan dan
sudah dekat Yope, kira-kira pukul dua belas tengah hari, naiklah Petrus ke atas
rumah untuk berdoa.
Ia merasa lapar dan ingin makan, tetapi sementara makanan disediakan,
tiba-tiba rohnya diliputi kuasa illahi. Tampak olehnya langit terbuka dan
turunlah suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat
sudutnya, yang diturunkan ke tanah. Di dalamnya terdapat pelbagai jenis
binatang berkaki empat, binatang menjalar dan burung.
Kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata: “Bangunlah, hai Petrus,
sembelihlah dan makanlah!” Tetapi Petrus menjawab: “Tidak, Tuhan, tidak, sebab
aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan tidak tahir.” Kedengaran pula
untuk kedua kalinya suara yang berkata kepadanya: “Apa yang dinyatakan halal
oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.” Hal ini terjadi sampai tiga
kali dan segera sesudah itu terangkatlah benda itu ke langit.
Petrus bertanya-tanya di dalam hatinya, apa kiranya arti penglihatan
yang telah dilihatnya itu. Sementara itu telah sampai di muka pintu orang-orang
yang disuruh oleh Kornelius dan yang berusaha mengetahui di mana rumah Petrus.
Mereka memanggil seorang dan bertanya, apakah Simon yang disebut Petrus ada
menumpang di rumah itu. Dan ketika Petrus sedang berpikir tentang penglihatan itu,
berkatalah Roh: “Ada
tiga orang mencari engkau. Bangunlah, turunlah ke bawah dan berangkatlah
bersama-sama dengan mereka, jangan bimbang, sebab Aku yang menyuruh mereka
kemari.” Kis 10:9-20.
Penglihatan yang diterima oleh Petrus membuat ia bertanya-tanya di dalam
hatinya, tetapi pernyataan Roh yang menyuruhnya berangkat bersama tiga orang
suruhan Kornelius adalah suatu peneguhan, baik bagi Kornelius maupun bagi
Petrus.
Lalu turunlah Petrus ke bawah dan berkata kepada orang-orang itu: “Akulah
yang kamu cari; apakah maksud kedatangan kamu?”
Jawab mereka: “Kornelius, seorang perwira yang tulus hati dan takut akan
Allah, dan yang terkenal baik di antara seluruh bangsa Yahudi, telah menerima
penyataan Allah dengan perantaraan seorang malaikat kudus, supaya ia mengundang
engkau ke rumahnya dan mendengar apa yang kaukatakan.” Kis 10:21-22.
Kemudian Petrus mempersilahkan mereka untuk bermalam di situ dan esoknya
ia bersama beberapa orang lainnya berangkat dari Yope menuju ke Kaisarea. Sesampainya
mereka di Kaisarea, Kornelius sedang menantikan mereka dan ia telah memanggil
sanak saudaranya dan sahabat-sahabatnya berkumpul. Kedatangan Petrus disambut
Kornelius dengan tersungkur di depan kakinya menyembah, tapi Petrus
mencegahnya: “Bangunlah, aku hanya manusia saja.” (Kis 10:23-26).
Di dalam setelah masuk ia mendapati banyak orang berkumpul dan ia
berkata kepada mereka: “Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi
untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka.
Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang
najis atau tidak tahir. Itulah sebabnya aku tidak berkeberatan ketika aku
dipanggil, lalu datang kemari. Sekarang aku ingin tahu, apa sebabnya kamu memanggil aku.” (Kis
10:27-29).
Melalui perkataan Petrus tersebut kita dapat mengerti bahwa pada masa
itu tradisi kehidupan orang-orang Yahudi sangatlah kolot. Mereka sangat
tertutup dan tidak mau bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi. Petrus mengungkapkan
“betapa kerasnya larangan” bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan kalangan
yang non Yahudi atau masuk ke rumah mereka.
Tetapi melalui penglihatan benda yang berbentuk kain lebar yang di
dalamnya berisi pelbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar dan
burung, akhirnya Petrus mengerti bahwa dihadapan Tuhan tidak ada lagi binatang
yang haram, dan dihadapan Tuhan tidak ada bangsa atau orang yang najis. Itu
sebabnya ia tidak keberatan ketika dipanggil, dan sesudah datang ia ingin tahu
dan bertanya kepada Kornelius untuk apa ia dipanggil.
Jawab Kornelius: “Empat hari yang lalu kira-kira pada waktu yang sama
seperti sekarang, yaitu jam tiga petang, aku sedang berdoa di rumah. Tiba-tiba
ada seorang berdiri di depanku, pakaiannya berkilau-kilauan dan ia berkata:
“Kornelius, doamu telah didengarkan Allah dan sedekahmu telah diingatkan
dihadapan-Nya. Suruhlah orang ke Yope untuk menjemput Simon yang disebut
Petrus; ia sedang menumpang di rumah Simon seorang penyamak kulit, yang tinggal
di tepi laut. Karena itu segera kusuruh orang kepadamu, dan dengan senang hati
engkau telah datang. Sekarang kami semua hadir di sini dihadapan Allah untuk
mendengarkan apa yang ditugaskan Allah kepadamu.” Kis 10:30-33.
Jelaslah sekarang bagi Petrus
bahwa Tuhan telah berbicara kepada bangsa-bangsa lain dan menunjukkan kasih-Nya
tanpa membedakan kepada setiap orang.
Lalu mulailah Petrus berbicara,
katanya: “Sesungguhnya aku telah
mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun
yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. Itulah
firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang
adalah Tuhan dari semua orang. Kis 10:34-37. (Penekanan pada huruf dalam
ayat tersebut oleh penulis).
Seorang rasul yang besar seperti Petrus, yang telah melakukan hal-hal
yang besar, membawa ribuan orang bertobat dan
percaya kepada Yesus, membuat banyak mujizat dan keajaiban, ternyata
tidak serta merta dapat mengerti semua hal! Pernyataannya: “Sesungguhnya aku telah
mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang”,- menunjukkan bahwa
sebelumnya, ia belum mengerti!
Sikap Petrus yang rendah
hati dan bersahaja inilah yang menjadikan ia dipilih oleh Tuhan Yesus sebagai
kepala para rasul, agar Petrus menjadi panutan dan teladan bagi rasul-rasul
yang lain dan juga semua orang percaya. Sikapnya yang rendah hati menggenapi
perkataan Tuhan Yesus, “Barangsiapa
merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Luk 14:11).
Petrus pantas untuk ditinggikan karena sikapnya yang suka merendahkan
diri. Sebab jika Petrus bersikap sebagai orang penting pun itu tidak salah,
karena oleh Kornelius ia diperlakukan sebagai orang penting.
Mari kita perhatikan bagaimana
sikap Kornelius dalam memperlakukan Petrus sebagai orang penting, “Sekarang kami semua hadir di sini
dihadapan Allah untuk mendengarkan apa yang ditugaskan Allah kepadamu.”
Coba anda bayangkan jika dihadapan anda berdiri seorang yang diberi
tugas oleh seorang raja atau seorang presiden untuk menyampaikan sebuah pesan,
bukankah orang tersebut adalah orang yang penting? Apalagi Kornelius
menempatkan Petrus sebagai orang yang mendapat tugas dari Allah sendiri, betapa
sangat pentingnya Petrus! Bisa saja Petrus sebagai orang penting berkata
demikian: “Baiklah saudara sekalian,
dengarkan apa yang ditugaskan Allah kepadaku, perhatikan baik-baik apa yang
hendak kusampaikan kepadamu……” Sah-sah saja andai Petrus berkata seperti
itu.
Tapi Petrus tidak berkata seperti itu. Kornelius meminta Petrus
mengatakan sesuatu seperti apa yang ditugaskan Allah kepadanya, dan ia beserta
semua orang yang ada di rumahnya siap untuk mendengar. Tetapi bukannya Petrus
berkata untuk menjawab kepada Kornelius, melainkan Petrus menjawab seperti
ia sedang berbicara kepada dirinya sendiri. Mari kita perhatikan bagaimana
Petrus berbicara, katanya:
“Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang.
Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan mengamalkan kebenaran
berkenan kepada-Nya. Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel,
yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah
Tuhan dari semua orang.”
Bukankah dalam perkataan itu, Petrus
seolah-olah sedang berbicara kepada dirinya sendiri, walaupun perkataannya itu
dapat didengar oleh semua orang? Petrus sedang berbicara kepada dirinya sendiri
dan ia menyadari, bahwa sebelumnya ada hal-hal yang tidak ia mengerti, tetapi
sekarang ia mengerti.
Salah satu proses untuk
seseorang dapat menuju kedewasaan dan kesempurnaan, adalah menyadari bahwa
tidak semua hal ia mengerti!
Jika anda melihat ada orang-orang yang merasa dirinya hebat dan mengaku
telah melakukan hal-hal yang besar, dan menganggap seolah-olah dirinya telah
mengerti semua hal, maka orang tersebut berhenti untuk menuju kedewasaan dan
kesempurnaan!
Setelah Petrus menyadari tentang hal yang sebelumnya tidak ia mengerti,
lalu kemudian ia mengerti, selanjutnya Petrus meneruskan perkataannya; kali ini
dengan jelas tertuju kepada Kornelius dan semua orang yang ada di rumah itu.
“Kamu tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di seluruh Yudea, mulai
dari Galilea, sesudah baptisan yang diberitakan oleh Yohanes, yaitu tentang
Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat
kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan
semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.
Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu yang diperbuatnya di tanah
Yudea maupun di Yerusalem; dan mereka telah membunuh Dia dan menggantung Dia
pada kayu salib.
Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah
berkenan, bahwa Ia menampakkan diri, bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada
saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang
telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara
orang mati.
Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan
bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang
hidup dan orang-orang mati.
Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya
kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya.” Kis 10:37-43.
Perkataan Petrus sebagai
seorang saksi yang ditugaskan Allah, ia lakukan dengan cara yang benar.
Walaupun ia diperlakukan sebagai orang penting, ia tidak berbicara tentang
dirinya sendiri. Tetapi ia berbicara tentang pribadi yang lebih penting; yaitu
tentang pribadi Yesus secara utuh.
Pribadi Yesus yang diurapi Roh Kudus dan kuat kuasa. Pribadi yang
sepanjang hidup-Nya berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan
semua orang yang dikuasai Iblis. Pribadi yang rela mati dibunuh dan digantung
pada kayu salib. Tetapi juga Pribadi yang telah mengalahkan kuasa atas alam
maut, yang dibangkitkan oleh Allah pada hari yang ketiga. Pribadi yang mengutus
para rasul dan semua murid-Nya untuk bersaksi tentang Injil keselamatan.
Pribadi yang ditentukan oleh Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan
orang-orang mati. Pribadi yang semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya
kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya.
Demikianlah Petrus berbicara sesuai tugas yang diberikan Allah
kepadanya, yaitu berbicara tentang pribadi Yesus secara utuh. Dan ketika Petrus
telah menyampaikan semuanya itu maka terjadilah suatu peristiwa yang sangat
luar biasa, Roh Kudus turun ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan
itu. Sehingga mereka semua dibaptis Roh Kudus dan berkata-kata dalam bahasa roh
dan memuliakan Allah! Seperti ayat yang kita baca berikut ini:
Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua
orang yang mendengarkan pemberitaan itu. Dan semua orang percaya dari golongan
bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa
karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, sebab mereka mendengar
orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah.
Lalu kata Petrus: “Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang
ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?” Lalu
ia menyuruh mereka dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Kemudian mereka meminta
Petrus, supaya ia tinggal beberapa hari lagi bersama-sama dengan mereka. Kis 10:44-48.
Perubahan demi perubahan dalam kehidupan Petrus terus mengarah kepada
kedewasaan dan kesempurnaan. Dan perubahan demi perubahan itu dibarengi dengan
ia mendapat otoritas yang semakin besar. Melalui perkataannya yang memberitakan
tentang pribadi Yesus kepada orang-orang yang mendengarnya, maka terjadi suatu
transformasi kuasa, yaitu Roh Kudus turun dicurahkan, sehingga mereka seketika
dibaptis dengan Roh Kudus!
Kehidupan Petrus terus diluruskan oleh Tuhan, tetapi bukan tanpa
hambatan.
Setelah melalui penglihatan baik
oleh Kornelius maupun penglihatan oleh Petrus, kemudian keduanya dipertemukan
dan akhirnya Petrus disadarkan, ia mengerti bahwa Allah tidak membedakan orang.
Sikapnya yang sebelumnya membedakan antara golongan bersunat dan golongan tidak
bersunat, sekarang telah berubah. Lebih-lebih setelah Kornelius dan keluarganya
beserta sanak saudaranya dan juga sahabat-sahabatnya, yang semuanya dari
golongan tidak bersunat, telah menerima baptisan Roh Kudus dan berkata-kata
dalam bahasa roh, membuat ia semakin mengerti, bahwa; setiap orang dari bangsa
manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.
(Lihat kembali Kis 10:35).
Tetapi ia masih menghadapi
hambatan, yaitu berselisih pendapat dengan orang-orang dari golongan yang
bersunat.
Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan
yang bersunat berselisih pendapat dengan dia. Kata mereka: “Engkau telah masuk
ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka.”
Tetapi Petrus menjelaskan segala sesuatu berturut-turut, katanya: Kis 11:2-4.
Kemudian Petrus menjelaskan kepada mereka bagaimana ketika sedang berdoa
ia melihat suatu penglihatan: suatu benda berbentuk kain lebar yang berisi
segala jenis binatang berkaki empat dan binatang liar dan binatang menjalar dan
burung-burung.
Lalu terdengar suara yang menyuruhku untuk menyembelih dan memakannya,
tetapi aku menolaknya. Untuk kedua kalinya suara itu berkata kepadaku: Apa yang
dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram! Hal itu terjadi
sampai tiga kali, kemudian datanglah tiga orang yang mencariku, dan Roh berkata
kepadaku agar aku pergi dengan tidak bimbang, hingga aku sampai ke Yope, untuk
menyampaikan berita keselamatan kepada Kornelius dan bagi seluruh isi rumahnya.
(Kis 11:5-14). *Penjelasan Petrus
tersebut adalah menggunakan ungkapan bahasa bebas dari penulis.
“Dan ketika aku masih berbicara, turunlah Roh kudus ke atas mereka, sama
seperti dahulu ke atas kita. Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes
membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus. Jadi jika
Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu
kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah
Dia?”
Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan
Allah, katanya: “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan
pertobatan yang memimpin kepada hidup.” Kis 11:15-18.
Demikianlah dengan
penjelasan yang baik, perselisihan antara Petrus dengan orang-orang dari
golongan yang bersunat berakhir dengan perdamaian. Melalui penjelasan yang baik
membuat mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah.
Dari kesalahan Petrus yang ditegor
oleh Paulus, Petrus menerima tegoran itu dengan sikap rendah hati. Dari
kesalalahan Petrus, Tuhan meluruskan sehingga Petrus mengerti bahwa sikap
membedakan antara golongan bersunat dan golongan tidak bersunat itu adalah
sikap munafik. Dari penglihatan yang telah diterima kornelius dan juga yang
telah diterimanya, akhirnya Petrus mengerti bahwa Allah tidak membedakan orang
dari bangsa manapun. Dari berselisih pendapat dengan golongan orang bersunat,
Petrus dapat menjelaskan dengan baik, sehingga mereka berdamai. Bahkan sampai mereka memuliakan Allah,
katanya: “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan
pertobatan yang memimpin kepada hidup.”
Inilah gol atau tujuan dari
maksud Tuhan menuntun Petrus dalam meluruskan dari segala kesalahannya, yaitu
berujung bagi kemuliaan Allah! Selain menuntun Petrus kepada kebenaran, juga
untuk membawa orang lain, sekalipun tadinya orang-orang tersebut berselisih
pendapat dengan dia, akhirnya mereka juga
“memuliakan Allah.” Dan juga “bangsa-bangsa
lain” juga memuliakan Allah.
Luar biasa bukan, cara Tuhan
menuntun, meluruskan dan membentuk pribadi Petrus?
Semua maksud Tuhan itu
berujung pada sebuah tujuan yaitu: Bagi kemuliaan Allah!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar